Pembicaraan di Sore Hari

“Jadi bagaimana?” tanyamu setelah sekian lama kita terdiam. kamu menatap wajahku lekat-lekat, bola mata hitammu seakan-akan ingin menyeretku masuk lebih dalam lagi, ke dalam jiwamu. Kamu tidak peduli betapa bingungnya aku untuk menjawab pertanyaanmu itu. Kamu terus menatapku penuh harap dan penuh percaya diri, membuatku memalingkan wajahku, agar kamu tidak bisa menelusuri jiwaku. ‘aku tidak tahu’ adalah jawaban yang tepat untuk menghindarimu. Tetapi aku tahu betul bahwa kamu bukanlah orang yang menerima jawaban seperti itu. Kamu akan terus memaksaku, mencecarku dengan berbagai macam pertanyaan lanjutan, kalau kamu tidak puas akan jawabanku. kamu memainkan sedotan di dalam gelasmu yang isinya sudah tersisa separuh.

“Mungkin bunuh diri bukan satu-satunya jalan keluar yang tepat. Mungkin masih bisa dibicarakan, mungkin masih bisa berhenti sejenak dan kemudian melanjutkannya lagi. Aku hanya bisa mengatakan kemungkinan..” terangku, berharap kamu mengerti. Kamu membelalakkan mata mendengarku. Matamu yang besar menjadi semakin besar, menatapku. Kamu memberiku senyuman dan memainkan rambut panjangmu yang berwarna kecokelatan karena sinar matahari sore. Ah, kamu terlihat begitu indah, begitu sempurna.

“Mungkin juga… bunuh diri adalah jalan satu-satunya. Untuk bebas. Dari segala sesuatu yang menyakitinya, membuatnya tidak bisa bergerak, terjerat terlalu dalam. Dengan menambah satu hal, maka dia akan tetap berada di dalam untuk selama-lamanya. Tidak perlu lagi untuk muncul ke permukaan, karena dia tahu, kita tahu, mereka tahu, tidak ada gunanya terus berada di permukaan kalau hanya untuk disakiti.” Kamu memberiku sebuah permainan kata-kata lagi. Aku sendiri hampir lupa apa yang sedang kita bicarakan tadi dan bagaimana kita bisa sampai pada percakapaan ini. Aku menyendokkan es krim yang sudah meleleh separuh ke dalam mulutku. Kamu memperhatikanku lagi. Kamu membenci es krim yang sudah meleleh, rasanya seperti susu, katamu dulu. Kamu melirik handphonemu dan berkutat dengannya beberapa lama. Apakah kamu menantiku mengatakan sesuatu?

“Tetapi, bukankah masih banyak hal yang dia bisa lakukan? Maksudku, bagaimana dengan tv series kesukaannya? Bagaimana dengan teman baru yang akan ditemukannya saat pergi menonton konser? Atau bagaimana dengan kata-kata sulit yang dia temukan dalam sebuah berita atau Koran? Bagaimana dengan momen-momen yang akan dimilikinya bersama orang special? Bagaiamana dengan mimpi-mimpinya yang suatu saat munkin akan menjadi kenyataan? Bukankah bunuh diri akan membuat itu semua sia-sia?” kuputuskan untuk berbicara. Lagi-lagi kamu tersenyum senang., seakan-akan mendapatkan sebuah buku baru atau barang baru lainnya. Kamu meminum minumanmu, menghabiskannya. Kemudian kamu kembali bermain dengan handphonemu. kamu akan tertawa, lalu membagi apa yang menurutmu lucu itu denganku.

“Yah, kita kan nggak tahu apa yang seseorang rasakan akan suatu hal. Mimpi-mimpinya? Menurutku itu telah berubah di hari pertama dia merasakan sakit yang luar biasa, mendapatkan sebuah masalah yang dia sendiri nggak mengerti bagaimana bisa. Dia mungkin mencemaskan apa yang akan terjadi ketika dia mengambil pilihan-ilihan yang ada. Dia mungkin takut melakukan kesalahan-kesalahan. Karena mungkin dia selalu disalahkan, terlalu besar tekanan. Ah, aku berbicara kemungkinan juga..” jawabmu panjang. Kamu memainkan es batu yang ada di dalam gelasmu degan sedotan.

“Bukankah dengan begitu kita bisa belajar? Dari kesalahan-kesalahan yang telah kita lakukan.” Tanyaku lagi. Kamu menatap kosong ke dalam gelas. Rambutmu yang kecokelatan tertiup angin. Kamu memangku kepalamu di tangan kirimu, memandangku.

“Disitulah letak permasalahannya. Kesalahan-kesalahan itu yang membuatnya merasa tidak berguna. Apalagi ketika kesalahan pertama yang dibuatnya yang menurut orang lain sepele, tetapi kalau hal itu dibicarakan terus menerus secara berulang kali, dibandingkan dengan orang lain yang melakukan pekerjaan yang sama tapi dia tidak salah, itu akan membunuhnya perlahan.” Jawabmu pelan, tidak seperti tadi. Apa kamu sedang merasakannya? Merasakan penderitaannya? Kamu menghela nafas panjang dan tersenyum padaku. Kali ini, senyum yang dipaksakan. Kamu berdiri dan berjalan kea rah kasir, rambut panjangmu yang berombak itu memantul setiap kali kamu berjalan. Aku kira kita akan berhenti membicarakan hal ini. Tapi kamu kembali dan berkata, “aku baru saja menambah segelas es jeruk dan satu potong kue cokelat”. Aku tersenyum. Kamu memang tidak bisa diduga.

“Bagaimana kalau dia bisa kembali ke masa lalu, dan membuang semua waktu yang penuh dengan kesakitan dan kegelapan, dan kemudian menggantinya dengan sesuatu yang lebih…menyenangkan?” tanyaku setelah menunggumu duduk kembali. Kamu tampak seperti berpikir, alismu mengerut, dan kamu memainkan lagi es batu dengan sedotanmu. Tangan kirimu membenarkan rambutmu yang tertiup angina dan kemudian menopang kepalamu lagi. Kamu sangat cantik, menurutku. Tapi kamu selalu mengelak ketika kita membicarakan hal itu. Kamu akan menunjuk kepada wanita-wanita lain sebagai contoh cantik versimu.

“Wah, iya. Mungkin dia bisa melakukan itu, jika kita bisa kembali ke masa lalu. Tapi, mungkin dia justru akan merasakan kesakitan lainnya. Bagaimanapun juga merubah sesuatu pasti ada feedbacknya, kan? Misalnya seperti jika tiba-tiba aku memotong rambutku pendek, pasti kamu akan berkomentar kan? Entah itu akan baik atau buruk.” ucapmu. Aku terdiam. Kamu selalu bisa mendapatkan jawaban. Kamu mengerti. Dan aku berpikir, apakah kamu pernah merasakannya, kesakitan yang dalam hingga kamu ingin mengakhiri hidupmu? Salah seorang pelayan mengantarkan minuman dan makananmu. Kamu terlihat sangat senang dan mengucapkan terimakasih kepadanya. Tanpa menunggu pelayan itu pergi, kamu segera memotong kue cokelatmu dan memakannya. Saat pelayan itu pergi dan mengambil gelas kosongmu, kamu berkata “Enak, Ga. Coba deh”. Aku mengambil piring berisi kue itu, memotongnya dan memakannya. Enak memang. Aku mengangguk dan memberikan kue padamu lagi.

“Intinya Ga. Menurutku, sebaiknya kita berhenti menilai orang lain. Kita kan tidak tahu apa yang telah dialami orang tersebut, bagaimana orang itu berpikir, bagaimana orang itu menghadapi masalah-masalahnya. Kita tidak pernah berada di posisi mereka, jadi bagaimana bisa kita megatakan kalau bunuh diri itu bodoh. Benar kan?” katamu melanjutkan pembicaraan kita. “Setahuku, atau menurutku, kita menjadi tergantung pada sesuatu yang memuat kita tidak merasa sakit lagi, untuk sementara, ataupun selamanya.” Lanjutmu lagi. Kamu menatap kue dihadapanmu. Saat ini aku tidak tahu apa yang kamu pikirkan, tapi kamu terlihat sedih, sendu. Kamu meminum minumanmu dan memandang jauh ke jalan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s