Secangkir Cokelat Hangat dan Empat Potong Biskuit

Aku memandang meja makan. Selalu ada cangkir berwarna biru muda dengan motif bulat-bulat berwarna-warni di pinggirannya, dan selalu ada empat potong biskuit cokelat di tatakannya, tidak kurang tidak lebih. Disampingnya selalu ada tulisan di kertas kecil berwarna putih, Bella, dan di dalamnya akan ada satu kutipan. Aku tersenyum dan mengikat rambutku. Kubawa cangkir yang memang ditujukan untukku itu ke teras belakang rumahku. Aneh memang, hanya saja, teras dibelakang rumahku lebih nyaman, dalam artian aku tidak harus berbicara dan menganggukkan kepalaku atau tersenyum kepada orang yang lewat, melakukan basa-basi. Ah, hujan. Aku menaruh cangkirku di atas meja dan menduduki kursi disampingnya. Secara bergantian, tetesan-tetesan dari langit  itu berlomba untuk menerjang rumput dihadapanku. Kuambil cangkirnya dan kuhirup aromanya, kemudian meminumnya satu tegukan. Rasa pahit cokelat masih terasa, cokelat hangat favoritku setengah manis, setengah pahit. Aku mengambil koran yang berada di atas meja itu terlebih dahulu dan mulai membaca halaman pertama. Aku menggelengkan kepalaku dan menertawakan diriku sendiri. Untuk apa aku membaca bagian ini? Sudah pasti aku tidak mengerti dan aku tidak terlalu memperdulikannya. Politik penting kata mereka, biarlah mereka yang mengurusnya, aku akan menyerahkannya pada yang lebih ahli. Kubuka halaman demi halaman dan aku menemukan satu bagian yang kusuka, cerita fiksi dan teka teki. Aku bergegas membuka pintu dan masuk ke ruang tengah, tempat dimana semua barangku berada. Setelah menemukan sebuah pulpen aku kembali ke teras belakang. Mulai mengisi teka-teki yang ada di koran dan menggigit satu biskuit. Hanya lima menit dan berhasil mengisi beberapa yang kosong, aku bosan  dan juga sebagian besar aku tidak tahu, jadi aku mulai membaca cerita fiksi yang berada di halaman yang sama. Sesekali aku meneguk cokelatku dan menggigit biskuitku. Hujn yang mendera juga perlahan semakin deras. Membuat suara air hujan yang jatuh ke rumput dan pot tanaman berbunyi bersahutan, bagai musik.

Pagi yang baru. Aku menuruni tangga rumahku dan melihat cangkirku sudah tersusun rapi di atas meja makan. Lagi-lagi aku tersenyum. Kusentuh erlahan cangkirku, masih hangat. Empat biskuit pun sudah berada di tatakannya. Kuambil satu biskuit dan melihat kea rah jendela. Pagi ini cerah, batinku. Kuangkat cangkirku ke teras belakang dan menaruhnya di atas meja. Aku mengitari pandanganku, tidak ada koran. Dengan santai aku berjalan menuju ruang tengah, aku juga tidak menemukan koran. Kubuka pintu depan perlahan, tidak ada. Apa sang pengantar koran lupa?, aku bertanya-tanya dalam hati. Aku menutup pintu depan dan ke ruang tengah, mencari-cari buku yang belum kubaca di tumpukkan-tumpukkan barangku. Dan aku tidak menemukannya. Tampaknya harus kuagendakan untuk membeli buku baru. Aku melihat buku bersampul seorang wanita berambut hitam pendek bermata biru keabu-abuan dan sedikit tersenyum. Aku membalas senyum gadis itu dan berkata, sudah lama ya, Margo. Aku menariknya dibalik tumpukkan buku-buku dan kertas-kertas kerjaku. Paper Towns, buku ketiga karya John Green, terbitan tahun 2008. Aku membelinya secara online karena aku sudah tidak sabar membaca karya John Green, salah satu penulis kesukaanku. Aku suka bagaimana John Green menceritakan tokoh dalam cerita-ceritanya seakan-akan mereka ada bersamaku, mereka bagian dari hidupku, aku juga ikut dalam petualangan mereka. Penuh senyum aku setengah berlari menuju teras belakang. Kusentuh lagi cangkirku, sudah hampir dingin. Aku meminumnya dan kemudian membuka buku yang dari tadi seakan menjerit untuk dibaca. Sesekali angin berhembus, membuatku semakin nyaman dan menimbulkan gesekan dedaunan.

Pagi yang baru datang lagi. Kudengar suara orang berbicara di luar kamarku. Ini bukan pagi yang biasanya, batinku. Aku mengeluarkan diriku dari balik selimut dan duduk di pinggir tempat tidurku. Suara itu masih belum pergi. Aku melihat ke arah jam dinding di belakangku, jarum pendeknya menunjuk ke angka tujuh dan jarum yang lebih panjang menunjuk ke angka delapan. Ah, pantas saja aku bangun terlalu pagi. Aku mengurungkan niatku untuk keluar dan masuk kembali ke dalam selimut dan berusaha untuk memejamkan mataku lagi. Kudengar suara pintu terbuka dan tertutup. Kemudian suara mesin mobil menyala dan kemudian pergi menjauh sampai sunyi. Aku membuka mataku lagi dan kembali duduk di pinggir tempat tidurku. Kali ini aku berdiri dan melangkahkan kaki ke arah pintu kamarku. Aku membuka pintu kamarku secara erlahan dan melangkahkan kakiku keluar kamar. Baru berjalan sedikit saja aku sudah mencium wangi cokelat hangat untukku. Aku tersenyum dan mempercepat langkahku menuju meja makan. Kubuka kertas yang bertuliskan namaku disebelah cangkirku. “No matter how serious life gets, you still got to have that one person you can be completely  stupid with”1 . Sejenak aku berpikir, apa yang dia maksud dengan hal ini, tetapi kemudian aku sadar, mungkin dia sedang banyak kerjaan. Aku menyentuh cangkirku. Masih panas. Aku tersenyum dan membawanya ke teras belakang. Kuhirup udara segar di pagi hari setelah meletakkan cangkirku di atas meja. Tiba-tiba terdengar bunyi gemerisik dedaunan. Hujan kah, atau angin? Aku menengadahkan kepalaku keatas, mencari titik-titik hujan, tapi tidak ada. Angina pun tidak membuat rambutku berterbangan. Apa itu? Dan kemudian, dari balik pagar rumput yang berada di sebelah kiriku, muncul seekor kucing berbadan besar dan berwarna putih. Kucing itu menatapku lekat-lekat, aku mebalas tatapannya dan tersenyum. “Kamu mengagetkanku, Lulu” kataku sambil berjalan mendekatinya. Lulu adalah kucing tetanggaku. Walaupun aku tidak menyukai interaksi sosial, tetapi aku suka bermain dengan Lulu, mungkin karena Lulu binatang ya. Lulu sering tertidur di teras belakangku atau membawakan hewan-hewan yang berhasil ditangkapnya. Aku membelai-belai kepala Lulu kemudian menggaruk lehernya. Lulu mengeluarkan suara aneh, kata tetanggaku itu tandanya Lulu senang. “Ayo Lulu, duduk bersamaku” ajakku pada Lulu dan kemudian menggendongnya. Aku duduk di kursi kesukaanku dan memangku Lulu. Lulu menggerak-gerakkan hidungnya, mengendus sesuatu. Lulu mengeong ke arah cangkirku. “Kamu suka ini?” tanyaku sambil mengarahkan cangkir berisi cokelat panas ke arahnya. Lulu hendak meminumnya, tapi segera kutaruh lagi di atas meja. “Tidak boleh Lulu. Kamu bisa sakit. Lagipula aku tidak suka minuman kesukaanku diminum oleh orang lain, atau dalam kasus ini, kucing lain.” larangku pada Lulu. Seolah mengerti ucapanku, Lulu segera melompat dari pangkuanku dan berjalan menjauhiku. Lulu duduk di atas rumput dan mengeong ke arahku. Entah dia marah atau apa, yang jelas dia berbaring dan tidak mau menghadap ke arahku. Aku menertawakan tingkah Lulu. Ah, setiap pagi aku selalu mendapat kejutan yang berbeda-beda. Hujan, buku, dan hari ini Lulu. Entah apa yang akan kutemui besok, tapi satu hal yang pasti, secangkir cokelat hangat dan empat potong biskuit selalu menantiku di meja makan.

  1. “tidak peduli seberapa serius hidup yang akan dijalani, kamu tetap harus memiliki satu orang yang bisa membuatmu tetap melakukan hal-hal bodoh (tetap menjadi ceria; menjadi diri sendiri)”

-A-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s