Surat

Aku mengambil beberapa amplop berwarna-warni yang sudah sedikit usang dari dalam sebuah kotak di atas rak bukuku. Kutaruh tumpukkan amplop itu di atas meja kerjaku dan aku segera duduk, menyilakan kakiku di atas kursi. Aku membuka tali yang mengikatnya dan kuambil amplop berwarna biru di tumpukkan paling atas. Ada namaku tertulis di depan amplop itu. Kukeluarkan kertas yang berada di dalamnya dan mulai membaca.

11 Agustus 2009

Ardelia Talitha, apa kabarmu disana? Kabarku baik-baik saja. Entah kenapa menulis surat rasanya terlihat lebih menyenangkan dibandingkan mengirim sebuah pesan singkat untukmu (tapi aku tetap akan mengirimkan pesan singkat kok. Jangan marah, please). Hari ini hujan turun sejak pagi dan tiba-tiba aku terpikir untuk memebritahunya lewat sebuah surat. Bagaimana kalau aku menulis untukmu setiap tanggal sebelas di setiap bulannya? Kamu pun harus mengirimkan balasannya untukku. Aku tahu kamu sangat membenci menulis, tapi kamu kan suka menuliskan pesan-pesan singkat untukku, jadi tidak ada bedanya kan?

Bagaimana kabar kedua orang tuamu? Aku harap mereka baik-baik saja. Ibuku disini sedang sakit, tapi jangan khawatir, aku sudah merawat beliau dengan baik. Jaga kesehatanmu ya! Juga kesehatan kedua orang tuamu. Ah, hujan semakin deras. Seandainya kamu ada disini, kamu pasti akan berlarian ke luar rumah, “hujan adalah berkah”, katamu. Hujan ini mengingatkanku padamu. Aku bingung harus menulis apa lagi untukmu. Semoga bulan depan aku bisa menceritakan sesuatu yang menarik untukmu. Aku harus menyudahi surat ini, aku harus pergi menjemput Rina. Semoga kamu selalu dalam keadaan sehat ya, Tha.

Rama

Aku membenarkan posisi dudukku, melipat kertas tadi dan memasukkannya ke dalam amplop. Aku memandang keluar jendela, saat ini juga hujan, Ma. Aku membuka lagi surat selanjutnya.

11 September 2009

Halo Ardelia Talitha. Terimakasih telah membalas suratku, walaupun aku tahu kamu membalasnya dengan susah payah untuk merangkai kata-kata. Terimakasih telah meluangkan waktumu yang selalu kamu gunakan untuk belajar (mungkin) untuk menuliskan balasan suratku. Jadi, bagaimana kabarmu? Masih sibuk berkutat dengan perkuliahanmu kah? Bagaimana dengan keadaan di kotamu yang baru? Kuharap bulan ini kebencianmu akan kotamu yang baru ini menurun. Bertemanlah, bersosialisasilah.

Kerjaanku disini lumayan menyenangkan. Akan lebih menyenangkan kalau kamu ada disini, menurutku. Aku tahu kamu pasti akan berpura-pura muntah dan tertawa membacanya. Ya, aku bisa melihatmu, Tha. Hari ini tidak hujan, matahari bersinar cerah, panasnya akan sangat menyengat kalau aku keluar dari kantorku, tampaknya. Oh, seandainya kamu bermain kesini, bagaimana kalau kita pergi kencan? Menonton film mungkin? Ya, disini sudah ada bioskop baru yang sangat ramai, tentunya. Jadi, kapan kamu akan kesini? Baru dua bulan saja aku sudah merindukanmu. Ah, sudahlah, aku harus kembali mengerjakan pekerjaan-pekerjaanku. Jaga dirimu ya, Tha. Semoga selalu sehat.

Rama

Selesai membacanya, aku melipatnya lagi. Aku menaruh kepalaku ke atas meja kerjaku dan melihat hujan yang membasahi jendelaku. Aku pun mengeluarkan ipodku dan segera memainkan musik yang ada di dalamnya. Lucky, dinyanyikan ulang oleh pemain serial televisi Glee, Chord Overstreet dan Dianna Agron. Sial, batinku dalam hati. Aku mengangkat kepalaku dan membuka surat yang sekarang urutannya sudah tidak urut lagi.

11 Februari 2010

Dearest Litha. Sebentar lagi akan ada festival di kota ini. Ah, rasanya baru kemarin kamu ada disini dan sekarang kamu sudah jauh lagi disana. Rasanya berat meninggalkanmu di bandara bulan lalu. Kamu tahu betapa inginnya aku memegang tanganmu, dan mengatakan untuk tetap tinggal. Betapa ingin aku memelukmu lebih erat dan tidak melepaskannya sampai pesawatmu pergi, dan kamu tidak berada di dalamnya. Ah, aku menjadi orang romantis yang kamu tidak suka, ya? Maafkan aku.

Bagaimana kabarmu?  Aku tau aku sering menanyakan hal yang sama setiap hari, hanya saja, kau harus tahu betapa khawatirnya aku tanpamu. Berada dalam beribu-ribu kilometer jauhnya darimu sangat menyiksaku. Aku harus bersabar untuk bertemu denganmu. Ah. Aku baru sadar kalau sebentar lagi hari kasih sayang akan datang. Jadi kurasa suratku edisi bulan ini tidak apa-apa yah bernuansa romantis.

Aku merindukanmu. Setiap kali aku melewati taman di dekat rumah kita, aku akan mengingat kamu yang suka berayun tinggi. Setiap kali aku pergi ke supermarket di dekat rumah kita, aku akan mengingat bagaimana dulu kita suka bermain saat berbelaja disana. Setiap kali aku makan di warung langganan kita, aku akan mengingat bagaimana kamu selalu memberikan separuh nasimu kepadaku. Setiap kali aku memakai parfum, aku akan mengingat bagaimana kamu akan memelukku dan berkata, ‘aku suka wangimu’. Setiap kali aku pergi ke toko buku, aku akan mengingat bagaimana kamu akan berkata ‘jangan lama-lama’ tetapi kamu teta akan menemaniku selama mungkin aku berada disana.

Ah Ardelia Talitha. Bagaimana kalau kita segera menikah saja?

Ps, aku serius.

Rama

Hujan semakin deras di tanggal sebelas bulan Agustus, setahun kemudian setelah kamu mengirimkan surat pertamamu. Lagu Lucky masih mengalun, berulang-ulang. Lai-lagi aku membaringkan kepalaku ke atas meja dan menatap cincin di jari manis tangan kiriku. Cincin darimu, sebulan setelah kamu melamarku melalui surat. Hanya cincinnya yang sampai, tapi kamu tidak. Kecelakaan pesawat itu membuatmu meninggalkanku sendiri.

They don’t know how long it takes

Waiting for a love like this

Every time we say goodbye

I wish we had one more kiss

I’ll wait for you, I promise you

-A-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s