Dua puluh tiga

Aku hampir tertidur ketika menerima pesanmu yang berbunyi ‘sayang, aku ada di luar.’. Setengah sadar aku menarik kakiku ke arah jendela di dekat meja berisikan buku-bukuku. Aku menyibak sedikit tirai di jendela, dan melihatmu menyunggingkan senyuman ke arahku dari bawah sana. Aku memberimu isyarat ‘aku turun’. Kamu mengangguk dan memberiku dua buah jempol, dan sebatang rokok bertengger di mulutmu. Sambil menyisir rambutku dengan tangan, aku mencari karet kuncirku. Ah, found it. Aku mengikat rambutku dan kemudian membuka pintu kamarku. Ketika menuruni tangga, kulihat lampu ruang tengah sudah dimatikan. Kutekan tombolnya ketika aku melewatinya dan membuka pintu depan. Kamu masih disana menyunggingkan senyum dan berkata “too late?”. Aku menggelengkan kepalaku dan berjalan ke arahmu. Angin malam begitu dingin menusuk badanku yang hanya dibalut piyama biru kesukaanku. Ketika sudah sampai dihadapanmu, aku memelukmu dengan erat dan menenggelamkan kepalaku didadamu. “Tell me it is not a dream.” kataku sambil menatap matamu yang cokelat. Kamu hanya tersenyum. “selamat ulang tahun ke dua puluh tiga, Kei.” ucapmu sambil mengecup keningku. Ah, I got butterflies in my stomach. Aku memelukmu makin erat, dan kamu berbisik “be happy, Kei.” dan kemudian kamu menghilang. Semua tiba-tiba menjadi gelap. Aku mencarimu, mencari mata cokelatmu yang memancarkan sinar, mencari suaramu yang meneduhkan, mencari senyuman yang menyejukkan, mencari tanganmu yang memegang sebatang rokok yang hampir habis, tapi yang ada hanyalah hitam, gelap. Aku berlari meneriakkan namamu, tapi hanya langkah kakiku yang terdengar. Aku kehabisan nafas. Aku kebingungan. Aku lelah. Dan kemudian, aku berhenti. Aku terdiam, dan terduduk di ruangan serba hitam itu. Aku menangis sesengukan. Tapi aku kemudian mendengar suara. Bukan suaramu, suara yang nyaring dan keras, bunyi apa ini? Makin lama makin nyaring dan…. Aku terbangun. Aku melihat sekelilingku. Aku di dalam kamarku. Aku memakai piyama biruku. Aku melompat turun dari tempat tidur dan menuju jendelaku. Tidak ada apa-apa disana. Tidak ada kamu. Tidak ada senyummu. Tidak ada rokokmu. Tidak ada jempolmu. Aku menghela nafas dan meminum air putih yang berada di atas mejaku yang masih penuh buku. Aku berjalan kembali ke arah tempat tidurku dengan lemas. Aku melirik ke arah pigura di atas meja kecil di samping tempat tidurku. Aku mengambilnya dan berkata “Curang. Lagi-lagi kamu pergi tiba-tiba, Adam.”. Aku mencium bingkai foto itu. Dan menaruhnya lagi di tempatnya tadi. Kutarik selimut sampai menutupi wajahku dan berbisik pada diriku sendiri, “selamat dua puluh tiga tahun Keisha”. Kemudian aku memejamkan mataku dan sedikit berharap akan bertemu Adam lagi.

Aku mendengar ketukan di pintu kamarku. Berkali-kali aku mengerjap-ngerjapkan mataku agar terbuka. Cahaya matahari masuk melalui celah tirai di jendelaku. Aku berusaha berjalan ke arah pintu kamarku. “Boo! Happy twenty three!” Seru seorang laki-laki dihadapanku sambil meniupkan terompet. Kakakku yang menyebalkan. Aku menghela nafas dan kembali menyeret kakiku menaiki tempat tidurku. “Kei! Ayolah!” Serunya menarik selimut yang menutupi badanku. Aku menggeliat dan menariknya lagi. “Jangan ganggu, Chan!” Teriakku. “Kamu nggak seru.” ucapnya sambil tersenyum merengut. Aku mendengus kesal. “Kei..” Chandra duduk disampingku dan membelai rambutku. Mau tidak mau aku membuka mata. Aku menatapnya, masih sambil merengut. “Ayolah.. Sehari bersamaku kan tidak sering terjadi..” Ujarnya memelas. “Yeah, right” kataku skeptis. “Kei… Kumohon…” Ujarnya lagi sambil memberiku tatapan super menyedihkan, atau, menjijikkan? “Baiklaaaaah” kataku menyerah. Chandra memelukku dengan erat. Erat sekali sampai aku hampir kehabisan nafas. “Yah, kayak kamu ada rencana aja hari ini.” Ujarnya menggodaku. Aku menghujaninya dengan cubitan. Dia menyerah dan meminta maaf, kemudian mencium keningku lagi dan pergi keluar kamar. Dengan malas aku melangkahkan kaki ke kamar mandi, sehari ini saja aku keluar rumah tidak apa kan, Dam?, batinku.

Chandra mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi. Berkali-kali aku berteriak, memohon padanya, bahkan mengancam akan melompat, tapi tidak digubrisnya. Salah satu dari kado untukku, katanya sambil tertawa-tawa. Jalanan kotaku ini tidak begitu padat seperti ibukota, memang. Tapi tetap saja, kalau tidak hati-hati akan celaka. Ah, kalau dibandingkan Adam, walaupun dia akan membuka kaca mobilnya untuk sesekali merokok, dia akan berjalan dengan santai. Angin akan menghembus pelan mengenai wajahku, rambutku akan tertiup oleh angin dan akan berantakan. Begitu juga dengan Adam. Dan kemudian dia akan menyenandungkan lagu buatannya, “hey come here wind. Blow our hair and drift us part. But you know wind, we still be together”. Aku tertawa mengingat tingkah laku Adam. Betapa aku merindukannya. Setelah sampai di tempat yang dituju, Chandra segera memarkirkan mobilnya dan membuka pintu mobilku. “Silahkan, tuan putri.” Ucapnya berusaha sok manis. Aku tertawa kecil, mengingat bagaimana Adam selalu memperlakukanku seperti itu. Aku menggandeng tangan Chandra dan masuk ke sebuah restoran seafood kesukaanku dan Adam. Begitu masuk, sudah ada band yang memainkan musik selamat ulang tahun dan di dalam sudah ada balon-balon berterbangan. Au tertawa bahagia, Chandra menyiapkan ini semua untukku. Sesampainya di meja yang sudah disiapkan, beberapa pelayan mengantar makanan dan minuman untuk kami. Kepiting lada hitam, cumi goreng tepung, cah kangkung, dan minuman kesukaanku dan Adam, es teh lemon. Aku hanya bisa terpana melihat semua sudah disiapkan oleh Chandra, iya, Chandra yang selalu menyebalkan, terkadang bisa juga menjadi semanis ini. Selesai makan, aku yang sangat kekenyangan berbisik pada Chandra, “Terimakasih”. Chandra menggelengkan kepalanya dan berkata, “belum selesai.”. Aku menatapnya dengan sedikit bingung. Kemudian datang pelayan dengan membawa dua buah piring berisikan kue dan diatasnya ada sebuah lilin, angka dua dan tiga. Aku tertawa sambil melihat ke arah Chandra. Dengan sombongnya dia mengangkat alisnya dan tersenyum. “Buat permohonan.” Kata Chandra ketika piring kecil berisi kue itu ditaruh di depanku. Aku memejamkan mata dan kemudian meniupnya. Para pemain band dan beberapa pelayan bertepuk tangan. Diiringi juga beberapa orang yang makan disana. Aku menganggukkan kepalaku dan tersenyum sebagai tanda terimakasih. “Apa permohonanmu?” Tanya Chandra sebelum menyendokkan potongan kue ke dalam mulutnya. “Rahasia.” Kataku sok misterius. Chandra mendengus kesal. “Bahagia, Chan.” Kataku menatapnya, seolah berkata pada Adam dihadapanku. Sekilas, yang kulihat memang Adam, bukan Chandra. Hari ini diawali dengan kebahagiaan, Dam. Chandra mengangguk dan tersenyum senang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s