Aku Sayang Kamu

Segelas teh manis dengan asap yang masih keluar dari dalamnya baru saja ditaruh di atas meja dihadapanku. Seorang perempuan pun duduk tepat di seberangku. Perempuan itu menaruh nampan yang dibawa di atas meja dan menyandarkan badannya ke kursi.

“Diminum, Rald” ujarnya. Aku mengangguk. Aku tahu teh itu masih panas, jadi aku hanya memandanginya.

“Aku nggak kemana-mana kok, Rald” sahut perempuan itu. Aku tersenyum.

“Jadi, di rumah aja nih kita?” godaku. Dia tertawa.

“Hujan juga.” Balasnya sambil mengarahkan kepalanya keluar. Aku melirik keluar. Hujan deras memang sedang mengguyur kotanya. Kota yang selalu dia bangga-banggakan. Kota yang katanya adalah kota yang paling bersih di seluruh Indonesia.

“Tapi aku sudah terlanjur membeli tiket nonton nih” ujarku sambil mengeluarkan dua buah tiket dan menaruhnya di atas meja.

“Ya  sudah, kita nonton” katanya menyerah dan memainkan tiketnya.

“Tapi katamu hujan” godaku lagi.

“Sudah jauh-jauh kamu datang, masa mau di rumah aja?” jawabnya sambil menggoyang-goyangkan kakinya.

“Nggak apa, yang penting ada kamu.” Gombalku. Dia menahan tawa, menutup mulutnya dengan tangannya.

“Fara, aku boleh ke kamar mandi?” tanyaku. Perempuan yang bernama Fara itu mengangguk dna menunjuk sebuah pintu. Aku bangkit dari dudukku.

“Rald, jangan lama-lama yah.” katanya.

“Kenapa?” tanyaku heran.

“Nanti aku kangen.” Candanya. Aku tertawa dan menggeleng-gelengkan kepalaku. Dia ini memang paling bisa. Aku berjalan sambil tersenyum menuju kamar mandinya.

Teh panasku sudah dingin dan sisa separuh gelas. Fara sibuk membuka-buka halam majalah di tangannya. Kulihat hujan tidak menunjukkan keinginannya untuk berhenti turun. Aku menghela nafas panjang. Sudah hampir satu jam aku berada di rumah Fara. Selama hampir satu jam itu pula Fara dan aku duduk di ruang tamu rumah Fara, berbicara mengenai hujan, lingkungan, dan hidup.

“Rald. Aku siap-siap ya.” Ucapnya sambil menutup majalahnya. Aku mengangguk. Fara bangkit dan berjalan menuju kamarnya.

“Eh, Ra..” panggilku. Fara berhenti dan memutar badannya.

“Jangan lama-lama” ucapku.

“Nanti kamu kangen?” godanya.

“Nggak. Nanti telat.” Ucapku bercanda. Fara tertawa sebentar kemudian memajukan bibirnya, dan mendengus kesal. Fara bergegas ke kamarnya. Rambut hitam panjangnya menjuntai indah dan bergoyang-goyang setiap dia melangkahkan kakinya.

Kota dimana Fara tinggal hanyalah sebuah kota kecil. Jalanan protokol tidak terlalu besar dan tidak memusingkan layaknya kotaku. Angkutan umum di kota Fara hanyalah angkot dan ojek. Kota Fara tidak pernah terserang penyakit “macet”, walaupun hampir semua penduduknya memiliki kendaraan bermotor lebih dari satu. Kota Fara adalah kota yang kaya akan salah satu kekayaan alam, minyak. Tetapi, begitu melihat gaya hidup penduduk disini, sudah hampir sama dengan kotaku, hedon dan tingkat tinggi. Taksi yang kami tumpangi berhenti, terkena lampu merah. Aku memandangi perempuan yang duduk di atas motor di sebelah taksi yang aku tumpangi. Padahal hujan sangat deras, tapi perempuan itu tetap saja berkendara tanpa menggunakan jas hujan. Dia memeluk laki-laki di depannya dengan erat, seakan dua magnet yang menempel.

“Heran, Rald?” Tanya Fara tiba-tiba. Dia memperhatikanku juga, rupanya. Aku mengangguk.

“Sudah biasa itu. Prinsip mereka ‘biar saja basah, yang penting tetap penuh gaya’” terang Fara. Aku melongo mendengarnya. Prinsip macam apa itu.

“Dulu kamu begitu juga?” tanyaku iseng.

“Iya. Kalau pakai jas hujan itu kayak ojek” jawab Fara mantap. Aku tertawa. Supir taksi itu kulihat melirik ke arah kami dan tersenyum.

“Tapi…” aku menghentikan kata-kataku saat melihat Fara ingin mengatakan sesuatu.

“Iya. Biar nggak basah. Tapi mau gimana. Untuk anak-anak seumuran mereka, bahkan sampai seusia kita ini pun, masih banyak yang nggak mau pakai jas hujan.” Terang Fara. Aku tidak mau berargumen dengannya. Jarang aku bertemu dengannya, dan ketika bertemu aku harus menahan emosiku. Taksi yang kita tumpangi mulai berjalan. Gadis di atas motor bersama laki-laki itu pun sudah melaju dengan kencang. Cipratan-cipratan air ditimbulkan oleh motor itu. Beberapa pengendara sedikit jengkel, terutama mereka yang naik motor. Tiba-tiba Fara merangkul tangan kananku, kepalanya bersandar di bahuku.

“Kenapa?” tanyaku. Fara menggeleng-gelengkan kepalanya. Rambutnya bersentuhan dengan kemejaku.

“Kangen” bisiknya. Aku melepaskan pelukannya dan merangkulnya. Aku juga, bisikku.

Sesampainya di tempat tujuan, kami bergandengan masuk ke dalam mal. Aku melihat jam di tangan kananku, masih lumayan lama, tiga puluh menit lagi.

“Mau makan atau minum dulu, Ra?” tanyaku. Fara menggeleng.

“Langsung ke bioskop?” tanyaku lagi.

“Iya. Duduk disana aja lah” jawab Fara. Baru sebentar kita berjalan, tiba-tiba Fara menghentikan langkahnya dan memandang jauh. Fara memicingkan matanya. Aku penasaran dan melakukan hal yang sama. Dari jauh seorang wanita mengenakan dress panjang menutupi mata kaki dan jilbab menutupi kepalanya.

“Faradilla Ganisha!” seru wanita itu. Fara tersenyum, sudah lama mungkin orang memanggilnya dengan nama lengkapnya.

“Halo, Astrid” sapa Fara ketika dia sudah mendekat. Wangi parfum wanita yang bernama Astrid itu menyeruak masuk ke dalam hidungku.

“Apa kabarmu?” Tanya wanita bernama Astrid setelah menyalami Fara.

“Beginilah. Bahagia.” Jawab Fara. Aku tersenyum mendengarnya.

“Masih inget Gerald, Trid?” Tanya Fara lagi. Astrid melihatku dan tersenyum.

“Nggak mungkin lupa, walaupun Cuma sesekali ketemu. Halo, Gerald.” Jawab Astrid. Aku yang lupa, batinku.

“Kamu sendirian?” Tanya Fara. Astrid menggeleng.

“Suami dan anakku lagi mengantri beli donat” jawabnya sambil menunjuk ke arah took donat yang terkenal dan ramai.

“Sampai kapan kamu disini, Rald?” Tanya Astrid berusaha mengakrabkan diri denganku.

“Sampai Fara bosan” jawabku enteng. Fara mencubitku pelan dan tersenyum.

“Kalian ini. Menikahlah.” Kata Astrid. Kami berdua terdiam. Fara berusaha tersenyum. Seorang anak laki-laki berlari menuju kea rah kami. Astrid menoleh dan tertawa melihatnya. Suaminya menganggukkan kepalanya kepada kami.

“Bang, ini Fara, teman sekolahku. Dan Gerald, pacarnya.” Kata Astrid sambil memperkenalkan diri kami pada suaminya. Suaminya menyalami kami dan tersenyum. Aku melirik jam tanganku. Lima belas menit lagi akan dimulai. Aku memberi kode pada Fara, dan Fara mengangguk.

“Astrid, kita pamit dulu ya. Mau nonton.” Kata Fara. Astrid dan suaminya mengangguk. Kami bersalaman sebentar saja dan langsung pergi meninggalkan mereka. Genggaman tangan Fara semakin erat. Ketika menaiki tangga berjalan Fara bertanya padaku.

“Apa kita bisa seperti mereka?” tanyanya pelan.

“Kalau kamu mau, aku akan melamarmu.” Jawabku tegas. Fara tersenyum, tapi aku tau bahwa dia sedih.

“Menikah di luar negeri bisa, Ra. Tergantung kamu ini semua.” Ucapku lagi. Fara masih diam.

“Aku mau seperti kakakku, Rald. Kedua orang tuaku ada, kedua orang tua istrinya juga ada.” Kata Fara.

“Sudahlah. Jangan khawatir. Kita bisa menyelesaikan ini. Yang perlu kita khawatirkan saat ini, apakah filmnya sudah dimulai atau belum.” Ucapku menenangkan Fara. Fara menggenggam tanganku semakin erat.

“Aku sayang kamu” bisiknya sambil menaruh kepalanya di bahuku. Aku merangkulnya dan membelai rambutnya. Aku juga sayang kamu, bisikku.

Advertisements

One thought on “Aku Sayang Kamu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s