Jangan Aisyah, Tuhan.

Dering ponselku membuyarkan fokusku yang sedang bermain playstation. Aku segera menekan tombol ‘pause’ dan menaruh stikku di lantai. Adi mengeluh kesal.

“Gas! Kamu kan belum out!” ujarnya. Aku tidak mempedulikannya dan berjalan menuju kamarku, melihat siapa yang menelepon. Aku menghela nafas panjang, Aisyah. Belum sempat kuangkat, ponselku udah berhenti bordering. Ya sudahlah. Ketika hendak keluar kamar, ponselku berdering kembali. Masih dari Aisyah. Aku menekan tombol volume di ponselku, mengecilkannya. Kulempar ponselku diatas tempat tidur dan kututup pintu kamarku.

“Nggak diangkat, Gas?” Tanya Adi yang sekarang malah asik mengunyah kacang. Aku menggeleng.

“Aisyah?” tanyanya lagi penasaran. Aku mengangguk dan mengambil kacang dan duduk disampingnya.

“Kamu marahan?” tanyanya semakin penasaran.

“Nggak. Biasa saja. Ah. Ayo main lagi.” Ujarku sambil mengambil stikku dan menekan tombol ‘pause’ lagi. Adi yang lagi asik bersantai kalang kabut dan mengambil stiknya.

“Ah, curang kamu, Gas!” katanya mengomel. Aku hanya tertawa dan melanjutkan perrmainan kami.

 

Suara tawa Bobi dan Faisal menggema di kedai tempat biasa kami berkumpul. Kepulan asap rokok dicampur shisa menyelimuti kami. Kedai ini akan menjadi sangat ramai jika sudah berada diatas jam dua belas. Beberapa gadis berpakaian minim yang menjajakan dagangan mereka, yaitu rokok, sempat menjadi bahan godaan Bobi dan Faisal. Beberapa server yang bolak-balik dipanggil oleh hampir semua pengunjung pun tak luput dari kejahilan mereka berdua. Teman-temanku ini memang jagonya usil, kasar, tetapi mereka tetap memiliki sisi baik.

“Gas, tumben kamu nggak bolak balik mengeluarkan ponsel.” Sindir Bobi. Aku hanya tersenyum kecut.

“Marahan kayaknya, Bob.” Timpal Adi. Aku menyenggol kakinya dengan keras.

“Itu gadis rokok tadi boleh juga kok, Gas.” Kata Bobi. Aku meneguk cokelat hangatku. Faisal yang sedang asik menghirup shisa belum berkomentar apa-apa.

“Masa dari gadis alim kayak Aisyah gitu jadi gadis rokok sih, Bob.” Ucap Adi.

“Loh, jadi maksud kamu gadis rokok itu nggak alim? Kamu tahu darimana memangnya? Kamu kenal mereka? Kamu pernah nongkrong bareng mereka?” cecar Bobi. Adi mengernyitkan dahi, bingung mau menjawab apa.

“Ya nggak sih, Bob. Maksudku kan, yah, pakaian Aisyah nggak seminim mereka, walaupun Aisyah juga nggak berjilbab. Kamu sendiri juga yang bilang, beberapa dari mereka biasanya mau dibayar lebih buat… tahulah.” Adi menyangkal pertanyaan Bobi. Aku hanya tertawa kecil mendengarkan pembicaraan mereka. bobi mengeluarkan asap rokoknya dari mulutnya.

Have sex maksud kamu? Ah, biasa sekarang lah. Kalau pintar kita milih sih, ya nggak dapet zonk. Eh tapi si Bagas ini juga nggak cocok deh sama mereka. Dia aja deketin si Aisyah lama banget.” Sindir Bobi lagi. Adi tertawa terbahak-bahak. Aku berpura-pura tidak mendengarnya.

“Gas. Hubungan jarak jauh memang nggak ada yang gampang. Tapi kalau dia memang layak, jangan disia-siakan lah. Apalagi kayak Aisyah gitu.” Faisal tiba-tiba angkat bicara setelah berkali-kali sibuk menghirup shisanya.

“Gila kamu, Sal. Dari tadi sibuk sama shisa omongan jadi bagus banget. Mabuk ya?” sindir Bobi. Faisal tertawa terbahak-bahak, diiringi tawa Adi. Aku melihat pnselku. Ada banyak panggilan tidak terjawab dan beberapa pesan masuk. Aku melihat pesan paling atas, dari Aisyah. ‘Besok aku ke Jogja. Jam enam lima puluh lima sampai.’ Aku tercengang. Suara bising di kedai sudah tidak kupedulikan lagi, pikiranku melayang pada Aisyah dan pada ucapan Faisal. Layakkah dia dipertahankan?

 

Alarmku berbunyi nyaring, ketika waktu subuh. Biasanya Aisyah akan meneleponku. Tapi beberapa hari ini karena keegoisan kita masing-masing, kita berdua jadi membatasi hubungan. Gengsi didahulukan. Aku mematikan alarmku dan berguling kea rah berlawanan. Malas rasanya, dan ngantuk. Aku, Adi, Bobi dan Faisal baru pulang jam tiga pagi. Membicarakan hal yang nggak jelas. Menggoda beberapa gadis rokok yang tidak henti-hentinya menawari kami rokok. Menggoda server-server yang sibuk tanpa henti. Aku berguling kea rah berlawanan. Setan memang paling banyak kalau subuh, batinku. Dengan malas aku berdiri dan keluar kamar. Kugedor kamar Adi yang tepat berada disebelah kamarku. Kubuka pintu kamarnya dan menyalakan lampunya. Adi mengerang dan menyipitkan matanya.

“Brengsek. Matiin, Gas!” ucapnya sambil menutup wajahnya dengan guling.

“Subuh, Di!” kataku sambil menarik gulingnya.

“Duluan sana.” Kata Adi menyerah. Aku bergegas ke kamar mandi untuk mencuci muka, menggososk gigi dan berwudhu. Selesai, aku melihat Adi yang sudah kembali tidur. Kupercikkan air yang masih ada di tanganku. Adi mengerang lagi dan melemparku dengan guling. Kemudian dia berdiri dan menuju kamar mandi.

Selesai sholat, Adi kembali ke kamarnya. Aku melihat ponselku, ada pesan dari Aisyah. ‘Aku sudah di ruang tunggu bandara.’. Dia memang tidak menyuruhku untuk menjemputnya sih, dia hanya memberiku kabar. Tetapi kan tetap saja, teman akrab Aisyah juga tidak banyak di Jogja. Aku menghela nafas dan melihat jam, masih jam setengah enam pagi. Perjalanan dari rumahku ke bandara kalau naik motor hanya memakan waktu lima belas sampai dua puluh menit. Belum lagi ini masih pagi, belum terlalu ramai. Aku melepas sarung dan merapikan alat sholatku kemudian membaringkan tubuhku di tempat tidur. Sebentar saja, batinku.

Ponselku bordering ketika jam setengah tujuh. Kutekan tombol ‘off’ dan terjaga dari tidurku. Aku berganti baju dan segera keluar dari kamar, menuju garasi. Jalanan masih belum padat memang. Paling-paling hanya anak sekolah saja yang diantar oleh orangtuanya. Aku sampai di bandara sepuluh menit sebelum pesawat Aisyah datang. Kukeluarkan rokok dikantong jaketku dan menyalakannya. Aisyah memang tidak pernah melarangku untuk merokok, tapi aku jarang merokok didepannya, sungkan. Kuperhatikan orang-orang berlalu-lalang di depanku. Beberapa tampak bahagia karena mungkin orang yang disayanginya sudah tiba, beberpa tampak murung karena mungkin orang yang disayanginya akan meninggalkannya, beberapa lagi tampak kurang tidur, mungkin karena harus menyetir berjam-jam tanpa henti. Kulirik jam tanganku, seharusnya sudah mendarat. Tahu-tahu saja aku mendengar dentuman keras dari arah bandara. Beberapa petugas dengan terburu-buru masuk ke dalam bandara. Jantungku berdegup kencang. Beberapa orang penasaran dan berlari menuju anjungan. Aku hanya duduk dan mengisap rokokku. Setelah beberapa menit kemudian ada orang berteriak “pesawat jatuh!”. Badanku seketika melemas. Rokokku sudah habis. Aku menyalakan sebatang lagi. Tenang, Bagas, batinku. Kemudian, ada pemberitahuan, pesawat Lion Air penerbangan dari Jakarta mengalami kecelakaan saat pendaratan. Pesawat terbelah menjadi dua, ada banyak penumpang yang tidak selamat. Aisyah. Aisyah. Aisyah. Hanya nama dan wajah Aisyah yang berada dalam pikiranku. Aku menghisap rokokku dalam-dalam. Tidak, tidak boleh Aisyah, Tuhan. Jangan Aisyah. Aku belum mendengar suaranya. Aku belum memegang tangannya. Aku belum membelai rambutnya. Aku belum mencubit pipinya. Aku belum menggodanya. Aku belum melakukan hal-hal yang selalu kulakukan selama seminggu ini. Aku mengeluarkan asap rokok dari mulutku. Jangan Aisyah, Tuhan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s