Airmata Rena (part 1)

Aku melihat dedaunan di pohon saling bergesekkan tertiup angin. Anak-anak kecil bermain bersama, beberapa pasangan duduk di kursi, membicarakan tentang hidup, kurasa. Ah, betapa menyenangkannya berada di luar. Aku memandangi kamarku yang berdinding putih bersih, berbentuk kotak dan tercium bau obat yang khas. Ada layar yang menyerupai televisi lama tepat disamping kananku membuatku harus duduk agak tegak untuk melihat ke arah jendela. Beberapa selang terpasang di hidung dan tanganku. Sunyi sekali disini, hampir seperti tidak ada kehidupan. Aku memandang mereka yang berada di luar dengan iri. Tiba-tiba pintu kamarku terbuka, dengan keras. Seorang gadis berambut panjang sebahu masuk dengan membawa sebuah buket mawar berwarna putih. Gadis itu sedikit terengah-engah. Dress selututnya yang berwarna biru dan cardigan yang menutupinya terlihat cocok dengan rambutnya yang kini memanjang. Aku tersenyum. Gadis itu berjalan menuju arahku.

“Pembohong.” Ucapnya. Aku tersenyum mendengarnya, aku tahu itu kata pertama yang akan diucapkannya padaku.

“Rambutmu panjang.” Kataku sambil menyentuh ujung rambutnya. Dia menatapku penuh kekesalan.

“Kamu bilang akan menjemputku di bandara dan membawakanku buket mawar putih.” Gadis itu masih menatap mataku dengan tajam.

“Aku menunggumu. Aku mencarimu. Aku melihat ke segala arah, tapi kamu tidak ada. Kamu bahkan tidak menjawab telepon dan pesan-pesanku.” Lanjut gadis itu. Kali ini, suara bergetar. Aku menggenggam tangannya.

“Kemudian Erik datang, membawa bunga untukku, tapi kamu tidak ada. Pembohong.” Lanjutnya lagi. Kali ini ada banyak jeda dalam kalimatnya.

“Maafkan aku.” Kata-kata itu akhirnya terucap juga. Gadis itu menghela nafas dan memelukku, sangat erat. Erik yang berdiri di pintu mengangguk dan menutup pintu. Aku menyentuh wajahnya, masih sama seperti dulu, mata cokelatnya yang selalu membuatku penasaran, bibirya yang selalu menyunggingkan senyum. Betapa aku merindukannya.

“Aku merindukanmu” biskku. Dia mengangguk seakan mengerti perasaanku. Aku menyadarkan kepalaku di bahunya. Aku ingat, dulu dia yang selalu seperti ini. Dan kemudian dia akan menangis dan aku tidak diizinkan untuk bergerak. Setelah dia puas menangis, baru aku akan mencium keningnya dan mengatakan bahwa semua baik-baik saja. Aku bisa merasakan tangannya mengelus punggungku.

“Sakit, Do?” tanyanya. Aku menggelengkan kepalaku.

“Ada kamu jadi tidak sakit” godaku. Dia tersenyum dan memelukku lagi.

I’m here” bisiknya. Tuhan, saat ini saja, kalau Kau benar-benar ada, kumohon jangan membawaku pergi dulu.

Aku terbangun saat terdengar beberapa orang sedang berbicara. Entah berapa lama aku tertidur, matahari sudah akan pergi, hanya sisa-sisa sinarnya masuk melewati celah tirai di kamarku. Dua orang wanita sedang berbicara. Yang satunya Rena, dan satunya lagi, Amanda. Amanda tersadar akan aku yang sudah terbangun. Gadis berambut keriting berwarna cokelat itu tersenyum. Rena sendiri baru mengarahkan wajahnya padaku, setelah Amanda tersenyum. Hari ini rambut panjangnya diikat kebalakang, menyisakan poni yang menutupi keningnya. Tindikkan yang berada di telinga sebelah kanannya terlihat. Hari ini dia kembali menjadi Rena yang dulu kuingat. Memakai kaos dan celana jeans, jaket kulit berwarna hitam, dan sneakers. Dia tersenyum dan berjalan menujuku.

“Halo, tukang tidur” sapanya. Aku tersenyum dan memegang tangannya. Ah, hangat sekali.

“Kamu sudah berkenalan dengannya?” tanyaku sambil melirik Amanda. Rena mengangguk.

“Dia cantik.” Ucapnya singkat. Aku tersenyum lagi. Amanda mendekat, Rena menarik tangannya dan mundur.

“Aku harus kembali ke kantor.” Ucap Amanda. Aku menunjukkan kebingungan di wajahku.

“Aku sudah terlalu lama memonopolimu. Biarkan Rena yang menjagamu ya. Dan, ada beberapa urusan yang menuntutku untuk pergi ke kantor. Have fun with your best friend” lanjut Amanda yang kemudian menicum pipiku. Amanda memeluk Rena dan pergi meninggalkan kamarku. Rena menarik kursi untuk berada di dekatku. Dia mengambil sebuah apel dan mengupasnya.

“Dia juga baik, Do.” Rena berbicara memecah keheningan. Aku tidak menghiraukannya, aku asik memandangi daun-daun pohon yang terkena siraman sinar matahari.

“Sudah berapa lama, Do?” Tanya Rena lagi. Aku diam tidak menjawab.  Rena berhenti mengupas apelnya dan menungguku menjawabnya. Bola matanya bergerak gerak melihat ke arahku. Aku tidak suka membicarakan hubunganku dengan Amanda. Terutama pada Rena. Tapi aku tahu, Rena tidak akan berhenti melihatku sampai aku memberinya respon yang dia inginkan. Aku menghela nafas panjang.

“Awal kuliah. Sampai sekarang.” Jawabku lagi, berusaha detil tapi singkat.

“Jaga dia baik-baik, Do. Jangan ninggalin dia.” Rena berbicara sambil melanjutkan mengupas apelnya. Aku hanya diam tidak menjawab.

“Apel, Do” Rena menawariku sebuah potongan apel. Aku mengambilnya. Rena berhenti memotong apelnya dan kemudian memegang tanganku. Aku menatapnya, mata cokelatnya kembali mengusikku.

“Kamu tidak akan kemana-mana, kan?” tanyanya. Aku mengunyah apelku dan tersenyum.

“Janji, Do. Janji jangan kemana-mana. Ini semua sementara, kamu akan sembuh lagi. Kamu akan menemaniku lagi, kamu akan selalu ada buatku. Semuanya akan baik-baik saja dan kembali seperti dulu. Kumohon, Do. Janji.” Mata cokelat Rena kini penuh dengan air. Aku tidak sanggup melihatnya.

“Hei, hei, hei. Hentikan tangisanmu. Rena. Dengarkan aku, semua akan baik-baik saja. Oke?” aku berjanji padanya. Rena menenggelamkan wajahnya di dadaku. Airmatanya jatuh mengenai gaun rumah sakit yang kupakai. Ah, satu hal yang aku antisipasi dari dulu adalah melihat Rena menangis, menangisku terutama.

“Renata, kamu sudah mulai menyukai rumah sakit?” tanyaku iseng. Rena mengangkat wajahnya, walaupun basah, matanya masih bisa menatapku dengan tegas.

“Kamu memang paling bisa merusak suasana, Do. Harusnya ini kan saat-saat romantis.” Rena merengut. Aku tertawa.

“Bisa gawat kalau kamu menyukaiku lagi, Rena.” Aku menjawabnya dengan serius. Rena mengangguk.

“Amanda” gumamnya. Aku hanya mengangguk. Kemudian melihat ke luar jendela. Orang-orang berlomba pergi. Rena melepas pelukannya dan kemudian menyuapiku sepotong apel lagi. Kita tenggelam dalam pikiran masing-masing, kesunyian kembali menyeruak, menemani.

(bersambung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s