Di sebuah warung

Dua muda mudi memasuki sebuah warung makan. “Ayam bakarnya dua ya mas” ujar perempuan berambut hitam sebahu. “Minumnya apa mbak?” tanya sang penjual. “Saya air putih, kamu?” perempuan itu melayangkan padangannya kepada laki-laki yang dating bersamanya. “Aku es jeruk.” laki-laki itu menjawab singkat. Sang penjual menganggukkan kepalanya dan segera menyiapkan pesanan mereka. “Duduk dimana nih?” tanya perempuan itu sambil menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Saat itu sudah malam, pukul 9, tetapi masih banyak saja yang berada disana dikarenakan hujan yang terus mendera kota ini. “Kamu sudah pernah duduk di belakang?” tanya laki-laki itu. Sang perempuan menggeleng. “Oke, kita duduk di belakang aja, lebih luas.” sambungnya dan berjalan menuju arah belakang. Perempuan itu mengikuti langkahnya. Sesampainya di belakang, perempuan itu berkata “Wow. Luas banget ya, Ta”. “Makanya, disini lebih enak. Ada televisinya lagi.” kata laki-laki itu melepas sendalnya dan duduk di karpet tepat di meja di depan televisi.  Perempuan itu mengikuti apa yang sudah dilakukan laki-laki itu. Dia melepas sendalnya dan duduk berhadapan dengan laki-laki itu. Perempuan itu melepas jaket jeansnya dan menaruh di atas tas ranselnya. Lelaki itu berkutat dengan handphonenya, sementara perempuan itu melihat kea rah tv dan bergumam “blade trinity” kemudian tersenyum.

Seorang pegawai mengantarkan minuman yang mereka pesan, dan mereka mengucapkan terimakasih berbarengan. Laki-laki itu meminum minumannya, sementara perempuan itu tetap menonton televisi, fokus. “Nami, kamu lagi marahan dengan Seto?” tanya laki-laki itu tiba-tiba memecah keheningan. Perempuan itu menoleh ke arahnya. “Uta, kau tahu dari mana? Dari siapa? Seto?” tanya perempuan bernama Nami dengan sedikit heboh. “Haha. Aku hebat kan?!” ujar laki-laki yang dipanggil Uta membanggakan diri. Nami sudah tidak memperdulikan televisinya lagi. Saat ini dia terfokus pada Uta. Uta meminum es jeruknya dan kemudian berkata, “Seto bilang dia mau nitip sepatu dan jersey yang tertinggal di rumahmu. Tapi dia belum bilang ke kamu, nggak bisa, katanya”. Nami sedikit kaget. “Kamu menyimpulkannya begitu saja?” tanya Nami berusaha memastikan bahwa Seto tidak mengatakan hal-hal menyangkut hubungan mereka berdua. “Yah, kita kan udah temenan lama dari SMA sampe kerja gini, Mi. Masa hal remeh gitu mesti dijelasin sih.” jawab Uta sambil memainkan handphonenya. “Kamu mau cerita?” tanya Uta yang melayangkan pandangannya pada Nami. Nami membuang muka dan melihat ke arah televisi. Mereka terdiam cukup lama. Tampaknya Nami masih tidak ingin menceritakan masalahnya dengan Seto pada Uta. Pegawai warung itu kembali untuk mengantarkan pesanan kita. “Makan dulu, Ta” kata Nami memutuskan untuk berbicara. Uta hanya mengangguk kecil dan pergi mencuci tangannya.

Piring yang berada dihadapan mereka berdua sudah kosong, sisa tulang-tulang dari ayam bakar yang mereka makan dan lalapan yang tidak disentuh. Selesai mencuci tangan, Nami membuka percakapan mereka. “Kita bertengkar, eh tepatnya sih aku yang menyuruhnya untuk berhenti menghubungiku lagi, Ta.” ucap Nami saat Uta sedang meminum es jeruknya. “Dia menemui ibuku, Ta. Membicarakan hal-hal yang aku sangat tidak inginkan untuk dibahas, kamu tahulah…” lanjut Nami dengan tatapan masih ke arah televisi. “Aku juga bertengkar dengan ibuku, dan aku sedikit menyalahkannya. Makanya aku menyuruhnya untuk tidak menghubungiku dulu, moodku sedang tidak enak. Aku takut malah akan menyakitinya lebih banyak ketika dia tetap menghubungiku.” Jelas Nami seraya mengikat rambutnya. Uta tersenyum dan berkata, “Nami, kamu tahu nggak bagaimana perasaan seorang laki-laki ketika perempuan yang disayanginya menyuruhnya untuk berhenti menghubunginya?”. Nami menggelengkan kepalanya perlahan, memandang Uta. “Aku pernah Mi, mengalami hal itu. Ketika itu, pekerjaanku sangat banyak dan Arini tiba-tiba menghubungiku, membicarakan tentangku dan Putri. Hal-hal yang seharusnya dia mengerti, bahwa itu bohong, tetapi yah, dia mempercayainya dan kemudian menangis. Menangis, Mi. Aku ingin segera berada disampingnya dan menenangkannya, tapi jarak kita terlalu jauh dan aku tidak mungkin izin kerja. aku gelisah Mi, bingung. kerjaanku menumpuk, Arini tidak mau kuhubungi. Semua teleponku direject, smsku tidak dibalas.” cerita Uta. Nami masih memandangi Uta, tersenyum kecut. “Tapi kamu tahu Seto seperti apa, Ta. Dia bukan kamu. Mana mungkin dia….” kata-kata Nami diputus. “Mi.. Kamu dan Seto sering bertengkar saat kuliah. Aku mengerti. Setiap kali kalian bertengkar, Seto akan menjadi pendiam dan hanya berada di kamar tanpa melakukan apapun. Grasak-grusuk nggak jelas, kemudian berbaring. Percaya, Mi, dia khawatir. Hentikanlah pertengkaran kalian..” saran Uta. Nami mengaduk-ngaduk air putihnya memikirkan perkataan Uta. Dia dan Seto sudah bukan anak kecil lagi. Mereka berdua sudah dewasa. Mereka harusnya sudah paham betul bagaimana cara berpikir orang dewasa. “Ya. Aku akan menghubunginya nanti” ujar Nami ke arah Uta. Uta hanya tersenyum dan kemudian membereskan barang-barangnya. nami melakukan hal yang sama. Hujan masih deras, tapi Nami sudah tidak memperdulikannya. Dia hanya ingin segera berbicara dengan Seto. Meminta maaf.

 

-A-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s