Pertemuan

Aku mendapati diriku sedang melihat seorang gadis yang sedang berdiri tidak jauh di sampingku. Keapalanya menengadah keatas, membaca satu per satu judul buku dihadapannya. Semakin lama, kepalanya semakin menunduk diikuti dengan gerakan tubuhnya. Terkadang diselingi juga dengan gerakan tangannya mengambil dan melihat buku-buku tersebut satu per satu. Alis matanya terlihat mengerut ketika membacanya, dan terkadang dia menggelengkan kepalanya. Sesekali senyuman tersungging di bibirnya. Setelah dia menjelajahi satu rak buku tersebut dan menemukan buku yag menurutnya menarik, dia segera memutar buku itu, meneliti apakah ada cacat di bagian pinggir-pinggir buku. Dia sangat teliti, batinku sambil tersenyum melihatnya. Tiba-tiba dia menolehkan wajahnya padaku. What a pretty face, ujarku dalam hati. Dia memberiku senyuman dan berjalan melewatiku dengan beberapa buku di tangannya yang hampir penuh. Aku mengamatinya ketika dia berjalan menjauh. Will I meet her, again?

Aku tahu kemungkinan untuk bertemu gadis itu lagi, sangatlah kecil. Aku bahkan tidak menanyakan namanya, itu hal yang krusial. Aku menimbang-nimbang untuk berkenalan dengannya. Setengan berlari aku menuju arah yang dilewatinya di dalam toko buku itu. Aku melihat ke arah kasir, tetapi tidak menemukannya. Aku mengarahkan kepalaku ke arah berlawanan dan hasilnya pun nihil. Too late, batinku. Aku melengos dan berjalan menuju rak buku yang tadi sedang kuteliti. Sedikit malas aku mencari buku yang menarik, pikiranku teralih pada gadis tadi. Ah, bagaimana bisa aku melewatkan kesempatan untuk berkenalan dengannya. She is a rare girl. Aku melihat ke arah pergelangan tangan kananku yang terdapat sebuah jam pemberian ibuku. Sudah agak larut, rupanya. Aku segera menyelesaikan penjelajahanku mencari buku-buku dan bergegas menuju ke tempat parkir. Semoga saja martabak manis kesukaan ibu masih buka, batinku. Aku menstarter mobilku, menyalakan pendingin, dan menyalakan radio. Sebuah lagu yang familiar mengalun. Perlahan, aku meninggalkan area parkir.

Aku kembali lagi ke toko buku yang sama seminggu kemudian. Tiga buku tidak memerlukan waktu lama, apalagi hanya sekitar 350 halaman per buku, untuk menghabiskan semuanya. Ya, aku sangat menyukai buku, dan tidak segan-segan memberikan kritik pedas dihalaman blogku ketika aku tidak menyukai buku tersebut dan menurutku itu hanya membuang-buang waktu dan uang. Walaupun sudah meneliti dari sampulnya, dari judulnya, dan sinopsis di belakang buku, tidak membuat buku itu akan menjadi sempurna jika isinya mengecewakan. Susah memang untuk mengerti mana buku yang mempunyai kesempurnaan total, atau hanya sebatas menarik dari sampul, judul dan sinopsis. Tidak jarang aku terjebak dengan buku yang menurutku menarik tetapi isinya hanyalah kata-kata yang dirangkai sembarangan. Aku kecewa, marah, dan akan segera menutup buku tersebut dan menaruhnya di rak bukuku, di tempat paling belakang. Tidak akan pernah terbaca, olehku ataupun orang lain. Aku mencari-cari sosok sama yang kuingat seminggu yang lalu. Ah, no luck, batinku. Kembali aku tenggelam dalam aktivitas yang kusenangi, tenggelam dalam tumpukan buku-buku fiksi, memilih-milih berbagai macam buku menarik, dari genre apapun.

Setelah keluar dari salah satu spot favoritku di mall, aku segera turun ke lantai dasar, menuju tempat favoritku kedua, coffee shop. Aku memesan Asian Dolce Latte, Almond Croissant, Orange Mandarin Muffin. Sambil menunggu minumanku dating, aku menduduki salah satu kursi di dekat barista, dan mengeluarkan sebuah buku. Satu demi satu halaman kubaca dengan seksama. Salah seorang pelayan mengantarkan minumanku dan aku menyempatkan diri untuk menganggukkan kepalaku dan memberikan senyuman terimakasih. Kulanjutkan lagi terhanyut dalam buku yang ada di tanganku. Sesekali aku menyeruput minumanku dan mengigit croissant atau muffinku. Sudah 50 halaman terbaca. Aku meregangkan badanku dan saat itulah aku melihatnya. Gadis itu memberikan senyuman manisnya dan menganggukkan kepalanya. Dihadapannya ada sebuah laptop berwarna putih dan segelas minuman blended. Aku membalas senyumannya. Kembali dia mengarahkan pandangannya ke laptopnya. Aku pun kembali membaca buku ditanganku. Entah karena kopi yang kuminum, croissant yang kumakan, atau karena sebuah senyuman dari gadis itu yang membuatku tidak bisa fokus membaca buku itu. Sial, umpatku. Ini terlalu kebetulan memang, aku sendiri hampir tidak mempercayainya. Seakan Tuhan mendengar permintaanku seminggu ini. Aku layangkan pandanganku padanya, hanya berjarak beberapa meja saja. Situasi coffee shop ini juga sedang tidak terlalu penuh orang. Hanya ada beberapa muda-mudi yang sedang menghabiskan waktu bersama di pojokan, tepat di dekat rak merchandise.  To hell with that, I’m going to ask her name. Aku menutup bukuku dan menggeser kursiku. Aku menghela nafas dan melangkahkan kakiku menuju arah gadis itu. Sesampainya dihadapannya, aku berdehem, dan dia mengangkat wajahnya. Alis matanya terangkat, matanya yang berwarna cokelat melebar, dan dia memberikan senyum yang agak dipaksakan, dia sedikit terkejut rupanya. “Maaf mengganggumu dan ini mungkin terdengar mengerikan dan aneh, tapi selama seminggu ini aku penasaran denganmu. Boleh aku tahu namamu?” tanyaku tanpa basa basi. Dia memberiku senyuman yang sama ketika pertama bertemu. “Hmm. Agak sedikit mengerikan memang, tapi aku kira kamu tidak akan pernah bertanya” ujarnya. “Anna” lanjutnya sambil mengulurkan tangan kanannya. “Donny” jawabku seraya menjabat tangannya. “Wanna sit together?” tanyanya dengan bahasa inggris yang lancar. Aku mengangguk dan berkata “Aku akan mengambil barang-barangku”. Sambil tersenyum-senyum aku kembali ke tempat dudukku dan merapikan bukuku. Kutinggalkan piring bekas makananku dan mengangkat gelasku yang sudah hampir habis, lalu berjalan ke arahnya. Sesampainya dihadapannya, dia menutup laptopnya. Aku bingung. “Kamu akan pergi?” adalah pertanyaan yang keluar dari mulutku. “Tidak. Aku hanya mematikan laptopku agar aku bisa berbicara denganmu.” jawabnya diiringi senyuman. Ada kelegaan dihatiku, kuputuskan untuk tidak membuka bukuku dan memandanginya. “Well….” Anna menaikkan alisnya dan menungguku berbicara. Mungkin aku tidak berbicara, aku hanya ingin memandangnya. Ini terdengar mengerikan tapi entahlah, dia tidak membuatku bosan. “What’s your story?” tanyaku. Anna hanya tersenyum dan menyelipkan rambutnya ke telinga kanannya. “Ini akan menjadi sangat panjang” jawabnya. “I got a whole day” sahutku tidak mau kalah. “Baiklah. Tapi pertama, kurasa aku harus memesan Java Chip Frappucino lagi, dan kamu mungkin ingin menambah Asian Dolce Latte-mu” ujarnya menyerah. “Wow. Kurasa banyak yang harus kamu ceritakan. Aku akan mentraktirmu minuman yang baru saja kamu sebutkan” saranku. Lagi-lagi dia tersenyum. Entah bagaimana dia bisa tahu nama minumanku, apakah dia salah seorang barista disini, atau dia sering berada disini sehingga dia pernah merasakan atau mengenali semua minuman, atau dia juga penasaran denganku dan mengikutiku, banyak kemungkinan yang bisa terjadi. Aku meninggalkannya dan berjalan menuju counter sambil tersenyum dan berusaha mengingat nama minuman yang dipesannya.

 

-A-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s