Grown Up

“Maaf ya sayang, kalau aku nggak sempat ngasih kabar. Ini lagi bener-bener ngebut kerjanya.”

Aku membaca berkali-kali pesan singkat dari pacarku. Berkali-kali juga aku menghela nafas. Aku menghempaskan tubuhku ku atas tempat tidur. Seharian ini dia sama sekali tidak menghubungiku kecuali tadi pagi. Hanya mengirim pesan singkat menanyakan kabarku. Begitu kubalas, dia sama sekali tidak membalasnya. Kemudian, sore ini dia mengirim pesan lagi. Aku menggulingkan badanku ke kanan dan ke kiri. Ternyata begini rasanya pacaran jarak jauh, batinku. Aku memejamkan mata, berpikir saat aku membuka mata, dia akan ada disampingku.

“Dinda!” Seru seseorang membangunkanku.
“Din, sudah maghrib. Yuk sholat.” Lanjut suara itu.
Aku memicingkan mata, melihat siapa yang membangunkanku. Aku mencari kacamata yang sudah terlepas ketika aku tertidur tadi. Ah, Sisi rupanya. Teman satu kontrakanku, sahabat semasa SMA-ku.
“Kamu maghrib-maghrib kok tidur sih, Din. Pamali.” Katanya sambil membereskan tempat tidurku.
“Kamu baru balik kampus, Si?” Tanyaku dengan suara parau.
“Iya. Rapat BEM. Ntar lagi kan ada acara kampus.” Jawabnya sambil melepas tasnya.
“Pintu tadi aku kunci, kan?” Tanyaku memastikan.
Sisi mengangguk.
“Yuk ah, maghrib.” Ajaknya.
Sisi berjalan keluar kamarku menuju kamar mandi. Aku melihat handphoneku, tidak ada sama sekali pesan singkat atau apapun. Aku menggerutu pelan. Sisi sudah masuk ke kamarku lagi. Dengan gerakan kepalanya, dia menyuruhku untuk bangkit dan segera mengambil wudhu. Aku menaruh handphoneku dan bangkit berdiri menuju kamar mandi.

Selesai sholat maghrib, aku segera mandi agar lebih segar. Sisi mengetuk pintu kamarku ketika aku selesai berpakaian.
“Kenapa, Si?” Tanyaku.
Sisi membuka pintu kamar, kulihat dia sudah siap untuk pergi.
“Mau makan malam apa, Din?” Tanyanya.
Aku mengangkat bahu dan berjalan menuju meja belajarku, menyalakan laptopku.
“Nggak laper.” Jawabku.
“Yah, kamu diet? Ngapain juga badan udah bagus gitu.” Kata Sisi yang kemudian mengerucutkan bibirnya.
“Dih apaan. Nggak. Beneran. Aku nggak kepikiran makan, Si. Deadline udah dekat, nih.” Sangkalku.
“Tumben handphone ditinggal aja di atas tempat tidur. Marahan sama si abang?” Singgungnya.
Bencana memang punya sahabat tinggal serumah.
“Kamu mau pergi sama Aldi?” Elakku.
Sisi menghela nafas.
“Jangan berusaha mengalihkan perhatian, Din. Kamu mah, kalau marahan suka nggak inget diri. Nanti malah sakit, payah lah.” Sisi menolak menjawab pertanyaanku.
Giliranku yang menghela nafas. Aku menatap layar kosong di laptopku.
“Nggak marah, Si. Bima lagi sibuk kerja, aku saja yang bete karena nggak ada kabar dari dia.” Terangku.
“Nah, itu kamu tahu, Bang Bima sibuk. Kenapa mesti bete?” Ucap Sisi.
“Ah. Ya gimana sih, Si. Aku kan insecure orangnya. Belum lagi kalau nggak ada kuliah kayak hari ini. Kerasa banget, Si. LDR beneran menyebalkan, ya.” Ambekku.
Aku mengetik sebuah situs sosial media di laptopku.
“Kamu mah habis pulang kampung kemarin sebulan, habis ketemu Bang Bima, langsung deh galau gini. Apaan. Udah setahun lebih loh kamu LDR. Masa iya mau ngelupain semuanya.” Kata Sisi bijak.
“Ya nggak lah, Si. Ah, aku kan cuma pengennya kalo Bima kasih kabar kek tiap dia lagi senggang, lagi istirahat. Masa iya sibuk banget sampe nggak istirahat. Kan pasti ada istirahat makan sama sholat. Ini mana, nggak ada kabar selain tadi pagi sama tadi siang. Giliran dibales, malah nggak ada kabar lagi. Nyebelin kan?” Ucapku minta dukungan.
Aku memasukkan username dan password di salah satu sosial media. Sisi bangkit dari duduknya di atas tempat tidur dan berjalan ke arahku.
“Tapi, tetap kamu jangan lupa makan, Din. Aku pergi beli makan ya. Deadline loh, Din, bukan Twitter.” Ejeknya sambil menaruh handphoneku di atas meja belajar.
“Oh, aku nggak pergi sama Aldi. Dia ada futsal.” Ucap Sisi menjawab pertanyaanku yang tadi.
Aku kembali mencurahkan perhatianku pada laptop. Aku membuka folder yang harus kukerjakan, kulirik sebentar handphoneku, masih tidak ada tanda-tandanya Bima akan memberikan kabar. Aku memanyunkan bibirku dan mulai mengerjakan tugasku.

Kudengar suara pintu rumah terbuka, dan suara Sisi mengucapkan salam. Aku menyimpan tugasku tepat ketika Sisi membuka pintu kamarku.
“Yuk makan.” Ajaknya.
Aku mengangguk dan meninggalkan laptopku menyala.
“Makan apa?” Tanyaku duduk di depan televisi, menunggu Sisi mengambil piring dan sendok.
“Nasi goreng. Niatnya sih biar nggak nunggu lama, eh, malah sama aja sama warung penyetan.” Gerutu Sisi.
Aku menyalakan televisi, mengganti-ganti saluran televisi, mencari yang paling menarik. Beberapa stasiun televisi sibuk memeragakan goyang yang membuat mereka semakin heboh dan terkenal. Aku menghela nafas. Aku menghentikan jariku yang menekan remot televisi pada saluran yang ada pertandingan bola.
“Din… Yang lain ah.” Ucap Sisi yang berjalan menuju arahku.
“Apaan? Nggak ada yang bagus, Si.” Kataku.
“Yang lucu deh. Nggak ngerti aku kalau bola.” Katanya.
Aku mengganti saluran tadi dengan saluran kesukaan Sisi. Lawak. Sisi membuka bungkus nasi gorengnya dan menaruhnya dipiring. Aku berjalan ke dapur, mengambil air minum.
“Sudah selesai berapa bab, Din?” Tanyanya.
“Baru dua. Pusing.” Jawabku.
“Ah, kamu, giliran twitteran atau tumblring, lancar sampe tengah malam.” Sindirnya.
Aku berjalan ke arah Sisi dan mencibirnya.
“Berisik ah kamu.” Kataku.
Kami menikmati nasi goreng yang terkenal di kota kami menempuh ilmu ini. Sisi yang nggak tahan pedas berkali-kali meneguk minumnya.
“Nggak minta yang sedang aja, Si?” Tanyaku sebelum menyendokkan sendokku ke dalam mulut.
“Ini sedang banget, Din!” Ucapnya kesel.
“Lagian, orang Padang nggak doyan pedes…” Sindirku. Sisi memelototiku.
“Jangan suka menggeneralisir ah, Din. Kamu juga nggak suka kan kalau dinilai orang lain.” Ucap Sisi.
Aku hanya tersenyum dan mengangkat bahu. Kami menghabiskan nasi goreng diiringi dengan acara lawak kesukaan Sisi. Begitu kami selesai makan, Sisi membereskan piring kami. Aku masih bersantai di depan televisi ketika ponselku berdering. Bima. Aku senang, namun aku juga tetap harus terlihat biasa saja.
“Hai.” Sapaku.
“Hei. Lagi apa?” Tanyanya.
“Selesai makan.” Jawabku singkat.
Bibirku bergerak membentuk senyuman, ah aku rindu suaranya.
“Maaf ya baru bisa menghubungimu. Seharian ini tidak ada waktu untuk menghubungimu. Ini saja, aku masih di kantor.” Jelas Bima merasa bersalah.
Aku melihat jam dinding, sudah pukul 10.
“Kamu tidur di kantor memangnya?” Sindirku.
Terdengar suara tawa kecil dari seberang telepon.
“Sebentar lagi selesai. Bu direktur masih mengecek kerjaanku. Makan apa?” Ucapnya.
“Akrab ya sama bu direktur…” Sindirku lagi.
Suara tawanya semakin nyaring.
“Jangan cemburu, Din. Ah, aku akan meneleponmu lagi ketika sudah sampai di rumah. Oke? Don’t get sick.” Kata Bima mengakhiri pembicaraan.
Aku hanya tersenyum dan mematikan teleponku.
“Abang Bima nelpon?” Tanya Sisi.
Aku terseyum senang.
See, don’t be sad just because he’s not with you. Believe that he always remembers you.” Nasihat Sisi.
Aku tersenyum dan membuka akun sosial mediaku. Kemudian aku melihat satu kalimat yang membuatku tersenyum malu.
“@falla_adinda: Makin dewasa yg harus dingertiin bukan lagi dia cuek dan jarang ngabarin, tapi profesi dia yang menyita waktu.”
Ah, aku harus menjadi dewasa. Untuk Bima dan juga untuk diriku. Aku menyandarkan kepalaku di bahu Sisi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s