Sepatu Vina

Vina menghentak-hentakkan kakinya di semen, di bawah tempat duduknya. Bibirnya dikatupkan rapat-rapat, matanya melihat ke jalanan dengan tajam. Keringat menetes dari wajahnya. Beberapa temannya melewatinya begitu saja, tanpa menyapa. Beberapa malah menertawakan Vina. Menyebalkan. Ini semua salah Mela dan teman-temannya, atau lebih tepat Mela dan anak buahnya. Vina menghela nafas dan mengelap keringatnya dengan tangannya. Vina menatap ke bawah, melihat sepatunya. Padahal tidak ada yang salah dari sepatunya, berwarna hitam, sesuai dengan aturan sekolah. Tapi Mela tidak bisa tidak mengejeknya. Vina mengkerucutkan bibirnya dan mengingat-ingat kejadian tadi pagi.

“Dih, sepatunya. Mau konser?” ejek Mela ketika Vina melewatinya saat berjalan menuju kantin. Kontan saja anak buah Mela tertawa dan menunjuk-nunjuk Vina. Vina yang berjalan dengan teman sebangkunya, Ratna, memutuskan untuk tidak menghiraukan ejekan Mela dan teman-temannya.

“Ya nggak mungkin lah, Mel. Suara dia aja nggak ada.” Tambah teman Mela dan diiringi dengan tawa mereka yang dibuat-buat, menyebalkan. Setelah selesai membeli jajan di warung, Via danRatna melewati gerombolan Mela lagi. Kali ini, Mela sengaja menjulurkan kakinya ketika Vina berjalan, sehingga Vina kehilangan keseimbangan dan terjerembab ke tanah. Mela dan teman-temannya makin tertawa dengan nyaring. Diikuti pula oleh beberapa grup anak laki-laki. Ratna membantu Vina berdiri dan ikut membersihkan tanah-tanah yg menempel di baju Vina. Sesekali vina melirik kesal pada Mela. Seandainya saja dia diizinkan untuk menunjukkan kemampuan karatenya, pasti Mela sudah tidak mengganggunya lagi. Vina dan Ratna kemudian berjalan menuju kamar mandi, membersihkan kotoran yang masih menempel. Sewaktu masuk kelas pun, Mela dan teman-temannya masih saja menyebarkan gossip bahwa Vina terjatuh dan sepatunya membuatnya tampak seperti penyanyi. Beberapa anak yang takut akan Mela dan gengnya, tertawa dibuat-buat. Padahal mereka selalu bertanya pada Vina tentang pelajaran yang sulit. Vina hanya menatap mereka dengan kesal dan berjalan perlahan menuju mejanya. Vina menjalani hari dengan kesal pada Mela dan gengnya.

Panas mulai menyengat, Vina makin berkeringat. Vina memutuskan untuk membeli es di Mang Abi di dekat pohon besar di tempat parkir. Kenapa papa terlambat menjemput Vina sih, gerutunya dalam hati. Sudah hampir dekat, Vina melihat bis jemputan fasilitas sekolahnya masih ada di parkiran. Vina memelankan langkahnya, Vina mencari orang yang Vina hafal. Gadis berambut pendek seleher, selalu memakai bando, suaranya yang selalu nyaring agar semua orang bisa mendengarnya, Mela. Dan, Vina melihatnya tepat berada di Mang Abi. Vina menghela nafas. Ah, padahal hari ini sangat panas dan es Mang Abi sangat menyegarkan. Tapi Vina males kalau harus berurusan lagi dengan Mela dan gengnya. Pilihan berat, pikir Vina. Vina memutuskan untuk menunggu papanya di dalam sekolah, tempat dia biasa menunggu. Tapi Vina melihat Aldi berjalan menuju arahnya.

“Kamu belum dijemput, Vin?” tegur Aldi. Vina menggeleng. Aldi adalah tetangga Vina. Mereka sangat akrab, tapi ketika kenaikan kelas lima, Aldi suka berubah. Kadang kalau di sekolah Aldi suka ikut mengganggu Vina. Tapi kalau sudah di rumah, Aldi akan baik sekali sama Vina. Mungkin karena di sekolah Vina selalu digoda karena terlalu akrab dengan Aldi.

“Kamu gak beli es Mang Abi?” Tanya Aldi lagi. Vina melirik ke sana, Mela dan gengnya masih disana.

“Ayo bareng aku” ajak Aldi. Tumben Aldi baik, pikir Vina. Ini kan masih di sekolah.

“Gak ah Di. Ada si Mela sama teman-temannya.” Vina menolak. Aldi melihat ke tempat Mang Abi.

“Gak papa, ada aku.” Kata Aldi meyakinkan. Vina ragu, tapi tampaknya es Mang Abi memanggill-manggilnya. Vina mengangguk dan mengikuti Aldi. Beberapa anak laki-laki menyoraki mereka dari dalam bis. Aldi cuek saja, tapi Vina tahu, Aldi pasti merasa terganggu. Mela melihat ke arah mereka berdua dengan kesal.

“Mang, esnya dua ya!” ucap Aldi pada Mang Abi. Mang Abi mengangguk dan segera membuatkan es untuk mereka. Vina gelisah. Sorakan anak laki-laki makin berisik.

“Aldi, kamu kok mau sih temenan sama dia?” Tanya Mela tiba-tiba.

“Memang kenapa?” Tanya Aldi balik. Mela gelagapan mencari jawaban.

“Kamu suka ya sama Vina?” ucap Mela. Vina menatap Mela dengan kesal. Dia ini tidak bisa diam. Mang Abi memberikan sebungkus esnya kepada Vina dan satu lagi pada Aldi. Vina mengeluarkan uangnya untuk membayar, tapi Aldi lebih cepat dan membayarnya untuk Vina.

“Makasih Di.” Bisik Vina dan kemudian Vina berjalan menuju sekolah. Aldi berusaha menyusl Vina tapi Mela menahannya.

“Aku lebih suka temenan sama Vina soalnya dia baik dan pinter. Nggak kayak kamu, sukanya mengejek orang lain.” Kata Aldi kesal. Mela dan temen-temennya terdiam. Aldi berlari mengejar Vina. Vina menoleh dan sedikit kaget melihat Aldi. Mereka berjalan bersebelahan.

“Kamu nggak takut diomongin sama mereka?” Tanya Vina polos. Aldi menggeleng.

“Jadi aku boleh ngomong sama kamu lagi di sekolah?” Tanya Vina lagi. Aldi tertawa dan mengangguk.

“Kamu nggak pulang naik bis?” Tanya Vina.

“Nggak. Aku tadi menelepon bapakku, minta dijemput.” Jawab Aldi sambil menendang kerikil-kerikil. Vina mengangguk-angguk. “Kenapa ya Mela nggak suka sama aku?” Tanya Vina. Aldi mengangkat bahunya dan menyedot esnya. Vina memandangi sepatunya lagi. Sepatu itu dibelikan oleh mamanya sewaktu mamanya tugas di Jakarta. Vina merasa tidak ada yang salah dengan sepatu itu. Mirip dengan sepatu boots memang, tapi guru jaga setiap pagi pun tidak mempermasalahkannya. Beliau tetap menyuruh Vina masuk kelas, setelah diperiksa. Guru lain pun juga tidak mempermasalahkannya. Tapi kenapa Mela membencinya ya? Mela selalu tidak suka semua yang Vina lakukan atau kenakan semenjak sekolah mereka bergabung. Setiap hari ada saja komentar-komentar jahat Mela kepada Vina, mulai dari rambut Vina, karet kuncir Vina, buku Vina, tas Vina, sepatu Vina, dan masih banyak lagi. Padahal, sebelum sekolah mereka digabung, Vina tidak pernah mengenal Mela. Vina kembali duduk di kursi depan sekolah menunggu papanya. Tapi kali ini Vina ada teman, Aldi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s