Pertemuan yang Tertunda

‘Maaf ya, aku hari ini mendadak ada tugas dari kantor.’ Ketikku dengan terburu-buru sambil melangkahkan kaki menuruni anak tangga. Kalau lagi terburu-buru dan memakai sepatu berhak tinggi dan lagi lift sedang mengantri, turun ke lantai dasar bukanlah hal yang mudah. Apalagi aku bukanlah mantan anggota olahraga. Ketika sampai di lantai dasar dari lantai tiga, aku tidak memperlambat gerakku. Setengah berlari aku menuju ruang tunggu. Sesampainya disana aku terengah-engah. Kulayangkan pandanganku ke kanan dan ke kiri, orang yang meneleponku beberapa menit yang lalu tidak ada. Aku berjalan menuju arah resepsionis.
“Nona, tadi Bapak Hadi ada disini?” Tanyaku pada respsionis yang sedang berkutat dengan komputer di hadapannya.
“Oh, iya, Ta. Tapi beliau sudah harus pergi karena ada meeting. Ini..” Ujar Nona menyerahkan sebuah amplop berukuran A4 yang bertuliskan namaku di atasnya. Aku menghela nafas panjang. Sia-sia aku berlari dari lantai tiga. Aku pikir Pak Hadi juga mau menemuiku. Aku mengucapkan terimakasih dan melangkah menuju kursi-kursi di ruang tunggu. Handphoneku bergetar di kantong jas kerjaku. Aku mengeluarkannya dan membuka kunci handphoneku. Ada pesan balasan dari dua orang temanku yang baru saja kukirimkan pesan.
‘Gak papa, Ta. Selesaikan dulu.’ Balas temanku dengan bijak.
‘Santai, Ta. Makan siang sama kita masih ada besok-besok.’ balas temanku yang satu lagi. Au tersenyum. Syukurlah mereka mengerti keadaanku. Aku membuka amplop yang berada di tanganku dan mengeluarkan berkas-berkas yang berada di dalamnya. Kubaca kata demi kata, paragraf demi paragraf, dan halaman demi halaman. Ah. Rekrutmen lagi, batinku. Kali ini seluruh Indonesia. Aku memasukkan kembali kertas-kertas di tanganku kedalam amplop.
‘Padahal aku ingin bertemu…’ Ketikku dan mengirimkannya pada kedua temanku itu.
Selesai mengetik pesan untuk teman-temanku dan memijat-mijat kakiku, aku kembali berdiri dan berjalan menuju lift. Jam istirahat makan siang masih lama, kurasa siang ini aku makan di kantin saja, pikirku.

Suara keyboard komputer bersahut-sahutan ketika aku memasuki ruanganku di lantai tiga. Aku berjalan menuju mejaku, mengangguk pada beberapa seniorku di kantor. Seandainya aku menjadi pengusaha seperti Ayu, atau menikah dengan pengusaha seperti Lisa, mungkin aku tidak akan berkutat dengan tumpukkan kertas dan berada di depan komputer hampir dua puluh jam lebih. Sudahlah, percuma mengeluh, batinku mengingatkanku pada diriku sendiri. Sesaainya di meja kerjaku, aku menyalakan komputer.
“Sita..” Tegur seseorang yang sedang berjalan menuju arahku.
“Iya mbak..” jawabku berusaha terdengar sopan. Beliau seniorku di kantor, juga seniorku semasa kuliah dulu.
“Pak Hadi sudah memberikan detail-detail tentang rekrutmen untuk minggu kedepan?” Tanyanya.
“Iya mbak. Ini saya mau ngerjain. Kebetulan untuk skoring hasil tes minggu lalu sudah saya kerjakan.” Jawabku menatap seniorku dengan mantap.
“Oke. Kalau ada kesulitan bilang aja ya!” Ujar seniorku. Aku mengangguk cepat. Dia memang senior yang baik, syukurlah aku tidak perlu berhadapan dengan senior-senior yang menyebalkan. Seniorku pergi meninggalkan meja kerjaku. Baru saja aku menekan dua kali pada ms word-ku, handphoneku bergetar. Kulihat nama yang sudah sering muncul di layar handphoneku, Ayu. Tumben, batinku. Ayu tahu kalau ini adalah jam kerjaku, dan biasanya baik Ayu ataupun Lisa tidak akan menggangguku. Kuabaikan telepon dari Ayu dan masih berkutat dengan komputerku. Tapi, lima kali berturut-turut Ayu tidak henti-hentinya meneleponku. Akhirnya, saat keenam kali Ayu menelepon, aku mengangkatnya.
“Ay, aku lagi banyak kerjaan nih” ujarku tanpa basa-basi. Tidak terdengar suara Ayu dari sana. Hanya deru hembusan nafasnya.
“Ay?” Aku sedikit khawatir.
“Lisa kecelakaan, Ta” ucapnya setelah bisa mengendalikan dirinya. Aku menghentikan pekerjaanku seketika. Terdiam.
“Ke Pertamina, ya Ta.” Lanjut Ayu. Aku masih tidak membalas ucapannya. Bagaimana bisa, pikirku.
“Ta? Sita?” Suara Ayu menunjukkan rasa khawatir. Aku terbuyar dari lamunanku.
on my way, Ay!” seruku sambil bergegas mengambil kunci mobilku dan berlari teresa-gesa, lagi. Tuhan, selamatkan Lisa, doaku sambil berlari.

Untungnya jalan menuju Rumah Sakit Pertamina dari kantorku tidak terlalu macet. Berkali-kali aku membunyikan klakson hanya untuk melaju bebas hambatan. Sesampainya di IGD, aku mencari-cari Ayu. Aku melihat dia sesengukan di kursi paling pojok.
“Ay? Lisa…” Aku menghentikkan kata-kataku. Ayu mengangkat wajahnya, matanya yang memerah karena menangis dari tadi melihatku.
“Kritis, Ta” jawabnya sesengukan. Aku terdiam dan segera memeluk Ayu. Jantungku berdegup kencang. Mataku berair, dan kemudian menetes. Tuhan, kumohon, pintaku dalam hati.
“Gimana ceritanya, Ay?” Tanyaku setelah berhasil mengendalikan diri. Ayu menghapus air matanya.
“Aku dan dia pisah setelah makan siang tadi. Aku masih di belakang dan Lisa berbelok ke kanan. Tiba-tiba dari arah berlawanan, truk besar lewat, dari arah pelabuhan, dan…” Ayu menghentikan ceritanya dan kemudian menangis lagi. Aku menarik nafas panjang. Jantungku masih berdegup kencang. Tidak ada hal baik jika jantungku berdebar sekencang ini, aku sudah menghadapinya berkali-kali. Ujian masuk kampus, misalnya, aku gagal masuk ke universitas . Tuhan, kali ini kumohon, jangan sampai hal yang tidak baik. Seorang dokter keluar dari ruang gawat darurat. Au dan Ayu melihat ke arahnya. Sang dokter menghela nafas panjang sebelum membuka percakapan dengan kami. Melihat itu saja aku sudah tahu. Lisa tidak bisa diselamatkan. Aku tidak bisa bertemu dengannya. Harusnya, hari ini kita bertemu dan bertukar cerita. Seandainya saja tidak ada kerjaan. Tangisan Ayu semakin meledak. Aku memeluknya erat. Ucapan sang dokter sudah tidak kami dengarkan lagi. Badanku lemas. Seharusnya, besok-besok aku masih bisa makan siang bersama Lisa. Seharusnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s