Midnight Sale

Yudha memacu mobilnya dengan cepat. Berkali-kali dia menekan klakson mobil dan membuat beberapa pengendara motor marah dan memelototinya. Yudah cuek saja dan malah mengencangkan suara radio di dalam mobil. Aku melirik sekilas ke jam yang ada di radio. Jam Sembilan malam. Midnight sale sudah dimulai dari dua jam yang lalu, sementara kita masih berada kira-kira tujuh kilometer lagi. Belum lagi ini hari sabtu, malam minggu, dan juga hari liburan. Jogja masih sangat ramai dipadati kendaraan bermotor yang lalu lalang. Berkali-kali juga beberapa makian dari mulut Yudha terlontar. Mau marah bagaimana juga tidak akan membawa kita menjadi lebih cepat sampai, batinku. Aku tidak berani melawan kakakku satu-satunya itu. Selain dia bisa menurunkanku di tengah jalan, hidup matiku pun bergantung padanya, liburan di Jogja ini adalah ide orangtuaku, dan mereka memberikan uang sakuku pada Yudha. Ah. Aku melipat kedua tanganku dan berusaha menikmati jalanan Jogja yang padat dan diiringi oleh musik dari radio.

Bunyi klakson saling bersahut-sautan. Baik dari motor ataupun dari mobil. Yudha mungkin akhirnya kecapaian sendiri dan akhirnya hanya diam saja.

“Masih berama lama lagi memang, Bang?” tanyaku.

“Kamu tahu, harusnya dari rumah itu cuma lima belas menit saja.” Jawab Yudha emosi. Sebenarnya bukan itu yang aku tanyakan, tapi yah, kurasa kita sudah memakan waktu cukup lama.

“Sebenarnya, seberapa penting sih yang mau abang beli disana?” tanyaku penasaran. Yudha mengangkat bahu.

“Temen abang bilang tadi kalau harganya benar-benar setengahnya. Bahkan ada yang kurang dari setengahnya. Nanti jam sepuluh sampai jam sebelas ada lelang.” Jelas Yudha. Aku mengernyitkan dahiku. Aku mengira dia akan membeli beberapa barang yang memang penting. Dasar.

“Tapi bang, kalau nggak penting-penting banget kan…..” aku memutus kata-kataku. Yudha menatapku tajam.

“Semua disana penting, Va. Mungkin suatu hari nanti akan digunakan.” Ucap Yudha membela diri. Aku mengalah dan mengangguk, walaupun sebenarnya aku tahu, barang-barang yang akan Yudha beli tidak terlalu penting untuknya.

“Iya bang.” Responku singkat. Daerah UGM sudah tidak terlalu macet, aku menguap lebar. Sebenarnya aku ingin istirahat, karena masih panjang waktu liburanku disini. Tapi Yudha memaksaku untuk ikut dengannya, masih sore, katanya.

“Nah. Kalau dari sini sih biasanya lima menit sudah sampai, Va. Tapi kalau macet ntar disana, paling dua puluh menit.” Jelas Yudha. Aku hanya mengangguk-angguk sok mengerti. Terserah saja lah, yang terpenting ini bisa cepat selesai dan pulang, pikirku.

 

Jalanan di depan bundaran UGM ini sempit, hanya cukup untuk dua mobil. Sementara sebagian jalannya dipakai untuk memarkir kendaraan-kendaraan yang tidak hanya datang untuk ke midnight sale, tetapi juga ke kafe-kafe di sekitarnya. Tidak terkecuali warung-warung pinggir jalan. Aku menguap lagi, aku sudah sangat mengantuk. Tangan kiri Yudha menunjuk ke sebleah kiriku. Aku membelalakkan mataku. Sudah hampir jam sepuluh tapi orang-orang masih saja ramai. Semuanya berlomba-lomba mendapakan barang-barang murah. Aku menghela nafas. Berarti kita juga akan seperti itu. Beberpaa keluarga, pasangan, rombongan, terlihat keluar dari tempat midnight sale tersebut sambil membawa berbungkus-bungkus, dan berkotak-kotak belanjaan. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku. Tukang parkir meniupkan peluitnya nyaring-nyaring, memandakan ada parkiran kosong. Dengan sigap Yudha memberi sign ke kiri. Tukang parkir tadi semangat memarkirkan mobil kami. Setelah selesai berkutat dengan parkiran, Yudha mengeluarkan dompetnya dari dalam tasnya dan menaruhnya dikantung belakang sebelah kanan di celananya. Handphonenya ditaruh di saku depan sebelah kanan. Aku menguncir rambutku agar nanti bisa leluasa. Yudha memgang tanganku ketika kami berjalan di trotoar.

“Bang, pelan aja lah.” Kataku yang tersandung-sandung karena cepatnya Yudha berjala.

“Keburu habis, Va.” Katanya singkat. Aku merengut. Menyebalkan. Teman-teman abangku sudah berada di luar dan membawa beberapa kardus laptop. Mereka saling membanggakan hasil tangkapan mereka hari ini. Abangku menarikku ke dalam. Aku mengangguk memberi salam pada teman-temannya. Mereka melambai dan berteriak semoga beruntung. Begitu berhasil melewati rintangan penuh orang pertama, aku mengambil air putih yang disediakan panitia. Yudha melirikku dengan kesal.

“Bang, penuh gini.” Alasanku. Yudha hanya mnghela nafas dan menarikku lagi. Tapi, rintangan di dalam lebih menyeramkan. Dengan cepat tanganku terlepas dengan tangan Yudha. Aku berjinjit-jinjit daan menahan tabrakkan dari orang-orang, mencari Yudha. Akhirnya aku menyerah dan menunggunya di pintu masuk tadi. Beberpa orang bersandar juga, kelelahan. Panas, bau tidak sedap, pengap, penuh orang, ah, aku benci tempat-tempat seperti ini. Belum lagi para panitia heboh menjajakan jualan mereka, orang-orang pun berlomba-lomba sampai disana paling duluan. Lelang sudah dimulai, kudengar suara Yudha beberapa kali. Ada juga anak yang hilang dari orang tuanya, sedang menangis. Aku menaiki anak tangga didekatku dan dari situ aku bisa melihat lumayan jelas. Lalu kemudian ada pengumuman bahwa teman Bapak Suharto, yaitu Bapak Rizal diharapkan mendatangi Pak Suharto di dekat informasi. Minumanku sudah hampir habis. Lelang masih terus berlanjut. Beberapa orang menyerah dan akhirnya pulang. Tetapi tidak sebanding dengan orang yang masuk.

Akhirnya, setelah lelang dihentikan karena sudah melewati batas waktu, para panitia memutuskan Yudha lah pemenangnya. Aku melihat abangku itu berjalan menuju kasir sambil membawa beberapa kertas dengan penuh semangat. Lima menit Yudha berada di kasir tapi dia terlihat kebingungan. Aku mencari celah agar bisa masuk, dan kuputuskan untuk menyusulnya kesana. Sesampainya di kasir, beberapa panitia mengerubungi Yudha.

“Abang, kenapa?” tanyaku agak nyaring, sehingga Yudha bisa melihatku. Mukanya pucat dan berkeringat. Kaos yang dipakinya sudah basah oleh keringat.

“Dompet abang hilang, Va.” Ucapnya. Beberpa apanitia berusaha membantunya mencari. Aku terdiam. Ini salah satu konsekuensinya, kalau ramai danpadat seperti ini pasti ada pencuri. Panitia memanggil polisi yang bertugas. Abangku lemas dan dibopong kepinggir. Yudha merespon dengan lemah akan pertanyaan-pertanyaan yang diberikan. Hidupku selama di Jogja, hilang sudah, pikirku. Polisi yang berjaga meyakinkan kami untuk terus berpikiran positif dan memintaku menelepon untuk melaporkan kehilangan ATM dan kartu kredit. Yudha menekan kepalanya, kesal. Sebenarnya yang kami permaslaahkan bukanlah kehilangan dompet, tapi lebih pada omelan yang akan diberikan oleh orangtua kami nanti. Midnight sale membawa petaka, batinku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s