Mimpi

“Papa! Gendong aku!” seru seorang anak kecil dari kejauhan. Aku yang sedang berbelanja di sebuah supermarket ternama di kotaku segera mengarahkan pandanganku padanya. Gadis kecil itu berlari ke arah laki-laki yang sedang mendorong kereta belanja. Tergopoh-gopoh karena langkahnya yang kecil, aku sedikit terhibur olehnya. Sesampainya di dekat ayahnya, sang ayah pun segera menggendongnya, bak seorang putri. “Bukan. Sasha mau yang seperti itu, pa” ujarnya seraya menunjukkan jari telunjuknya yang kecil ke arah anak kecil seusianya, yang berada di atas pundak ayahnya. Sang ayah pun berkata, “Bagaimana kalau Sasha jatuh?”. Gadis kecil yang bernama Sasha itu terdiam sejenak, seraya memikirkan pertanyaan ayahnya. “Kan ada papa. Papa kan tidak akan membiarkan Sasha jatuh.” Jawabnya dengan lucu. Aku tertegun. Gadis kecil ini pintar sekali, batinku. Sang ayah pun juga tersenyum mendengarnya dan mengabulkan permintaan gadis kecilnya. “Mama, mama! Lihat Sasha tinggi!” serunya pada seorang wanita yang kira-kira berusia hampir sama denganku sedang berjalan ke arah mereka berdua. “Hati-hati jatuh, pa” ucapnya seraya menaruh buah-buahan yang dibawanya kedalam kereta belanja. Wanita itu melihatku dan tersenyum. Aku membalas senyumnya dan buru-buru meninggalkan area buah-buahan.

Ketika sedang memasukkan fillet ikan kedalam plastik, ada seorang anak kecil menghampiriku. “Tante, ini namanya apa ya?” tanyanya sambil menunjuk pada bak yang berisi cumi-cumi. Aku tersenyum dan menajwab “itu cumi-cumi”. “Terimakasih tante!” ucapnya sambil buru-buru meninggalkanku. Aku menimbang berat fillet ikanku dan mengambil udang. “Mama, ayo cepet. Kita beli cumi-cumi. Nanti keburu habis.” Seru anak kecil yang tadi menarik tangan ibunya. Aku menggeser kereta belanjaku agar sang ibu bisa masuk berada di antara kita. Beliau menganggukkan kepalanya, seraya membisikkan kata terimakasih. Aku tersenyum membalasnya dan menyendokkan udang lagi kedalam plastic. “Mama, nanti bikin cumi-cumi yang enak ya! Biar Bagas bisa bawa bekal dan bagi-bagi juga sama temen-temen Bagas” ujar anak laki-laki kecil tadi. “Tapi harus habis ya” jawab mamanya sambil menarik plastik kiloan. “Janji deh ma. Percaya deh sama Bagas” jawab Bagas mengacungkan kedua ibu jarinya. Aku tersenyum mendengarnya ketika menimbang udangku dan kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.

“Sudah, mbak?” Tanya seorang laki-laki yang berdiri di depan supermarket ketika aku keluar. “Iya” jawabku diiringi dengan anggukkan. Laki-laki itu memencet remote mobil dan membukakan pintu untukku. Aku masuk ke dalam mobil dan meletakkan barang belanjaanku disampingku. Laki-laki itu masuk ke dalam mobil dan menstarternya. Dia menyalakan pendingin dan radio. Mengalun pelan lagu kesukaanku. “Pulang mbak?” tanyanya kepadaku sambil memundurkan mobil. “Iya. Saya mengantuk” jawabku. Laki-laki itu menganggukkan kepalanya dan mengarahkan mobil ke jalan raya. Mataku tidak mau berkompromi. Aku memaksakan dengan memainkan handphoneku, tapi teap saja aku mengantuk. Aku menguap berkali-kali dan….

Derap langkah anak kecil menggema di lorong tempatku berdiri. Aku mencari asal suara itu. Seorang gadis kecil berlari menuju arahku. Aku merapat ke dinding dan membiarkannya melewatiku. Dimana aku? Aku mengikuti gadis kecil itu, menuju sebuah ruangan besar. “Papa, papa, lihat!” seru gadis kecil itu menunjukkan kertas yang dipegangnya. “Iya. Nanti ya.” Sahut papanya tanpa melirik ke arahnya sedikitpun. Papanya hanya terfokus pada laptop dihadapannya. Gadis kecil itu mengerucutkan bibirnya dan berjalan menghentakkan kaki kearah papanya. “Rachel, berjalanlah dengan tenang. Papa sedang bekerja.” Ujar papanya terlihat membentak. Gadis kecil bernama Rachel itu terdiam dan menghentikan langkahnya. Dia berjinjit agar tidak menimbulkan suara. Sesampainya di dekat papanya, Rachel menaruh kertas yang dibawanya di atas meja kerja papanya dan kemudian memanjat kaki papanya dan berkata “Pangku Rachel ya pa!”. “Rachel! Papa sedang bekerja, nanti saja kalau mau main. Sana main sama bibi aja!” ucap papanya dengan ketus. Rachel masih berada di pangkuan papanya tidak bergerak. “Papa gendong Rachel sampe kamar deh, ya pa?” pinta Rachel. “Rachel! Papa ini masih banyak kerjaan. Biar bibi aja yang gendong kamu! Bi! Bi!” ujar papanya sambil menurunkan Rachel dari angkuannya dan berteriak memanggil bibinya. Rachel kembali mengerucutkan bibirnya dan kemudian berlari keluar ruangan kerja papanya.

Aku mengikuti Rachel, melewati lorong tempatku berada tadi. “Mama, mama.” Seru Rachel memanggil seorang wanita paruh baya yang sedang duduk di meja makan dan menyantap makanannya. “Sssst. Rachel jangan berisik, mama sedang ada telepon dengan pasien” bisik mamanya sambil menaruh jari telunjuk di bibirnya. Rachel menutup mulutnya yang mungil dengan kedua tangannya dan berjalan mengendap-endap. “Iya. Baik. Oh, tentu saja. Sampai bertemu di rumah sakit, pak” ujar mamanya mengakhiri pembicaraan di telepon. “Rachel sudah boleh bicara dengan mama?” Tanya Rachel yang sudah duduk di seberang mamanya.Mamanya menghela nafas panjang dan berkata, “Iya. Kenapa sayang?”. “Mama buatin bekal buat Rachel ya!” ujar Rachel penuh harap. “Aduh Rachel, mama nggak ada waktu. Pagi ini mama ada operasi besar.” Tolak mamanya. “Tapi kan ma… Mama udah janji kemarin..” kata Rachel bersikeras. “Rachel. Kamu tahu kan, banyak orang sakit yang butuh bantuan mama. Rachel jangan egois dong sayang.” Bujuk mamanya. “Tapi…” kata-kata Rachel dipotong oleh mamanya. “Udah, bekal buatan bibi juga sama aja. Enak lagi.” Kata mamanya berusaha menyelesaikan pembicaraan dengan Rachel. “Tapi semua temen Rachel bekalnya dibuatin sama mamanya. Rachel kan juga mau banggain bekal buatan mama…” kata Rachel masih memohon. “Rachel, udah. Jangan bikin mama marah. Bawa aja bekal buatan bibi ke sekolah, trus Rachel bisa bilang kalo itu buatan mama kan?” kata mamanya terdengar ketus. Rachel menundukkan kepalanya kemudian turun dari kursinya dan berjalan melewatiku, kembali ke lorong. Aku mengejarnya, tapi aku tidak menemukannya.

“Mbak.. Mbak.. Kita sudah sampai..” ujar seseorang membangunkanku. “Wah, maaf Yu, saya tertidur.” Ujarku seraya mengerjap-ngerjapkan mataku. Aku turun dari mobil dan berjalan menuju pintu rumahku. Seorang laki-laki menyambutku. “Lili.. Mama sudah pulang..” serunya. Derap langkah kaki anak kecil bergemuruh menuju arahku. “Mamaaaaa” serunya sambil memeluk kakiku. Aku menunduk dan menggendongnya. “Hari ini kita masak apa ma?” Tanya gadis kecil dalam pelukanku. “Fillet kakap goring tepung dan sup kembang kol wortel” jawabku. “Ah, mas Bayu, sini biar Lili bantuin!” ucapnya ketika melihat Bayu membawa belanjaanku. Aku menurunkan Lili dan dia setengah berlari ke arah Bayu. Bayu memberinya tas kresek berukukuran kecil dan menggandeng Lili ke dalam. “Aku tertidur tadi di mobil” kataku kepada laki-laki yang berada disampingku. “Oh ya? Biar aku saja yang masak kalau kamu ngantuk” jawabnya sambil menggandeng tanganku. “Ah, tidak usah. Mimpiku cukup membangunkanku kok.” Tolakku. “Mimpi?” dia memalingkan wajahnya kepadaku. “Iya, mimpiku tentang aku semasa kecil, Bi.” Ceritaku. Abi hanya diam tidak menjawab. “Mimpi serem, Chel?” tanyanya kemudian. Aku tertawa kecil dan menggelengkan kepalaku. “Nggak, mimpi tentang papa dan mamaku. Pasti teringat karena tadi di supermarket aku melihat kejadian yang kurang lebih mirip dengan yang kualami saat kecil.” Jelasku lagi. Abi hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. “Bagaimana kalau minggu depan kita menjenguk mereka?” Tanya Abi. Aku menggeleng. “Nanti saja Bi. Minggu depan kan Lili ingin ke kebun binatang” tolakku. Kami melewati meja kopi yang berada di ruang tengah. Banyak terdapat tumpukkan surat di atasnya. “Sampai kapan mau seperti ini, Chel? Lili juga suatu saat akan bertanya mengenai kakek-dan neneknya” kata Abi melepaskan genggaman tangannya. “Cukup dengan ayah dan ibumu saja kan? Lagipula mereka yang mengusirku dulu, sudahlah Bi. Aku sedang tidak ingin membahasnya.” Kataku sedikit emosi. Abi hanya diam tidak menjawab. “Baiklah.” Jawab Abi mengalah. Kami berjalan beriringan menuju dapur. Lili dan Bayu sedang menunggu kami. Bagiku sekarang yang terpenting adalah Lili dan aku dan Abi berusaha untuk tidak melakukan kesalahan yang sama yang dilakuan orangtuaku dulu. Meninggalkanku sendiri.

 

-A-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s