Bandara

Bandara lagi, bisikku ketika sudah sampai di pelataran parkir mobil. Aku merapikan rambutku di cermin mobil dan mengambil barang-barangku, ekmudian turun dari mobil. Aku berjalan memasuki pintu masuk bandara. Kulihat banyak orang yang menyunggingkan senyum, tapi ada pula yang menghapus air mata yang jatuh membasahi wajah mereka. Aku melihat jam di tangan kiriku dan kemudian mempercepat langkah kakiku dan menuruni tangga berjalan. Semoga dia belum dating, batinku. Sesampainya ditulisan kedatangan Internasional aku melihat jadwal pesawat. Dan aku mengutuk pelan, sial, pesawatnya ditunda. Sedikit kesal aku berbalik arah dan mencari tempat duduk. Tidak ada juga. Aku menghela nafas dan melangkahkan kaki menuju sebuah warung kopi, atau lebih terkenalnya café. Aku duduk dan melihat menu yang ditawarkan, kemudian memesan satu cappuccino dan kentang goreng. Sambil menunggu pesananku diantarkan, aku memperhatikan orang-orang yang lalu lalang di hadapanku. Mengingatkanku tentangnya, orang yang sedang kutunggu.

Aku ingat saat itu aku sedang menunggunya juga di Bandara. Menunggunya memasukkan barang dan check-in. Aku bersandar pada pilar besar dari kayu yang diukir dengan ornament dayak. Lagi-lagi tidak dapat tempat duduk, batinku saat itu. Aku memperhatikan satu pasangan yang berdiri tidak jauh dari hadapanku. Agak susah mendengarkan percakapan mereka karena pertama, orang lalu-lalang dan berbagai macam suara bercampur. Kedua, aku tidak terlalu tertarik untuk mendengar pembicaraan mereka, aku hanya suka memperhatikan. Ketiga, ah bercanda, hanya dua itu saja alasanku. Tampaknya sang perempuan akan pergi meninggalkan sang lelaki. Awalnya mereka hanya bercanda riang saja, berpegangan tangan, dan berfoto. Tetapi ketika petugas mengumumkan bahwa pesawat perempuan itu sudah datang dan harus masuk ruang tunggu, mereka saling berpandangan. Kemudian laki-laki itu memeluknya erat sekali, dan jatuhlah airmata perempuan itu. Dia menangis terisak, sedangkan sang laki-laki mengelus-elus punggungnya dan membelai rambutnya. Laki-laki itu menyuruhnya untuk segera masuk, tetapi perepmpuan itu tidak mau melepaskan pelukannya.

“Hai” sapa orang yang kutunggu.

“Kamu ngagetin aku” jawabku sambil melihatnya.

“Haha. Maaf.” Ujarnya meminta maaf sambil mengeluarkan tiketnya.

“Dapet seat berapa?” tanyaku.

“Dua puluh satu” jawabnya sambil memandangi tiketnya.

“Jauh” kataku singkat. Aku kembali memperhatikan pasangan itu. Akhirnya sang perempuan mau melepakan pelukannya. Laki-laki itu tersenyum dan mencium keningnya.

“Stalker” bisik orang disampingku. Aku memukulnya pelan. Perempuan itu melambaikan tangannya berkali-kali kea rah sang laki-laki, hingga dia memasuki pintu keberangkatan dan tidak terlihat lagi. Sang laki-laki menghembuskan nafas dan berjalan menuju arah parkiran.

“Filmnya sudah habis” masih kata orang disampingku berbisik. Aku meliriknya.

“Terharu tau!” kataku sambil mencari-cari subjek baru. Orang disampingku tertawa dan memasukkan tiketnya kedalam kantong jaketnya.

“Sudah mau masuk?” tanyaku.

“Nanti aja. Nonton film dulu” jawabnya sambil memamerkan giginya yang rapi.

“Sekarang aja ah. Aku mau balik.” Kataku.

“Jangan nangis loh” candanya sambil mengangkat tas punggungnya yang kupegang.

“Ha…” balasku dengan kesal. Dia tertawa terbahak-bahak.

“Yasudah. Aku berangkat ya. Sehat-sehat, Dit.” Pamitnya. Aku mengangguk dan menyalaminya.

“kamu juga, Dam. Makan teratur ya!” balasku. Dia mengangguk dan melambaikan tangannya memasuki pintu keberangkatan. Aku membalas lambaian tangannya dan bergegas pulang.

Salah seorang pelayan mengantarkan pesananku. Aku mengucapkan terimakasih dan segera mencomot kentangku. Aku kembali memperhatikan orang-orang dengan seksama. Ada orang yang sedang dipeluk berkali-kali oleh keluarganya, kurasa dia akan pergi merantau. Lalu ada orang yang diantar oleh teman-temannya, tampaknya dia akan melanjutkan sekolah di kota lain. Ada juga seorang ayah dan keluarga kecilnya, tampaknya sang ayah akan pergi bekerja di luar kota. Ada juga yang sendirian, memakai ransel dan sebuah koper kecil, mirip sekali dengan Adam kalau dia datang. Aku tersenyum dan meminum cappuccinoku. Ada seorang wanita paruh baya, mungkin hampir sama usianya dengan usia ibuku, memasuki café ini dan duduk tepat di meja sebelahku. Ibu itu tersenyum kepadaku, berusaha menjadi orang yang sopan aku membalas senyumnya dan mengangguk kecil. Beliau segera memesan dua buah minuman, untuk suaminya mungkin. Aku mengeluarkan buku dari dalam tasku. Beruntunglah aku tidak pernah lupa memasukkan satu buku ke dalam tasku. Aku meneruskan bacaanku dari tanda yang kutinggalkan.

“Ibu..” ujar seseorang beberapa menit kemudian. Aku memalingkan pandanganku. Ah. Ternyata dugaanku salah, ibu itu menunggu anaknya.

“Sudah semuanya?” Tanya beliau keada anaknya.

“Iya bu. Airport tax juga udah. Ibu tinggal masuk ruang tunggu dan tunggu sampai pesawat ibu dipanggil. Nah, ini, lihat apa nama penerbangan ibu dan jamnya. Oh iya, ini nomer kursi ibu ya.” Ujar anaknya menjelaskan dengan rinci. Sang ibu menganggukkan kepalanya berkali-kali.

“Minum dulu, Bima. Sudah ibu pesankan.” Ajak ibunya. Sang anak langsung meminumnya. Aku kembali lagi tenggelam dalam bacaanku.

“Nak. Ibu berangkat ya. Jaga kesehatan, jangan pulang malem-malem.” Ucap sang ibu ketika beliau akan pamit.

“Iya bu” jawabnya singkat dan mencium tangan ibunya.  Tiba-tiba aku teringat akan perkataan Adam, “Bandara itu, ah, gini deh Dit. Kalau naik pesawat paling banyak tujuan keluar pulau kan? Sedangkan kalo kereta itu pasti masih sepulau. Makanya, di bandara itu paling sedih. Beda pulau kan otomatis harus mikir dua kali kalau mau kembali lagi. Makanya aku nggak suka di bandara. Make me wanna burst into tears.” Dasar pria romantis satu itu. Sang ibu melihat ke arahku dan menganggukkan kepalanya. Aku membalasnya dengan senyuman. Kulihat jam tanganku. Sebentar lagi mungkin pesawat Adam akan sampai. Bergegas aku memasukkan bukuku dan handphoneku ke dalam tas. Aku segera ke kasir dan keluar dari café itu. Menunggu Adam.

-A-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s