Airmata Rena (part 2)

Aku menemukan diriku sedang berlari dalam gelap. Di dalam sebuah lorong panjang tiada ujungnya. Aku berlari tanpa henti, entah aku berlari dari apa, atau siapa tepatnya. Keringatku mengucur deras, nafasku terengah-engah. Tetapi hawa disini sangat dingin. Kakiku tidak mau berhenti, padahal aku sudah tidak sanggup lagi untuk berlari. Tolong! Teriakku, tapi tidak ada satu orang pun yang datang. Kenapa aku berlari? Apa yang membuatku memutuskan untuk berlari? Kemudian samar-samar aku mendengar suara memanggilku. Aku menolehkan kepalaku ke segala arah tapi aku tidak menemukan ornag yang memanggilku. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Sampai berkali-kali suara itu masih menggema. Kemudian, aku merasakan kehangatan menjulur ke tubuhku. Suara itu makin terdengar jelas. Renata. Aku tersentak dan membuka mataku. Kulihat Renata dengan wajah yang pucat pasi dan bergelinang airmata berada disampingku. Erik dengan raut wajah yang cemas memandangku dengan sedikit kelegaan. Seorang dokter dan beberapa perawat menyuruh mereka untuk keluar dan mulai memeriksaku.

“Hai.” Sapaku setelah dokter dan perawat-perawat itu memeriksaku. Rena memakai kacamatanya, kurasa untuk menutupi matanya yang sembab. Aku memegang pipinya.

“Aku tidak apa-apa, Rena.” Kataku lagi. Rena mengangguk dan menggenggam tanganku.

“Rena, aku akan membeli kopi. Kamu mau?” Tanya Erik.

“Dia lebih tua darimu, Rik” singgungku. Erik hanya diam.

“Boleh, Rik. Terimakasih.” Jawab Rena. Erik mengangguk dan keluar dari kamarku. Rena menaruk kepalanya di atas tempat tidurku, masih menggenggam tanganku.

“Aku benci rumah sakit” bisik Rena. Aku tahu. Makanya aku sangat tidak ingin kamu melihatku seperti ini, Rena.

“Aku juga tidak menyukainya. Tapi tampaknya ayah dan ibuku menyukainya.” Kataku. Rena masih tidak menunjukkan wajahnya padaku. Aku membelai rambutnya yang kini digerainya dengan tanganku yang satunya.

“Aku takut kamu tadi pergi, Do” kata Rena pelan. Aku menghela nafas. Mungkin aku memang hampir pergi, tadi. Tanpa sentuhan dari Rena, mungkin aku tidak akan tersadar, berlebihan mungkin. Tapi aku berusaha mempercayainya.

“Aku kan sudah janji padamu. Mana berani aku mengingkarinya.” Gombalku. Rena mendengus.

“Kemarin pun kamu berjanji akan menjemputku, tapi kamu membohongiku.” Sindir Rena.

“Iya. Aku tidak boleh keluar, Rena. Kan hanya aku saja yang kurang, selebihnya aku tepati, kan?” ucapku berusaha membela diri. Rena mengangkat wajahnya dan menatapku.

“Justru yang terpenting itu kamunya, bodoh.” Kata Rena. Ah, Renata. Kenapa kamu lakukan hal ini padaku. Mana boleh aku jatuh cinta padamu lagi. Pintu kamarku terbuka, Erik datang membawa dua gelas kopi.

“Jadi, menurutmu aku tidak penting, eh?” ucap Erik menyindir Rena.

“Bukan begitu, Erik. Aku kan sudah berharap Edo yang akan datang menjemputku, tapi dia tidak menepati janjinya. Kamu penting kok, bagaimana aku bisa sampai disini kalau bukan kamu yang menjemputku.” Bela Rena.

“Ng, taksi?” ucap Erik sinis.

“Iya sih. Tapi kan aku tidak tahu kalau Edo berada di rumah sakit. Ah, baiklah, maafkan aku. Aku salah berbicara.” Rena ngambek. Aku tersenyum melihatnya.

“Sudahlah. Kopi, Ren.” Kata Erik sambil menaruh gelas kopi Rena di meja kecil di sebelah kursinya.

“Do. Kalau nanti kamu sudah boleh keluar, kita bisa main di taman itu?” Tanya Rena tiba-tiba. Dia sudah memandang ke jendela kamarku. Rasanya hatiku sedikit sakit, seperti dihantam sebuah palu.

“Ya” ucapku. Rena tersenyum dan meminum kopinya. Tuhan, tolong jaga senyumnya untukku.

Lima hari sudah Renata selalu berada di kamarku. Dan lima hari itu pula aku tidak menemukan Amanda. Entah dia sedang sibuk, atau harus pergi ke luar kota, pokoknya Amanda tidak pernah menjengukku lagi semenjak kedatangan Renata. Renata memang cinta pertamaku, sahabat baikku, tetangga dekat rumahku, dan kuakui, aku lemah saat berhadapan dengannya.

“Rena mana?” tanyaku sambil mencari Rena, berharap kemudian dia akan muncul dari pintu.

“Ada sedikit urusan. Nanti akan menyusul.” jawab Erik malas-malasan. Aku melengos, padahal aku ingin mendengar cerita dari Rena lebih banyak lagi. Bagaimana saat dia berkuliah di luar negeri, bagaimana dengan kehidupannya disana, dan bagaimana dengan laki-laki yang telah memenangkan hatinya. Walaupun di pilihan terakhir itu, aku tahu aku akan sangat sedih jika mendengarnya. Ah, hobiku memang menyakiti diriku sendiri.

“Kamu harus menghentikannya, Do.” kata Erik tiba-tiba. Aku menolehkan kepalaku ke arahnya. Erik sedang membaca buku dan duduk di sofa tempat biasa dia tidur, menjagaku.

“Apa?” tanyaku berusaha tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Erik.

“Rena, Do. Jangan memberinya harapan palsu.” Jawab Erik singkat. Aku menghela nafas panjang. Aku juga tahu akan hal itu.

“Mana mungkin. Kita berdua tahu bahwa hal itu tidak akan terjadi lagi. Ada Amanda. Dan dia, entahlah, mungkin ada laki-laki dalam hidupnya. Tapi aku mana bisa membiarkan Rena begitu saja. Harus ada yang menjaganya, Rik.” Aku membela diri.

“Tidak ada.” Ucap Erik lagi. Aku melihatnya dengan pandangan bingung.

“Erik, apa maksudmu?” Tanyaku penasaran.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s