Ada

Aku melangkahkan kakiku dengan cepat ketika melewati rumahmu. Aku tahu kamu ada di dalam, karena lampu kamar tidurmu masih menyala. Sempat aku melirik dan melihat bayanganmu di jendela. Aku membuang muka dan berpura-pura sibuk dengan handphoneku. Jalanan perumahan kita memang sedikit gelap, dan aku memang harus melewati rumahmu untuk sampai ke rumahku yang berada di ujung blok. Ketika berhasil melewati rumahmu dengan selamat, aku memperlambat langkah kakiku dan menetralkan deru nafasku. Kumasukkan handphone ke dalam saku celanaku dan memasukkan kedua tanganku ke dalam kantong jaketku. Hawa dingin menyeruak, jangan hujan, batinku sambil memandangi langit. Dan aku mendengarnya. Langkah kaki selain langkah kakiku. Takut tentu saja, tapi aku harus bersikap pura-pura tidak tahu akan keberadaan orang lain di belakangku. Anggap saja salah satu tetangga, batinku berusaha berpikir positif. Langkah itu semakin dekat, aku sengaja memperlambat langkahku agar orang itu berjalan duluan. Tapi, rupanya orang itu punya pikiran lain, dia juga memperlambat jalannya ketika sejajar denganku. Aku melirik dan menyadari kalau orang itu adalah kamu.

“Kenapa?” Tanyaku datar dan berusaha mempercepat langkahku.

“Mengantarmu saja.” Jawabmu dan mengikuti langkahku. kami berjalan dalam diam.

“Sampai sini saja.” Ucapku lagi ketika tinggal satu rumah lagi sebelum rumahku. Kamu menghentikan langkahmu dan mengangguk.

“Terimakasih.” Ucapku dan pergi meninggalkanmu. Aku tahu kamu masih berdiri disana dan menungguku menghilang masuk ke dalam rumah. Aku tahu kalau aku berbalik badan, kamu masih akan berdiri disana dan akan melambaikan tanganmu dan tersenyum. Aku menaiki tangga menuju pintu rumahku, memutar gagang pintu dan masuk ke dalam rumah. Dah, ucapku dalam hati sambil menutup pintu.

 

“Arani!” Seru seseorang di seberang jalan. Aku yang sedang berolahraga pagi menghentikan langkahku. Gadis itu melambai-lambaikan tangannya padaku. Aku hanya melambaikan tanganku padanya dan hendak melanjutkan olahragaku. Tapi, gadis itu menggeakkan tangannya lagi, mengarahkan supaya aku pergi ke arahnya. Sebenarnya aku tidak ingin, tapi semakin bersemangat dia menggerakkan tangannya, menyuruhku untuk mampir. Aku menghela nafas dan tersenyum ke arahnya, entah dia melihatnya apa tidak. Dengan berat hati aku melangkahkan kakiku ke rumahnya. Sesampainya di depan pagar dia langsung memelukku, padahal aku baru saja berlari mengelilingi blok.

“Ah, Rani. Lama sekali tidak melihatmu.” Ucap gadis itu seraya melepaskan pelukannya. Aku hanya tersenyum. Dua minggu aku punya urusan yang harus diselesaikan di luar kota.

“Yah, banyak yang harus aku kerjakan.” Kataku. Klise. Gadis itu hanya tersenyum, tampak memahamiku.

“Bagaimana kabarmu, Ran?” Tanya gadis itu. Ah tampaknya dia tidak akan berhenti kalau aku tidak mengakhirinya.

“Sehat. Kata ibuku kamu sudah hamil, ya May? Selamat.” Udapku tulus. Berusaha memfokuskan pembicaraan pada dia.

“Iya, Ran. Baru empat minggu ini. Jadi masih kecil.” Katanya sambil mengelus-elus perutnya. Aku memalingkan wajahku ke sebelah rumah Maya. Rumahmu. Aku melihat siluet seseorang dari kamarmu, mungkin kamu, batinku.

“May, aku harus melanjutkan perjalanan lagi.” Kataku pamit. Maya yang tampak belum puas bercerita padaku sedikit kaget, dia menolehkan kepalanya ke rumahmu.

“Baiklah kalau begitu, Ran. Kita bisa melanjutkan ngobrolnya lain kali.” Kata Maya. Aku mengangguk dan melambaikan tanganku. Maya melakukan hal yang sama, melambai padaku. Aku melirik ke rumahmu. Lagi-lagi siluet di jendela. Aku memasang headset ke telingaku dan mulai berlari, sesuai irama lagu, pelan dan santai.

 

“Arani. Sejak kemarin kok ibu lihat kamu tidak kemana-mana?” tanya ibuku sambil menuangkan teh panas di gelas-gelas yang berada di atas meja makan. Aku hanya mengangkat bahu sebagai respon dari pertanyaan ibu. Aku menyusun piring-piring sesuai urutan kursi.

“Ayolah Rani. Kamu tidak bisa melarikan diri terus. Kamu juga harus kembali bersosialisasi lagi.” kata ibuku. Aku masih sibuk menyusun sendok dan garpu. Ibuku menungguku berbicara, menatapku.

“Kemarin kan Rani sudah mulai melakukan rutinitas yang sama seperti dulu, bu. Kemarinnya lagi Rani pulang jalan kaki, tidak diantar taksi sampai rumah. Bertahap, bu.” jawabku sambil menata lagi alat makan. Ibuku mengangkat piring berisi mendoan dan tahu bakso. Aku membantu beliau dan mengangkat teko yang berisikan susu dan menaruhnya di meja. Ibuku beristirahat dengan mendudukkan dirinya di salah satu kursi di dekatnya. Aku mengangkat piring berisi buah-buahan ke atas meja. Ibu menyuruhku untuk duduk di hadapannya, aku pun menurutinya.

“Arka kan sudah pergi tiga bulan, Ran. Berhentilah memikirkannya. Arka sudah bersama Tuhan. Kamu harus mampu melepasnya, Rani. Kamu harus terus hidup.” ucap ibuku sambil memegang tanganku.

“Ini semua nggak ada hubungannya dengan Arka, bu. Lagipula, memangnya Tuhan itu ada? Kalau Tuhan ada, mana mungkin Tuhan mengambil Arka. Tuhan harusnya menjaganya.” kataku dengan penuh emosi. Kalau mengenai kamu, aku selalu punya jawaban, Ka.

“Arani! Kamu tidak boleh berbicara seperti itu! Tuhan Maha Mendengar!” sahut ibuku, juga dengan penuh emosi.

“Ibu nggak ngerti! Arka itu bagian dari hidup Rani, bu. Arka itu teman baik, Rani. Ibu nggak ngerti karena bukan ibu yang mengalaminya.” mataku sudah tergenang oleh air mata. Sudah hampir tiga bulan ini aku tidak menangisimu, Ka. aku beranjak dari dudukku dan berlari menuju kamarku. Aku mengunci kamarku dan mengelap airmata yang membasahi pipiku. Aku melihat ke arah jendela, kamu berdiri tepat di depan rumahku, menatapku dengan penuh kesedihan. Aku tersenyum kecut. Padahal kamu masih ada disini ya, Ka. Mengapa semua orang menganggapmu tidak ada? Ah, maafkan aku, Ka, bisikku pelan. Aku menutup jendela kamarku dan menutup tirainya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s