Kamu Tidak Gila

Aku meminum minuman berwarna oranye di dalam gelas yang tinggi. Kulihat gadis berambut cokelat dihadapanku hanya memainkan garpunya dengan makanan ala italia versi murah di atas piring. Dia tampak memikirkan sesuatu, matanya yang terus memandangi makanan yang hanya dimainkannya itu tampak seperti menembus piring dan meja, dia tidak sedang melihat apa yang ada di depan matanya. Beberapa motor berhenti di depan kafe dan pengendaranya turun, memasuki kafe yang tepat berada di pinggir jalan raya.

“Jangan-jangan aku sudah gila, Mo.” Ucap Resti tiba-tiba. Aku yang sedang fokus pada orang-orang yang lewat dan juga sedang meminum jus manggaku membelalakkan mata, bingung.

“Apa definisi gila menurut kamu?” tanyaku dengan heran.

You tell me” sahutnya. Aku mengangkat bahuku.

“Kan kamu yang kuliah di psikologi, Bimo. Bukan aku.” Katanya.

“Menurut kamu dulu deh, gila itu apa?” tanyaku. Resti mengerutkan alisnya, berpikir keras.

“Menurutku gila itu, losing my mind.” Jawab Resti.

“Sesederhana itu? Apa kamu kehilangan akal pikirmu, saat ini?” tanyaku. Resti mengkerucutkan bibirnya dan mulai memainkan makananya. Hal yang biasa dilakukan saat merasa bingung.

“Nggak sih. Entahlah. Tetapi aku merasa aku lama-lama akan kehilangan akal pikirku.” Jawab Resti. Dia menyendokkan makanannya ke mulutnya.

“Kenapa?” tanyaku singkat. Resti mengangkat bahunya.

“Berapa kali harus kuingatkan, kamu yang kuliah di psikologi, Bimo. Kamu yang mencari tahu.” ujarnya sedikit kesal. Aku tersenyum.

“Definisi gila itu subjektif, Res. Ada yang bilang gila itu berbeda dari norma-norma sosial. Ada yang bilang gila itu sakit, tidak bisa membedakan mana realita, mana fantasi. Bahkan menurut Albert Einsten, gila itu melakukan hal yang sama tetapi mengharapkan hasil yang berbeda. Gila menurut teori kuliahku merupakan salah satu gangguan jiwa, yang mengakibatkan ketidaknormalan dalam berpikir dan berperilaku sesuai dengan norma-norma sosial.” Jelasku panjang lebar. Resti mengangguk-anggukkan kepalanya seakan memahami apa yang baru saja aku jelaskan.

“Dan menurutku, kamu nggak gila. Kamu masih bisa mengerti norma-norma yang ada. Mungkin kamu hanya stress, Res” kataku.

“Stres? Aku? Apa bedanya dengan gila, Mo?” Tanya Resti yang haus akan penjelasan. Suara deru mobil-mobil dan kendaraan bermotor lainnya membuatku menahan jawabanku. Sudah sore dan semua orang berlomba-lomba memacu kendaraannya untuk segera pulang. Resti masih menatapku penasaran.

“Stres terjadi jika kamu dihadapkan pada peristiwa yang menurutmu mengancam kesehatan fisik ataupun psikologismu. Saat ini, kamu sedang merespon stress itu sendiri, berbagai macam laporan praktikum harus kamu kumpulkan dalam waktu bersamaan, Jaka dan kamu putus, Ayahmu baru saja terkena serangan jantung. Kamu sedang berada dalam tekanan yang sangat besar, Res.” Jelasku. Resti merenung dan mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja.

“Kalau aku nggak mengatasi stresku ini, apa yang akan terjadi, Mo?” Tanya Resti masih penasaran.

“Berujung agresif, atau malah apati dan menarik diri. Kalau semakin lama malah bisa jadi depresi. Itu dari mentalnya. Kalau dari fisiknya sih mungkin kamu jadi rentan akan penyakit dan infeksi, mungkin karena pola makanmu yang tidak teratur, sekarang contohnya. Kalau aku tidak mengajakmu keluar kos, kamu nggak akan makan kan?” ejekku. Resti tersenyum.

“Jangan terlalu percaya diri, Mo.” Timpalnya.

“Aku juga nggak akan membiarkanmu sendirian untuk saat ini” kataku sambil memperhatikan dia. Resti menunjukkan ekspresi bingung.

“Aku takut kamu melakukan hal yang yah, akan fatal jadinya. Cara setiap orang menilai sebuah peristiwa kan berbeda-beda, dan bisa mempengaruhi kerentanan masing-masing orang.” Jelasku. Resti tampak mengerti, menganggukkan kepalanya dan menyunggingkan senyum. Resti teman saat sekolahku dulu, kita baru benar-benar berteman dan berhubungan seperti ini ketika sampai di Jogja.

“Apa dari stresku ini aku bisa jadi gila, Mo? Kamu tahu, bunuh diri dan semacamnya.” Tanya Resti. Jus manggaku sudah hampir habis kuminum. Tiba-tiba terdengar suara ledakan. Anak-naka kecil bermain petasan. Resti melihat mereka dengan jengkel. Resti paling benci anak-anak kecil nakal seperti itu.

“Kalau aku punya rasa mau membunuh mereka, bagaimana menurutmu, Mo? Apa aku termasuk psikopat?” tanyanya lagi, setelah anak-anak kecil itu melempar petasan terakhir mereka dan kemudian berlari karena dimarahi tukang parkir di kafe.

“Makanya aku bilang aku nggak akan membiarkanmu sendiri menghadapinya. Stres bisa menjadi fatal kalau tidak diselesaikan, yah seperti perumpamaanmu tadi. Semua kemungkinan itu ada, Res. Makanya tugasku menjagamu.” Kataku ok bijak. Resti tertawa terbahak-bahak.

“Oke. Oke. Jadi, apa aku tergolong sebagai psikopat kalau aku ingin membunuh anak-anak kecil tadi?” Resti bertanya lagi. Aku mengahbiskan sisa jusku.

“Nggak. Kamu nggak memenuhi kriteria untuk menjadi psikopat, Res. Ada banyak kriteria yang harus dilihat kesesuaiannya denganmu. Tapi secara umum, nggak, kamu bukan psikopat. Psikopat selalu membuat kamuflase yang rumit, memutar balik fakta, menebar fitnah, dan kebohongan untuk mendapatkan kepuasan dan keuntungan dirinya sendiri.” Terangku, lagi-lagi berdasarkan teori saja.

“Makanya Res, kadang orang-orang selalu memakai istilah-istilah psikologis untuk memberi sebuah label. Aku nggak suka. Misalnya kamu mengatakan orang itu autis hanya karena dia sibuk bermain dengan handphonenya. Atau kamu mencap orang itu anti sosial hanya karena dia tidak mau berinteraksi denganmu. Atau, kamu mencap orang itu psikopat saat dia melakukan hal-hal aneh, diluar batas kewajaran.  Padahal mereka nggak ngerti apa arti itu semua. Mereka nggak ngerti jadi orang dengan gangguan mental.” Lanjutku. Resti menatapku tajam. Dia tampak sudah lupa akan makanannya.

“Makasih, Mo. Makasih mau diajak ngobrol begini.” Kata Resti. Aku tersenyum. Itu semua kan hanya berdasarkan teori yang aku pelajari saja, batinku. Prakteknya sendiri aku masih belum mempelajarinya di semester empat ini.

“Bahagia terus, Res.” Kataku memberi nasihat. Resti mengangguk dan tersenyum, kemudian melanjutkan makannya yang tertunda lama. Kendaraan-kendaraan masih berlalu-lalang. Semakin sore, semakin padat jalanan di depan kafe ini. Suara klakson bergantian, saling bersahutan.

-A-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s