Hope

Gadis itu duduk tidak bergerak yang akan membuatmu berpikir bahwa dia adalah sebuah dekorasi atau mannequin yang ditaruh sembarangan di sebuah ruangan. Dia menatap dinding yang penuh dengan foto-foto, dan kemudian dia mengalihkan pandangannya pada tempat tidurnya.

“He used to be there” bisik gadis itu perlahan. Laki-laki itu akan berbaring di atas tempat tidurnya, sementara gadis itu mengerjakan tugas-tugasnya. Dan laki-laki itu akan bercerita tentang harinya, apa yang dilaluinya, dan gadis itu akan mendengarkan dengan seksama di kursi yang sedang ia duduki, sambil mengerjakan tugas-tugasnya yang harus dikumpulkan keesokan harinya.

Gadis itu tahu bahwa ada sesuatu yang terjadi ketika satu malam laki-laki itu tidak mengatakan apapun. Laki-laki itu hanya menemaninya mengerjakan tugas-tugasnya dan berbaring, menatap langit-langit. Lalu kemudian gadis itu menyelesaikan tugas-tugasnya dan bertanya apakah ada sesuatu yang salah? Dan kemudian laki-laki itu berbisik “I’m just tired”. Dan dia tersenyum. Tetapi, gadis itu masih merasakan perasaan aneh, karena dia tahu, there is something wrong. Tetapi dia membalas senyuman laki-laki itu dan berjalan ke arahnya, kemudian gadis itu mencium kening laki-laki itu, dan berkata “I love you”. Laki-laki itu pun tersenyum, bangkit dari tidurnya, mencium kening gadis itu dan pulang ke rumahnya.

Hari berikutnya, laki-laki itu tidak datang. Gadis itu penasaran dan meneleponnya, tapi tidak satupun diangkat oleh laki-laki itu.

Hari selanjutnya pun, laki-laki itu tidak datang lagi. Kali ini, gadis itu tidak mengerjakan tugas-tugasnya dan bergegas ke rumah laki-laki itu. Dia mengetuk berkali-kali sampai tangannya sakit tapi tidak ada jawaban. Lelah, gadis itu pulang ke rumah.

Sampai pada tengah malam yang sepi, teleponnya berbunyi.
“Hello?”
“Hi”
Gadis itu menyadari suara itu. Suara laki-laki itu tidak berubah, hanya ada sentuhan sendu di dalamnya, tapi gadis itu yakin kalau laki-laki itulah yang meneleponnya. Lega. Gadis itu ingin mengatakan betapa rindunya dia kepadanya, tapi laki-laki itu terdengar capai, lelah, letih, penat. Semuanya. Gadis itu mengurungkan niatnya dan menemani laki-laki itu yang tidak berbicara sepatah kata pun. Hanya terdengar suara lagu favorit mereka berdua. Gadis itu berharap dia baik-baik saja.

Laki-laki itu tidak pernah datang lagi ke rumahnya setelah malam itu. So there she was, duduk menunggunya. Menunggu tanda-tanda akan dirinya. Lagu favorit mereka berputar berulang-ulang, entah ini sudah keberapa kalinya. Hanya untuk membuat gadis itu tidak merasa kesepian dan sendiri. Gadis itu terus berharap. Karena hanya harapan yang dia punya.

When her mind playing worst scene, she denied it. Because she still hasn’t told him that she missed him, or how much she love him, or how important he is to her.

She still hoped.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s