Menulis atau Tidak?

Pengalihan selalu saja ada setiap kali aku ingin menulis. Entah dari telepon selulerku yang terus berdering, dari akun sosial mediaku yang terus membunyikan pemberitahuan, dari kakakku yang tidak bisa tidak bolak-balik keluar masuk kamarku, dari ibuku yang selalu memanggilku untuk mengerjakan pekerjaan rumah, dari acara televisi kesukaanku, atau bahkan dari kucingku yang berlarian di dalam kamarku. Aku menghela nafas panjang menatap layar kosong di laptopku. Apa yang sebaiknya aku tulis ya? Ide selalu berada dimana saja, kata penulis kesukaanku via akun twitternya. Ide memang banyak, tapi apakah ideku layak untuk dituliskan. Apakah bpikiranku bisa berkembang biak dan menghasilkan suatu tulisan yang menarik? Aku sendiri meragukannya. Ya, aku tidak begitu paham mengenai EYD, atau diksiku masih sangat kurang jika dibandingkan dengan beberapa penulis pemula sepertiku di sebuah forum mengenai penulisan. Aku menghela nafas panjang dan menyandarkan badanku di kursi. Aku melihat ke bawah meja belajar dan melihat kucingku sedang tertidur pulas. Aku tersenyum, hari yang cerah untuk bersantai. Telepon selulerku berbunyi, sebuah nama yang tidak asing muncul di layar. Brama. Kuputuskan untuk menutup laptopku dan mengangkat telepon dari dia. Menulis bisa nanti, tapi Brama, tidak.

Aku mematut-matutkan diriku di cermin. Apa tidak apa-apa aku hanya memakai kaos dan celana jeans saja? Bagaimana rambutku? Apa harus kugerai atau diikat saja? Aku menghempaskan diriku di atas tempat tidur. Memusingkan. Mengapa harus sangat repot hanya untuk pergi? Apa karena itu Brama? Aku menggelengkan kepalaku dengan keras. Justru karena itu Brama, aku harusnya lebih bersikap seperti diriku. Ah, menyebalkan. Kucingku terbangun dan keluar dari tempat persembunyiannya, menguap lebar lalu melompat ke atas tempat tidur.

“Siapa yang memberimu izin untuk naik kesini, Iyo?” tanyaku padanya. Iyo tidak mempedulikanku dan berhenti di atas bantalku, kemudian bersantai dan menjilati badannya.

“Iyo, aku paling nggak suka kalau kamu tidak mendengarku” kataku lagi. Iyo menghentikan apa yang sedang dilakukannya dan menatapku.

“Kamu nggak terima? Kamu menantangku?” tanyaku. Iyo tampak tidak mengindahkanku dan kemudian melanjutkan kegiatannya, menjilat badannya. Aku menghela nafas. Dasar kucing sombong. tiba-tiba pintu kamarku terbuka, kakakku mengintip dari balik pintu kamar.

“Kamu bicara sama Iyo lagi?” tanyanya. Aku bangun dari tempat tidurku dan mengangkat bahuku.

“Sebaiknya kamu memeriksakan dirimu. Aku ingin tahu apa kamu terkena gangguan atau tidak. Dan apakah aku kira-kira akan…” kakakku berhenti ketika aku melempar bantalku ke arahnya. Menyebalkan.

“Baiklah. Ah, Brama menunggumu di bawah.” ucapnya dan kemudian pergi. Menyebalkan. Kenapa dia tidak langsung mengatakan hal penting itu sih. Aku berdiri lagi di depan cerminku. Baiklah, begini juga tidak apa, batinku. Sebelum keluar kamar, aku mengganggu Iyo dengan menggaruk perutnya. Iyo melihatku dengan sebal, aku menjulurkan lidahku padanya dan keluar kamar. Ayo bersenang-senang dan mencari ide, ucapku pelan, menyemangati diriku sendiri.

Lagu kesukaan Brama sedang diputar di radio. Aku otomatis menaikkan volumenya. Brama tersenyum, tangannya dipukul-pukulkan sesuai irama di setir mobil, kepalanya pun ikut digoyang-goyangkan. Aku memperhatikan jalanan yang ramai. Semua orang mungkin sedang dalam perjalanan untuk makan siang juga. Diluar, matahari lagi gencar memancarkan sinarnya. Apa yang Iyo lakukan, ya? Mungkin dia bersembunyi di bawah meja lagi, batinku. Aku tersenyum sendiri mengingat Iyo.

“Kenapa, Sya?” tanya Brama tiba-tiba. Aku melihat ke arahnya, terkejut.

“Nggak. Tiba-tiba keingetan Iyo” jawabku. Brama mengangguk.

“Aku selalu kalah sama Iyo, ya?” celetuknya. Aku bingung mau menjawab apa. Disatu sisi, aku tidak ingin membuatnya keecwa. Disisi lain, pernyataannya memang tepat.

“Dalam hal tertentu, mungkin. Tapi sayang Iyo hanya kucing” jawabku. Brama hanya menyunggingkan senyum.

“Justru itu. Kenyataan bahwa dia kucing dan aku manusia, tetapi dia lebih sering membuatmu bahagia, itu agak sedikit mengganggu.” Brama mengutarakan perasaannya. Aku terdiam bingung hendak menjawab apa, lagi.

“Hei. Nggak usah terlalu dipikirin, Sya.” lanjut Brama sambil memegang bahuku. Aku menatap wajahnya.

“Maaf, Bram” ucapku pelan. Brama mengelus kepalaku dan tersenyum. Brama selalu tersenyum, bahkan saat seperti ini. Aku mengkerucutkan bibirku. Mendadak aku mengingat tulisanku. Ah, apa aku menceritakan Brama saja ya? Tapi tentang apa? Konflik apa? Aku kan tidak tahu apa yang Brama rasakan. Tidak banyak yang kami bicarakan setelah itu. Brama lebih fokus pada jalanan yang ramai, dan aku memfokuskan pada tulisanku hari ini.

“Terimakasih, Bram” ucapku ketika Bram mengantarku sampai kembali di rumah.

“Aku yang berterimkasih, Sya” katanya sambil memegang tanganku.

“Punya pacar yang luar biasa sabar dan mau ditinggal-tinggal kayak kamu itu, anugerah, Sya” lanjut Brama menggombal. Aku tersenyum malu.

“Padahal aku disini suka ngomongin kamu loh ke Iyo. Kamu aja yang nggak tahu.” jawabku. Brama tertawa.

“Ya sudah, aku pamit ya, Sya. Nanti perjalanan pulang macet. Kamu juga belum menulis, kan?” Brama pamit. Aku memanyunkan bibirku. Baru sehari bertemu, Brama sudah harus kembali lagi ke Bandung. Rasanya menyedihkan dan menyebalkan menjadi satu.

“Nanti saja ya. Lagi pula aku masih nggak tahu mau menulis apa” kataku menahannya. Brama tersenyum.

“Harus sekarang, Sya. Tuliskan saja tentangku, tentang Iyo, tentang aku bersaing dengan Iyo.” jawabnya. Aku tertawa. Brama memelukku erat. Ah, dia yang selalu datang tiba-tiba dan pulang terburu-buru, padahal aku masih merindukannya. Aku membalas pelukannya, tidak ingin melepaskannya.

“Ayo pamit Ibu dan Kak Ferdi” bisikku pelan. Brama mengangguk dan menggandengku. Aku sedang merancang tulisanku di dalam pikiranku. Apa yang akan aku tulis, akan kuganti siapa nama Brama dan Iyo, atau aku tetap memakai nama mereka? Atau bagaiman kalau Iyo mendadak berubah menjadi manusia? Haha, apa yang aku pikirkan. Aku menyenderkan kepalaku pada bahu Brama. Dia merangkulku dan mencium keningku. Pengalihanku hari ini Brama. Dan kalau Brama yang mengalihkanku dari tugasku hampir setiap hari, rasanya aku rela.

-A-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s