Penyesalan

Dera memandangi seorang lelaki yang terbaring lemah di atas tempat tidur di sebuah rumah sakit ternama di kotanya. Bagaimana ungkin, pikirannya terus berkecamuk dan bertanya-tanya. Keringat menetes dari dahinya menuruni wajahnya yang putih. Dera tidak peduli dengan itu semua. Yang Dera pedulikan adalah laki-laki yang berada di depannya saat ini. Laki-laki yang terpasang selang-selang yang Dera tidak ingin tahu untuk apa itu semua. Laki-laki yang terbalut beberapa perban di bagian kepala dan kakinya. Laki-laki yang dulu sangat gagah perkasa, yang selalu memamerkan otot-otot tubuhnya dengan penuh kebanggan. Dera menghela nafas panjang. Laki-laki yang dulu dikenalnya sudah tidak ada, digantikan dengan laki-laki yang kini terbaring tidak berdaya di hadapannya. Laki-laki ini berbadan sangat kurus, sampai Dera tidak mengenalinya lagi. Dera mengelap keringatnya dengan tisu yang berada di atas lemari disamping kirinya. Kedua tangan Dera mendekap erat satu sama lain. Tuhan, kalau Engkau benar ada, tolong aku, tolong dia, pinta Dera. Keheningan di ruangan itu diiringi dengan bunyi monitor yang berada di samping tempat tidur laki-laki itu. Dera memandanginya, tidak mengerti apa yang tertulis disana. Dera sedikit terhenyak ketika pintu ruangan terbuka. Dera memalingkan wajahnya, ingin tahu siapa yang datang, dokter kah, perawat kah, atau malaikat kah. Sesosok laki-laki bertubuh kurus tinggi masuk dan menatap Dera. Dera tahu siapa dia, orang yang berada di balik ini semua. Orang yang menyembunyikan semuanya pada Dera. Rifky.

“Ra…” sapa Rifky sambil melangkah menuju arah Dera. Dera diam tidak bergeming. Matanya yang tadi bertatapan dengan Rifky dengan cepat melihat kea rah laki-laki di atas tempat tidur. Dera tidak ingin melihat mata Rifky.

“Maaf. Maaf karena kamu harus mengetahuinya seperti ini.” Ujarnya ketika sudah selangkah lagi berada di dekat Dera. Dera mengangkat wajahnya, melihat Rifky dengan penuh kebencian. Tidak pernah sapai sebenci ini Dera pada orang hingga rasanya seperti kepalanya akan meledak. Dera memutuskan untuk berdiri dari duduknya, tidak ingin berada satu ruangan dengan Rifky.

“Ra! Tunggu!” ujar Rifky memegang tangan Dera. Seperti ada yang menyengatnya, Dera melepaskan genggaman tangan Rifky dan tangannya mengayun menuju muka Rifky. Dera menampar Rifky cukup keras.

“Aku nggak mau bicara sama kamu, Ky.” Kata Dera tanpa penyesalan sedikitpun telah menampar Rifky, dan kemudian pergi ke luar ruangan. Rifky menggaruk kepalanya yang tidak gatal, penuh penyesalan.

Dera keluar dari kantin rumah sakit dengan kantung plastic di tangannya dan kemudian menghempaskan badannya di ruang tunggu. Dera melepaskan tas punggungnya yang besar dan penuh itu, kemudian meletakkannya disampingnya. Dera mnegeluarkan isi tas plastic itu, mengambil sebuah kaleng dan membukanya. Dera meminumnya dengan cepat, selain haus, Dera ingin menghilangkan pikiran tentang Rifky dan laki-laki yang terbaring di atas tempat tidur itu. Dera menaruh kaleng minumannya dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dera sangat ingin tahu tentang Rio, laki-laki yang saat ini sedang terbaring tidak berdaya. Dera sangat ingin tahu tentang Rifky. Tapi ego Dera sangat besar, Dera benci Rifky karena telah membohonginya. Dera menganut paham ‘teman tidak pernah berbohong, apapun itu’ dalam pertemanan yang dijalinnya bersama dua laki-laki itu.

“Kak Dera…” tegur seseorang. Dera mengangkat wajahnya dan melihat darimana suara itu berasal. Lala, adik perempuan Rio. Tanpa basa basi, Lala langsung menhampiri Dera dan memeluknya, erat. Dera membalas pelukan Lala dengan erat juga. Sudah hampir empat tahun ini Dera tidak bertemu Lala, karena Dera menempuh studi di luar negeri. Lala sudah dianggapnya sebagai adik sendiri, sejak pertama kali dia mengenal Rio.

“Rambutmu panjang, La” kata Dera ketika Lala melepas pelukannya.

“Aku ingin seperti Kak Dera, tapi ternyata kakak potong rambut” jawabnya malu-malu.

“Kalau musim panas, ribet La ngurusnya. Panas banget.” Dera berusaha tampak ceria. Mereka berdua kemudian terdiam lama. Bingung ingin berbicara apa, Dera dengan pertanyaan-pertanyaan tentang Rio dan Rifky, Lala dengan kegelisahan dan kebingungan, apa yang harus dijelaskan pada Dera.

“Dari kapan La, Rio…” Dera sengaja menggantung pertanyaannya. Tidak ingin melanjutkan dan tidak berani mendengar kata-kata itu terlontar dari mulutnya.

“Hampir dua tahun, kak” jawab Lala singkat. Lala melihat kea rah Dera yang menangkupkan kedua tangannya, kaki Dera yang terus bergerak-gerak seakan mendengarkan music, Lala mengerti. Dera khawatir dan bingung.

“Kenapa nggak ada yang bilang aku, La?” Tanya Dera lagi. Dera tampak sudah tahu jawabannya, Dera hanya perlu penegasan.

“Kak Rio bilang, kakak jangan sampai tahu. Kak Rio bilang, kalau kakak tahu, kakak bakal kesini.” Jawab Lala dengan suara bergetar, menahan tangis.

“Tapi akhirnya aku tahu, La. Dan kalau aku tahunya seperti ini, lebih sakit, La.” Kata Dera. Matanya penuh dengan airmata yang ditahannya dari beberapa waktu lalu. Dari seminggu yang lalu tepatnya, ketika dia mendapat telepon dari orang tuanya, mengatakan bahwa Rio kecelakaan besar hingga koma, dan juga mendapati bahwa Rio sakit parah. Saat itu Dera yang sedang bersantai karena libur musim panas pun segera memesan tiket untuk pulang ke tanah air, ingin bertemu Rio. Airmata Dera tidak turun, tetapi jantung Dera terus berdebar kencang, Dera ingin segera bertemu Rio. Tetapi, mendengar cerita Lala, rasanya Dera sudah tidak sanggup lagi menahan airmatanya. Lala bingung harus berbuat seperti apa. Dia juga berperan dalam membohongi Dera, tapi melihat Dera seperti ini, rasanya Lala seperti dipukul dengan batu, berkali-kali, sakit.

“Maafin Lala, kak…” kata Lala sambil memegang tangan Dera. Dera berusaha tersenyum, tetapi airmatanya tiba-tiba keluar. Lala memeluk Dera engan erat. Dera menangis sesengukan dalam pelukan Lala. Tiba-tiba dari kamar Rio, Rifky keluar, melihat kedua gadis yang disayanginya sedang berpelukan dan menangis tersedu-sedu. Dera mendengar langkah kaki mendekat dan berusaha menghentikan tangisnya. Dera tahu itu Rifky, tanpa melihat pun, Dera masih hafal derap langkah kakinya. Lala melepaskan pelukannya. Lala tahu, kedua orang itu harus berbicara. Rifky duduk di kursi belakang Dera. Lala meninggalkan mereka berdua, memasuki kamar Rio.

“Ini semua permintaan Rio, Ra. Rio nggak mau melihatmu seperti saat ini. Tapi seminggu yang lalu Rio tiba-tiba berkata bahwa dia ingin menemuimu. Kami sudah melarangnya, Ra. Bagaimana mungkin dia bisa pergi kalau passport dan visa saja dia belum membuatnya. Tapi kamu tahu Rio. Malam itu hujan, dan dia kabur dari rumah sakit. Dan…” Rifky menggantungkan ceritanya. Rifky tahu dia tidak perlu melanjutkannya karena Dera juga sudah mengerti. Dera tidak mengeluarkan suara sama sekali, tapi airmatanya terus menerus mengalir dengan deras. Empat tahun ini, mereka tidak bertemu. Empat tahun ini hanya dilewati mereka dengan chatting, tidak pernah melakukan video call, sibuk alasan Rio dan Rifky. Empat tahun juga semenjak kuliah, Dera bekerja sambilan, karena uang beasiswanya hanya untuk kehidupan sehari-hari, maka untuk pulang pun Dera harus menabung sendiri. Tabungan yang tadinya Dera ingin pulang mengejutkan Rio dan Rifky, tidak disangka, malah Dera yang terkejut setengah mati. Mereka terdiam lama, hanyut dalam pikiran masing-masing.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s