Dila dan Tiara

Dila melihat mobil-mobil berlalu lalang dari kamar hotelnya di lantai sepuluh. Ramai. Kopi panas yang berada di atas meja disampingnya masih mengeluarkan asap. Panas.
“Mau kemana kita hari ini?” Tanya seorang perempuan dengan mengenakan bath robe berwarna putih, keluar dari kamar mandi.
“Entah. Macet, Tir” jawab Dila tanpa melihat ke arah perempuan itu. Tiara berjalan menuju tempat Dila duduk dan ikut melihat keluar jendela.
“Segitu kamu bilang macet? Kamu pulang hari kerja jam delapan di tol. Itu baru macet.” Ucap Tiara sambil menertawakan Dila. Dila hanya memanyunkan bibirnya, kemudia melirik ke kopi yang dia buat. Dila mengaduk-aduknya agar asapnya cepat menghilang. Sementara Tiara sedang berkutat dengan kopernya, mencari baju yang akan dia kenakan hari ini.
“Nyari baju aja repot banget, Tir” sindir Dila. Tiara seakan tidak peduli dan tidak menggubris Dila. Dila kembali fokus pada jalanan di depan hotelnya. Rupanya terjadi kemacetan karena ada sebuah taxi yang akan masuk ke hotel Dila, tetapi kelewatan dan sang supir berusaha mundur untuk masuk, dan hampir menabrak sebuah angkot. Dila menggelengkan kepalanya, payah, batinnya. Tiara akhirnya selesai berjibaku dengan kopernya. Dia memilih dress selutut tanpa lengan berwarna tosca dengan motif polkadot.
“Kopimu dingin, Dil.” Tegur Tiara setelah selesai memakai bajunya. Dila yang asyik bermain dengan ipodnya baru teringat. Buru-buru dia mencicipi kopinya, ah, untunglah masih hangat, batinnya.
“Jadi gimana? Mau kemana?” Tanya Tiara lagi. Dila mengangkat bahunya sambil meminum kopinya.
“Sudah sampai disini masa’ kamu cuma mau di hotel aja?” Sindir Tiara ke Dila. Kali ini Dila yang tidak menghiraukan Tiara, sibuk dengan ipodnya.
“Muter aja deh. Daripada kamu berisik.” Kata Dila akhirnya menyerah. Tiara tersenyum sambil merapikan rambutnya. Dia sudah siap, mendekati Dila. Dila menggeser duduknya tapi tetap fokus bermain dengan ipodnya.
“Wah. Ada kuburan.” Kata Tiara ketika melihat ke jendela. Dila yang asik bermain ipod menghentikan permainannya dan ikut melihat ke arah jendela.
“Mana?” Tanya Dila menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, mencari pemandangan yang dilihat oleh Tiara. Tiara menunjukkan telunjukknya ke arah kiri. Mata Dila mengikutinya dan melihatnya.
“Rapi banget, Tir” komentar Dila, terpesona.
“Sekarang sih gitu kali ya. Udah pada dirapiin.” Jawab Tiara sambil meminum kopi Dila.
“Pahit, Dil…” Ujarnya sambil menjulurkan lidahnya dan segera berlari mengambil air putih. Dila tertawa.
“Yang manis mah gula, permen” sindir Dila. Tiara melirik Dila dengan kesal.
“Dulu kan pada nggak rapi ya. Tumpuk-tumpuk. Gimana coba orang mau melayat. Kalau di luar negeri itu tuh bagus. Teratur. Liat deh tuh film-film” ujar Dila melanjutkan obrolan mengenai kuburan.
“Ah. Kamu kan memang pengkhianat bangsa, Dil. Jelas aja lebih bagus luar negeri, soalnya pada disiplin.” Sahut Tiara. Dila mengangkat bahunya lagi.
“Kenyataan seperti itu, Tir. Lagipula, hanya seperti itu mana bisa dibilang pengkhianat bangsa. Aku nggak mengkhianati bangsa hanya dengan mengatakan kenyataan” sanggah Dila. Tiara mencibir.
“Mau pindah hotel?” Tanya Tiara sambil memakai bedak di wajahnya yang sudah putih itu.
“Kenapa?” Ujar Dla bertanya balik.
“Karena ada kuburan di depan” jawab Tiara enteng. Dila mendengus.
“Untuk apa takut, Tir. Kan itu rumah masa depan kita, ntar.” Kata Dila.
“Ah, kayak kamu percaya gitu aja, Dil.” Sindir Tiara. Dila tersenyum, mengasihani dirinya. Mereka berdua tenggelam dalam pikiran masing-masing.

Lagu mengalun pelan di dalam mobil, mengantarkan kepergian mereka berdua. Jalanan ibukota macet dan penuh sesak, padahal saat ini hari sabtu dan masih siang. Dila yang tidak sabaran menggerutu sepanjang jalan.
“Kamu mau gantian nyetir?” Tanya Tiara melihat tingkah gelisah Dila. Dila melirik Tiara dengan kesal.
“Kalau nyasar?” Tanya Dila balik. Tiara tertawa.
“Kan ada aku.” Jawab Tiara enteng.
“Nanti kamu tidur. Payah lah.” Elak Dila. Tiara tertawa lagi. Terlalu banyak alasan yang Dila berikan.
“Sudahlah. Kamu tunggu aja, nanti juga kita sampai. Main aja dulu.” Kata Tiara. Dila terpaksa diam dan menuruti apa yang dikatakan Tiara. Namun sesekali Dila menggerutu jika ada motor yang lewat sembarangan, atau kopaja yang hampir menabrak sisi samping mobil Tiara, atau bahkan Tiara yang sibuk menerima telepon dari bosnya hingga hampir menabrak pejalan kaki yang menyeberang tiba-tiba. Dila bingung siapa yang harus dia marahi, Tiara kah, orang yang menyeberang kah, atau bosnya Tiara? Yang pasti, Dila harus banyak-banyak bersabar di jalanan ibukota ini. Betul kata orang-orang, Jakarta itu keras. Kalau Dila ngomong gitu, Tiara pasti akan menyanggahnya dan menceramahinya dengan panjang lebar. Jadi Dila berusaha menahan komentar-komentarnya tentang ibukota, dan menyibukkan diri dengan gamenya. Baru separuh jalan menuju mall, Dila melihat rintikkan-rintikkan hujan jatuh mengenai kaca mobil Tiara. Ah hujan. Dila melepas sepatunya dan menyilangkan kakinya di atas kursi. Tiara tertawa melihat tingkah Dila.

Mereka sudah sampai di tempat tujuan. Hanya saja belum benar-benar sampai. Untuk ke mallnya, Tiara lebih memilih untuk parkir di mall pertama. Lebih luas, katanya. Padahal, mereka sudah masuk ke parkiran mall ke dua. Dila hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja. Tiara lah bosnya, Tiara lah yang paling tahu tentang Jakarta. Mereka melakukan jalan berputar yang sangat macet yang membuat Dila kehilangan kesabaran.
“Kalau kita parkir di tempat awal tadi kan jadi nggak repot” gerutu Dila.
“Ya kalau kamu yang nyetir kan kamu nggak perlu ngomel” balas Tiara.
Dila dan Tiara tahu, nggak ada gunanya berantem masalah parkiran dan lain hal. Tapi, karena ego mereka masing-masing besar, mereka nggak mau kalah. Hujan deras mengguyur bagian kota ini. Dila menyudahi permainannya karena baterai ipodnya sudah mau habis. Dila memperhatikan payung-payung yang berlarian kesana-kemari. Anak-anak kecil yang kira-kira berusia 7-13 tahun membawa payung-payung, menawari jasa mereka. Parkiran penuh, tampaknya, Tiara yang dai tadi bersabar pun akhirnya berkali-kali menekan klakson mobilnya. Dila tertawa.
“Valet aja, Tir” saran Dila.
“Ide bagus” jawab Tiara. Mereka berdua sibuk mencari tulisan ‘valet parking’. Akhirnya, mereka sampai di lobi satu. Dila menurunkan kaca jendelanya dan bertanya pada petugas yang berjaga disana.
“Valet dimana ya pak?” Tanya Dila.
“Lobi dua neng. Ni ntar lurus, trus belok kiri. Ntar valetnya ada di kiri.” Terang sang bapak. Setelah menguvapkan terimakasih Tiara menjalankan mobilnya. Masih macet dan penuh. Sesampainya di lobi dua, dua perempuan itu bingung mencari tulisan valet. Akhirnya, Dila menurunkan kaca mobilnya dan bertanya pada anak kecil penjual jasa ojek payung.
“Dek, valet dimana ya?” Tanya Dila.
“Eh, sono neng, kosong. Saya jagain deh” Jawabnya sambil menunjukkan tempat parkir pas di depan lobi. Dila mengangguk dan anak kecil itu berlari ke tempat pastkir. Tiara dengan sigap segera menjalankan mobilnya dan berputar, memasuki tempat parkir. Anak kecil dengan baju yang basah itu melambai-lambai memberikan tanda. Tiara memberikan tanda dan dengan segera memarkir mobilnya.
“Kasih uang berapa, Tir?” Tanya Dila sebelum Tiara mematikan mesin mobilnya.
“Lima ribu aja” jawab Tiara singkat. Dila membuka kaca jendela mobilnya.
“Dek, ini” kata Dila. Si anak kecil berterimakasih.
“Sekalian payung Neng. Udah gak usah bayar, lebih ini duitnya.” Kata si anak kecil lagi. Dila memandang Tiara. Tiara mengangguk.
“Iya deh. Tunggu ya” jawab Dila meng-iya-kan dan kemudian menutup kaca jendelanya.
“Ada payung sih aku. Nggak pake juga nggak papa, deket ini. Tapi yah, gak apa.” Kata Tiara sambil mematikan mesin mobilnya. Mereka bersiap turun dari mobil. Si anak kecil tadi menunggu mereka. Ketika Dila keluar, dia memberikan payungnya kepada Dila, kemudian Dila menjemput Tiara. Si anak kecil berlari-lari dan sedikit melompat-lompat menuju lobi. Dila dan Tiara mengikutinya. Dila melihat beberapa anak kecil gembira mendapatkan orang yang mau menyewa payung-payung mereka. Padahal hanya mendapat upah dua ribu rupiah saja mereka senang. Hati Dila terenyuh melihatnya.Keras memang, Jakarta. Sesampainya di lobi, anak kecil tadi mengambil payungnya.
“Dek, tunggu” kata Dila menahan anak itu pergi. Anak itu pun menunggu Dila. Dila merogoh tasnya dan mengeluarkan satu lembar uang berwarna biru bernominal lima puluh ribu rupiah.
“Buat makan, dek” kata Dila menyelipkan uangnya ke tangan anak kecil itu. Anak kecil itu terlihat kaget dan gembira sekali.
“Neng, makasih banyak neng. Makasih ya neng. Ntar saya tungguin neng, kalo masih hujan. Makasih banyak ya neng” ucap anak kecil itu berterimakasih berkali-kali pada Dila. Dila hanya tersenyum dan mengangguk kecil. Anak itu berlari mencari orang lan yang mau menyewa payungnya.
“Tumben” komentar Tiara.
“Terharu” jawab Dila singkat.
“Kamu gampang terharu. Hati-hati loh, Jakarta ini banyak tipu muslihat” kata Tiara sambil memasuki lobi.
“Sssst. Nggak boleh merusak kenanganku ah” kata Dila menghentikan omongan Tiara. Tiara mengangkat bahu dan tersenyum. Dila menggandeng tangan Tiara.
“Supaya aku nggak hilang” bisiknya. Tiara tertawa terbahak-bahak. Jakarta. Banyak cerita yang tersimpan di dalamnya. Mereka berdua masuk ke dalam mall, bergandengan tangan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s