Cita-Cita

“Apa cita-citamu semasa kecil?” Tanya sebuah akun yang ada di salah satu sosial media.

Awalnya aku tertegun. Untuk apa sih dia tanya gitu?, batinku sinis. Dan kemudian, akun tersebut mulai memposting respon orang-orang. Aku membacanya satu persatu. Ada yang ingin menjadi polwan, ustadz, tentara, pramugari, pendekar, MacGyver, Nobita, presiden, supermodel, papa yang baik, punya restoran, ibu rumah tangga, tukang roti, balerina, detektif, insinyur, kondektur, guru, tukang balon, psikolog, diplomat, power rangers, dan masih banyak lagi. 

Saat membaca itu aku langsung sadar, betapa dulu aku sangat menjunjung tinggi cita-citaku semasa kecil, menjadi dokter. Awalnya hanya karena aku ingin menolong orang yang sakit, klise. Kemudian, karena keluargaku besarku bekerja di bidang kesehatan, omku seorang dokter, tante-tanteku, bahkan mamaku seorang perawat, aku merasa aku harus menjadi dokter. Memasuki masa remaja awal, aku masih ingin menjadi dokter, masih karena tanggung jawabku di keluarga yang selalu mengajarkanku tentang dunia medis. Namun, saat itu, mengetahui kemampuanku berbahasa inggris yang berkembang pesat, aku ingin menjadi seorang duta besar. Kenapa? Karena aku bisa keliling dunia dan berkenalan dengan orang asing. Simpel dan naif memang, tapi hanya itu yang ada di pikiranku saat itu. Apalagi, awal masa remaja awalku, aku berkenalan dengan anak-anak asing seusiaku, terimakasih kepada papaku yang bekerja di perusahaan asing.

Cita-citaku kembali diuji ketika aku masuk SMA. Aku merasa kesulitan belajar biologi dan kimia, bagaimana menjadi dokter yang baik, batinku. Jadilah aku terus mengasah kemampuan bahasa inggrisku saja, yang aku sendiri sudah merasa mentok belajar disini, tapi aku masih ingin terus belajar. Alhasil, ketika sudah kelas tiga, aku baru sadar kalau aku dan tinggal segelintiran orang saja yang tidak memikirkan kuliah. Hal itu karena, aku sudah diterima di universitas-universitas luar negri, semisal di Australia, di Malaysia, Belanda, dan Amerika. Hanya saja, jurusan yang aku pilih waktu itu adalah HI di Belanda dan Amerika. Malaysia aku memilih teknik computer, dan di Australia aku memilih komunikasi. That was so freaking random. Tapi, karena beasiswa yang aku terima nggak full, mamaku nggak mau membiayainya. Alhasil melayanglah beasiswaku, walaupun mamaku sudah sampai ditelpon berkali-kali oleh penyelenggaranya, aku pun juga begitu. Belum lagi, ada beasiswa full, untuk jurusan keperawatan di Brunei, yang diadakan oleh pemerintah Palembang. I was interested in it, of course. But, my mother said, “Jadi perawat itu nggak enak. Susah. Nggak usah aja.” And there I go, being so confused and full of hate. Tanteku nambahin lagi, “untuk apa kuliah di jurusan HI, temen tante masih nganggur tuh.” Dan “jurusan bahasa inggris? Untuk apa? Jadi guru?” So, I really want to bang my head in the wall, at that time.

Selesai sekolah, aku mengikuti teman-temanku untuk pergi ke Bandung, mengambil les tambahan untuk ujian masuk kuliah. Bisa dilihat dong, rasa malasku makin meningkat disana, aku belajar malas-malasan, nggak total. Sampai akhirnya aku sendiri yakin aku nggak mungkin bisa dapat nilai tinggi, untuk kuliah kedokteran. Aku malah memilih Psikologi sebagai cadanganku. Long story short, aku masuk Psikologi di universitas swasta, yang mahal, dan segala rupa. Awal masuk sampai akhirnya aku berada di semester akhir, keinginanku untuk menjadi duta besar masih belum hilang. Menjadi dokter pun tidak berubah, hanya berubah sedikit, menjadi dokter jiwa. Tapi aku tahu, deep down inside, aku nggak suka belajar itu semua. Nilaiku bagus, sangat memuaskan malah, beasiswaku nggak pernah lepas satu semester pun. Tapi itu semua sih nggak berarti, karena sekarang, saat ngerjain Skripsi ini, aku nggak mengerti. Semua yang diajarin ke aku selama 8 sementer kemarin rasanya sia-sia. Percuma. Aku sadar kalau aku masih tetap ingin menjadi duta besar, belajar berbagai macam bahasa dan Negara.

Is it really too late? Untuk ‘mencapai cita-cita’? Entahlah, karena kalau aku ditanya apa cita-citamu, saat ini aku akan menjawab, menjadi bahagia. That was a hardest part. It’s not about what I want to become, because, I’ve learned it; my opinion is useless against my mother, my aunts, my big families. So, I want to be happy, whatever it takes. I only want to be happy.

 

Advertisements

2 thoughts on “Cita-Cita

  1. Citacita ku sama jg ingin menjadi dokter , tapi aku bimbang , aku takut nanti aku bosan sama kuliyah ny , satu lagi nii yg bikin aku bimbang , aku takut nanti Ŏ®ªńG tua ku gak pny biaya utk kuliahin aku , aku bingung dan berfikir 2x yahh , aku gk tau tuh besok aku ♏ĄƱ jadi apa , aku bingung. . Orang tuaku menyuruh ku untuk jadi pegawai biasa aku gk ♏ĄƱ …. Yah tpi ♏ĄƱ gmana lagi ? Nasihat orang tua ku itu … Yah aku jalanin ajja , sekarang aku masuk kls 2 smp , kan sbentar lagi aku sma . Ini yg bkin aku smakin bimbang. . Tapi , nilai biologi aku biasa2 ajja aku mauu jdi dokter karna ingin menolong pasien2 yg gk pny biaya , bkan krna gelar / keddukan . Yah sgitu ajja. .. Yg mauu aku posting di web ini …

    • Hi Aulia 🙂
      Terima kasih mau baca blog ku ya, walaupun isinya gak terlalu bermutu :p
      Kalau menurutku, kamu mulai dr sekarang cari-cari beasiswa utk kuliah kedokteran. Mulai dr yg univ negri yg bagus ataupun univ swasta. Trus kamu lihat syarat-syarat apa yg harus dipenuhi. Trus kamu kuatkan satu atau beberapa hal yg saat ini kamu suka. Jadi ntar bisa berguna kedepannya 🙂 jangan lupa, diomongin juga pelan-pelan ke orang tuamu.
      Keep on fighting on your dream! Good luck 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s