Greifswald (part 2)

Aku mengayuh sepedaku dengan cepat. Walaupun udara sangat dingin, tapi aku tidak peduli. Aku hanya ingin lupa. Lupa dengan apa yang kulihat barusan. Jonathan dan Alla. Aku mengutuk diriku sendiri, mengapa aku harus mampir dan berbelanja di mini market di dekat apartemen Ari, sih. Dan mengapa juga Tuhan membiarkanku bertemu dengan mereka. Menyebalkan. Semakin aku mengingatnya, semakin cepat aku melaju. Berkali-kali aku membunyikan bel sepedaku agar beberapa pejalan kaki yang melewati jalan sepeda menyingkir. Berkali-kali juga aku mengucapkan “Entschuldigung6 kepada mereka yang hampir tersenggol sepedaku. Kalau begini terus aku bisa-bisa disusul oleh polisi, batinku. Ketika berada di perempatan, aku turun dari sepedak dan menetralkan nafasku sejenak sebelum menekan tombol untuk menyeberang. Padahal cuaca dingin begini, aku sampai berkeringat karena mengebut tadi. Aku harus menempuh lima belas menit lagi untuk sampai di apartemenku. Kalau ada waktu libur aku akan ke Berlin, mengurus tentang apartemen. Terlalu jauh untuk sampai ke kampus, membuang waktuku saja. Seorang pejalan kaki menekan tombol menyebrang, aku memutuskan untuk menuntun sepedaku saja, menikmati pemandangan dan menyegarkan pikiranku.

Sesampainya di apartemenku, aku membuka pintu utama dan kemudan memasukkan sepedaku. Kutuntun ke belakang, tempat penyimpanan barang-barang, semacam gudang penyimpanan yang terdiri dari sel-sel yang terbuat dari kayu. Aku menaruh sepedaku di selku dan menguncinya lagi. Akhirnya sampai juga. Aku mengunci pintu penyimpanan dan melangkahkan kaki menuju tangga. Masih panjang, perjalananku. Tidak ada lift, dan aku berada di lantai paling atas, lantai 5. Lumayan. Kalau sudah musim panas, aku yang tidak kuat. Beberapa tetangga apartemenku keluar dan menyapaku. Setelah sampai di lantai paling atas, aku menuju apartemenku yang paling pojok. Begitu membuka pintu apartemenku, terdengar suara-suara dari dalam. Aku menutup pintu dan melepaskan jaket dan sepatuku, kemudian menuju ke asal suara tersebut. Ada Alice dan Dominique yang sedang menonton film.

Hallo.8” sapaku.

“Ah, Gina. Hallo.” Sapa Dominique. Alice hanya melambai padaku. Aku tersenyum dan melewati mereka, menuju dapur. Alice dan Dominique adalah teman sekamarku. Apartemenku ini kecil, jadi hanya bisa menampung tiga orang saja. Padahal dari luar komplek apartemenku ini sangat bagus, berbeda jauh dengan Ari. Tetapi, malah lebih luas apartemen Ari, walaupun dari luar, apartemen Ari terlihat kumuh. Aku memasukkan susu di kulkas, sementara sereal dan roti gandum kutaruh di atas meja makan. Terdengar suara tawa Alice dan Dominique. Aku keluar dari dapur dan berjalan menuju sofa disamping kursi santai mereka.

Kommen Sie heute?7” tanyaku sambil membaringkan diri di sofa.

Partei?8” Tanya Alice memastikan. Aku mengangguk lemah.

“Ja.” Jawab Dominique. Aku hendak berbicara mengenai pesta nanti, tapi aku begitu lelah dan memutuskan untuk tidur. Padahal penghangat ruangan sudah menyala, tapi aku masih saja kedinginan.

Aku terbangun ketika teleponku bordering. Ari.

“Ya?” tanyaku dengan suara parau.

“Bukan ya. Kamu dimana?” tanyanya. Aku melihat jam dinding. Sudah jam lima sore.

“Apartemen. Capai, Ri.” Jawabku singkat. Alice dan Dominique sudah mematikan televisi.

“Kalau gitu, kamu ikut mobil band Jona aja ya.” Saran Ari. Aku mendengus.

“Jan tidak bisa mampir kesini?” tanyaku iseng.

“Bodoh. Apartemen Jan ada di sekitar marktplatz dan kamu ingin dia jemput kamu? Nein.9” kata Ari jengkel.

“Ya. Aku naik bis aja deh. Tapi agak lama ya, Ri. Aku beres-beres barang dulu.” Ujarku menyerah.

“Naik bis? Beres-beres? Bisa jam enam atau setengah tujuh kamu sampai sini.” Kata Ari kesal.

“Ah. Tidak apa-apa kan? Toh juga Jan akan menjemput kita jam tujuh. Kalau aku terlambat, ya biarlah. Aku akan mengerjakan tugas saja.” Ancamku. Ari menghela nafas.

“Baiklah, baiklah. Aku tunggu. Bergegaslah. Mach’s gut10.” ucap Ari. Aku menekan tombol off. Perjalananku masih panjang, batinku. Aku pergi ke kamarku dan menyiapkan barang yang akan kubawa ke tempat Ari. Alice dan Dominique pergi kuliah. Padahal aku kan punya ide untuk pergi bersama naik taksi. Kujejalkan barang-barangku dalam tas ransel. Kemudian aku bergegas ke kamar mandi.

Menunggu bis adalah persoalan lain lagi, selain membutuhkan ketelitian akan alamat yang dituju bisnya, aku juga harus menghafal nama jalan, belum lagi kesabaran yang luar biasa. Padahal apartemenku ini berada diantara apartemen-apartemen lain, maksudku, ini tampak seperti komplek apartemen, hanya saja apartemenku berada di paling pojok kota. Dekat pantai malah. Kalau saat ada pesta di pantai, atau pelabuhan, dulu aku yang paling semangat datang. Selain dekat, aku bisa melewati apartemen Jona dan mampir. Aku menyadari kebodohanku sendiri, untuk apa aku mengingat-ingat dia. Aku mengamati rintikkan-rintikkan hujan yang jatuh. Beruntung aku memilih naik bis daripada sepeda sore ini. Hujan turun makin deras, padahal jarak antara apartemen Ari dan halte bis lumayan jauh. Aku mengetik pesan ke Ari dengan cepat, minta dijemput di halte. Beberapa orang yang menunggu bis juga bolak-balik duduk dan berdiri, menanti bis yang tidak kunjung datang. Beruntung mereka bersama teman dan pasangan. Ponselku berbunyi, sebuah pesan masuk dari Ari, ‘Ja.’ bunyinya. Aku menaruh posnelku ke dalam jaket. Sebuah bis dari ujung jalan terlihat. Ah, bisku sudah datang. Aku memasukkan beberapa uang koin ke sebuah tempat di dekat supir. Aku tidak pernah membeli tiket terusan, karena jarang sekali aku naik bis. Aku mencari kursi yang kosong dan kemudian mendudukinya. Mungkin karena itulah jarang bis ke arah apartemenku, karena tidak banyak orang yang naik bis. Aku memasang headset di telingaku dan mulai mendengarkan lagu dari ponselku. Kalau mau ke apartemen Ari, masih harus memutar di halte di dekat pantai. Hujan semakin deras. Mungkin ide yang bagus untuk memanaskan diri di pesta nanti malam, pikirku. Aku tersentak ketika seseorang berteriak sangat nyaring, dan supir bisku menginjak pedal rem dengan mendadak. Aku terpental ke kursi di depanku, bisku terguling ke kanan dan kiri. Kepalaku terantuk kursi, hal terakhir yang kuingat adalah suara teriakan dan bunyi nyaring dari arah luar.

6. Entschuldigung : maaf
7. Kommen Sie heute?: Apa kalian datang nanti?
8. Partei : pesta
9. Nein : tidak
10. Mach’s gut : hati-hati ya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s