Akademi Bercerita Yogyakarta

Oke, saya menyempatkan diri sebelum tidur (padahal karena saya masih belum mengantuk dan dilanda flu yang luar biasa menyebalkan) untuk menulis sebuah, ehm, kesan saya selama dua minggu (iya bukan ya) mengikuti kelas ini.

At first, no one knows no one. Yang saya kenal ya cuma Bentar, secara dia yang mempersuade saya untuk mengikuti kelas menulis ini. Iya saya senang, saya extremely excited sekaligus takut dan malu ya. Saya kan orangnya selalu memikirkan sesuatu sampai berkali-kali (kayak nulis ini aja tadi sampai saya harus menghapusnya beberapa kali), saya juga nggak pandai dalam berinteraksi sama orang lain (yeah right, I hate and afraid of people), saya nggak bisa bicara di depan publik, pokoknya deg-degan lah! Hari pertama langsung masuk kelas dan harus meninggalkan pacar saya (kirain cuma ngobrol bentar doang) sampe akhirnya pacar saya pulang jalan kaki. so, sorry~ dan perkenalan. Saya pikir ya dari sesi perkenalan itu, mereka semua itu hebat-hebat. capalah akuh ini.. :p I was really amazed by them, so many positive energies from them, to be honest. Hari pertama berakhir dengan lancar jaya~

Pertemuan kedua diawali ketika aku dan Bentar datang terlambat, huft. Mas Imam udah memberikan materi (fyi, Mas Imam ini salah satu editor dari Bentang Pustaka, yang kata Mas Udin, beliau jahat.) dan nggak enak lah saya datang terlambat gitu ya. Tapi seems like Mas Imam itu biasa aja (nggak tahu dalam hatinya ya :p). Dikasih materi tentang sebelum menulis, saat menulis, setelah menulis, dan sedikit tentang plot. Dan, selama penjelasan Mas Imam itu, saya cuma bisa “oooh, iya ya” “ya ampun, bener banget” “oh gitu ya” dan lain sebagainya yang saya lupa. Pokoknya kena banget lah sama apa yang biasa saya lakukan ketika menulis. Wanna be writer you said.. Still got a lot of catching up to do, girl. Jadi, setelah malam yang mencerahkan itu berakhir, saya sedih, selain waktunya kayaknya kurang, kurang puas nanya-nanya (padahal ya saya nggak nanya juga), gitulah. Saya agak takut juga sih sama Mas Imam, yah secara beiau editor dan udah baca jutaan naskah gitu, ntar ngeliat naskah saya mungkin reaksinya “apaan nih” :p gitulah..

Getting closer….

Kemarin siang datang untuk pertemuan ketiga. Merasa sedih nggak bisa ikut BestFest karena satu dan lain hal, dan sedikit syok karena ada Claudia Kaunang juga di Bentang, sayang nggak sempet foto bareng, minta tanda tangan dan tanya-tanya. Turns out, Mas Imam selaku editor ternama (asik) tidak bisa memberikan materi, jadi kesepakatan dibuat untuk malam ini dan kita tetap mengumpulkan PR dari beliau. Kemarin siang jadi kita bikin game (which I already told in the few back posts) dan ngobrol-gobrol. Jadi kayak deket gitu deh, jadi saya dengan sok akrab gitu menggali-gali beberapa hal tentang si Nana :p (iya, penasaran banget sama radio buku itu apa. haha.) Well, kemarin siang menyenangkan!

And finally, tonight! Bentar terlambat jemput (ah wes byasa), untungnya sih belum masuk materi ya. Disambut sama martabak asin (that’s what I called) dan onigiri~ iya, jadi salah satu teman saya itu, Rayhana itu, membuka usaha onigiri. Pengen langsung dimakan sih, mumpung anget kan, tapi nggak enak juga sama yang lain kan ;p (ntar pada minta, maksudnya :p pelit banget) Ngobrol-ngobrol bentar, maksa Mas Udin buat cerita, tapi gagal 😦 Jreng.. Mas Imam dateng, dan membawa file PR kita 😐 Ngejelasin tentang penokohan dan karakter, akhirnya masuk dan ngambil contoh tokoh yang saya buat, dan tokoh Mbak Lia. Deg-degan lagi.. Sampe jadi salah tingkah, sumpah malu-maluin banget lah. Dari gitu aja bisa jadi satu cerita yang nggak ada habisnya, yang bikin ketawa nggak berhenti. Seru banget. I’m glad, he chose my character. So that I can learn things I should and I shouldn’t do. And turns out, Mas Imam is not as scary as Mas Udin told (in this context, he isn’t an editor, but a teacher). Malam ini belajar banyak banget tentang penokohan dan plot! Bener-bener membuka pikiran (asik, bahasanya). Dan malam ini, lebih kerasa yah makin deket sama temen-temen. Kayak kata Mas Imam tadi “satu tokoh dan tokoh yang lain tidak bisa bertemu secara kebetulan atau tiba-tiba. Harus ada satu kesamaan atau motif atau penghubung agar mereka bisa bertemu. Dan kita semua bertemu disini karena kita suka menulis, dan Mas Imam adalah editor.” Semoga kedepannya jadi lebih baik dan semangat lagi deh~

I guess, I have to end it because I’m getting worse. Seems like I got a fever now. So, you all.. get some rest!

-A-

Advertisements

3 thoughts on “Akademi Bercerita Yogyakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s