Jam Sepuluh

Aku memandang telepon selulerku tanpa henti. Sudah lebih dari jam sepuluh. Tidak ada tanda-tanda salah satu benda kesayanganku itu akan berbunyi. Aku menghela nafas menunggunya. Seharusnya ini berjalan sesuai tahapan yang selalu aku lewati. Aku sangat tidak menyukai kalau semuanya tidak dalam urutan-urutan atau rencana-rencana yang telah kubuat, di dalam kepalaku. Televisi yang terus mengeluarkan suara pun tidak kuhiraukan. Kenapa hari ini? Ada apa dengannya? Aku mengecek telepon selulerku berkali-kali, apakah aku meninggalkan chat tanpa dibalas, atau dia membalas tetapi aku tidak membacanya? Tapi tidak membuahkan hasil sama sekali. Menyebalkan. Aku menarik selimutku sampai sebatas leher. Sudahlah, aku tidak peduli lagi, batinku dan memejamkan mataku.

Telepon selulerku berdering. Tapi ini bukan jam sepuluh malam, ini jam sepuluh pagi. Aku melihatnya sekilas. Dia meneleponku. Aku membiarkannya terus berdering, tidak pedul. Aku  harus  menyelesaikan beberapa tugas kuliahku yang harus dikumpul sore ini. Dia memang pantang menyerah, teleponku dibuatnya terus berbunyi. Dengan jengkel aku mengambil telepon selulerku dan menekan tombol decline, kemudian aku mengaktifkan profil diam. Aku melemparkan ponselku ke atas sofa dan mulai mengerjakan tugas-tugasku. Bunyi getar teleponku hampir mengagetkanku. Ah, menyebalkan. Aku tetap tidak mengindahkannya, biarlah, kemarin malam pun dia tidak menepati janjinya padaku, ucapku dalam hati. Aku kembali membuat diriku fokus pada tugas-tugasku dan tumpukkan-tumpukkan buku di atas meja.

Tepat jam sepuluh malam teleponku berdering. Aku tersenyum memandangnya dan menekan tombol berwarna hijau.

“Halo” sapaku.

“Hai.” jawab suara diseberang telepon.

“Kamu tidak meneleponku kemarin malam.” sahutku.

“Maaf, pekerjaanku di kantor semakin banyak, dan kemarin aku sangat lelah. Kamu menungguku?”

“Tidak. Aku juga banyak tugas kuliah” jawabku mengelak.

“Benar? Syukurlah kalau begitu. Bagaimana kegiatanmu hari ini?”

“Aku harus mengerjakan tugas kuliah yang harus dikumpulkan sore ini. Menyebalkan.” jawabku. Aku memeluk gulingku.

“Hahaha. Ah, leganya aku mendengar suaramu malam ini.” tawanya. Aku tersenyum mendengar kata-katanya.

“Lain kali, kalau kamu tidak bisa meneleponku, sebaiknya kamu memberitahuku dulu. Jadi aku akan segera tidur dan tidak menunggu telepon darimu” ucaku mengingatkan.

“Jadi benar kemarin kamu menungguku?” ejeknya. Ah, bodohnya aku.

“Maafkan aku ya.” ucapnya.

“Santai saja. Aku kan tidak hanya menunggu telepon darimu saja” elakku lagi. dia terdiam. Ah, kenapa aku harus mengatakan hal itu.

“Baiklah, besok aku harus bekerja pagi-pagi. Selamat tidur.” dia memutuskan pembicaraan.

“Ya. Selamat beristirahat” jawabku dan mematikan teleponku. Bodoh, batinku. Aku menenggelamkan kepalaku ke bantal. Ah, aku merusak segalanya.

Perpustakaan kampus terlihat sepi jam segini. Masih banyak para mahasiswa yang ada kelas di jam sepuluh, terutama para mahasiswwa baru. Pergi ke perpustakaan memang lebih nyaman di pagi hari, selain para petugasnya masih ramah, buku-buku pun masih lengkap. Aku memasukkan beberapa buku yang baru saja kupinjam ke dalam tas. Seseorang menepuk pundakku. Aku menoleh dan dia ada disana. Aku tersenyum meresponnya.

“Kemarin kamu tidak mengangkat teleponku” ujarnya.

“Aku harus mengerjakan beberapa tugas, Dio.” jawabku membela diri.

“Bisa dimaafkan. Tapi, tidak membalas pesan-pesanku?” Dio bertanya lagi. Aku menatapnya dan menghela nafas.

“Aku lupa, Dio. Aku sangat sibuk kemarin. Bukannya kamu juga? Aku tidak mau hubungan kita ini mengganggu perkuliahan kita, Dio. Ayolah, kita sudah berpacaran hampir tiga tahun dan kamu masih tidak mempercayaiku?” tanyaku balik, ingin menimpakan perasaan bersalah padanya.

“Galuh, maaf.” ucap Dio menyesal. Aku tersenyum, merasa senang melihat Dio merasa bersalah. Aku memang jahat.

“Es krim?” ajakku. Dio mengangguk dan menggenggam tanganku. Aku melepaskannya, beralasan bahwa aku harus membalas pesan dari Ibuku. Dio berjalan di depanku, sementara aku sibuk menuliskan sebuah pesan singkat, bukan pada ibuku.

Jam sepuluh malam, telepon selulerku kembali berdering. Aku yang baru saja keluar dari kamar mandi berlari mengambil teleponku di atas meja belajar. Aku sudah menunggunya.

“Hai” sapaku.

“Kamu sedang menungguku?” tanyanya. Aku duduk di kursi meja belajarku.

“Kalau aku jawab iya?” ucapku balik bertanya. Suara itu tertawa.

“Bagaimana hari ini? Menyenangkan?” tanyanya lagi. Aku hendak menjawab iya tapi aku menahannya.

“Lumayan” jawabku berbohong.

“Mungkin kalau ada aku akan jadi menyenangkan” ujarnya lagi. Aku tidak membalasnya, karena aku tahu itu percuma saja. Berargumen dengannya sangat menyakitkan. Lagipula, kemarin aku dan dia sudah berkelahi, untuk apa lagi aku membuat hari ini menjadi menyedihkan.

“Mungkin kita harus menghentikan ini, Luh.” dia berkata. Aku terdiam. Itu pilihan yang tidak kupertimbangkan belakangan ini. Dulu, iya, tapi tidak sekarang.

“Mungkin kita harus kembali pada saat sebelum kita bertemu. Saat duniamu hanya ada Dio, bukan aku” lanjutnya. Aku menghela nafas. Tidak. Ini tidak boleh terjadi. Aku bertemu Rizky hampir satu tahun, Dio mengenalkan kami berdua. Dan kemudian hal itu berlanjut sampai sekarang, awalnya hanya ajakan makan malam biasa, meminta tolong hal-hal yang tidak bisa Dio lakukan untukku, dan akhirnya sampai di titik ini. Sampai dimana aku harus memilih, priaku di pagi hari kah atau priaku di malam hari. Aku sayang Dio, aku juga sayang Rizky. Seandainya aku bertemu Rizky lebih dulu, mungkin aku akan bersamanya. Menyakiti hati mereka tidak termasuk dalam pilihanku.

“Galuh, pikirkanlah. Kita harus mengakhirinya, atau melanjutkannya dengan syarat kamu harus memutuskan Dio. Aku tidak ingin sampai dimana aku terlanjur menyayangimu, dan terlanjur susah untuk melepaskanmu. Kalau kita berpisah sekarang, sakit itu akan ada, tetapi kurasa tidak akan sesakit nanti, Luh” Rizky melanjuntkan kalimatnya. Aku mengkerucutkan bibirku. Aku tahu itu. Jam sepuluh pagi kah, atau jam sepuluh malam yang akan kupilih? Aku menggelengkan kepalaku, pilihannya terlalu berat. Aku hanya bisa diam, tidak tahu harus menjawab apa.

-A-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s