Last One

Sampai saat ini, kata-kata terakhir darimu masih terngiang, “All I want is your happiness, your smile. Even if it means I’m not the one who makes you happy, aku ikhlas, Kei”. Aku menundukkan kepalaku lebih dalam. Ah. Time sure flies so fast. But here I am, still stuck with you, memories of you and your words. Aku menghela nafas panjang dan mengangkat kepalaku. Perpustakaan sudah sepi kembali. Hanya tersisa beberapa orang yang entah memang ingin menyendiri atau yang memang membutuhkan bantuan dari buku-buku yang berada disini. Aku menutup buku tebal dihadapanku. Semua terasa sia-sia, aku dan kuliahku, aku dan hidupku, kosong. Harusnya kamu sedang berada di hadapanku, memperhatikanku menulis, membaca sebuah buku yang pada akhirnya kamu sendiri tidak tahu itu tentang apa. Ah, sudahlah. Aku membereskan buku-buku di hadapanku dan segera beranjak dari tempat dudukku. Payah. Baru sebentar saja sudah menyerah, batinku. Aku membuka loker yang berisi tas ransel dan jaketku, dan berjalan keluar sambil memasang headset di telingaku. “because none of them was ever worth the risk”, senandungku mengikuti lagu dari iPodku.

“You’re so small!” ucap seorang anak laki-laki berjaket biru di hadapanku. Siapa dia? Menyebalkan. Aku tetap berjalan melewatinya. “Hey! Tunggu! I was talking to you!” serunya mengejarku. Aku mempercepat langkahku. Siapa sih? “Keisha!” serunya lagi. Aku terdiam. Bagaimana dia bisa mengetahui namaku? Siapa dia? Aku mendengar deru nafasnya di belakangku. “Aku Rama. Mamamu menugaskanku untuk menjemputmu.” ucapnya menjulurkan tangannya. What? Menyebalkan. Kenapa aku harus pindah kesini sih? Belum apa-apa sudah ada anak aneh yang menegurku. Aku memandangi anak laki-laki itu. Dia lebih tinggi dari aku, tentu saja. Rambutnya berwarna hitam, sehitam bola matanya. Matanya seperti menenggelamkanku. Aku membuang mukaku dan berkata “Aku tidak butuh bantuanmu. Aku ingat jalan pulang kok!”. Dia tersenyum. “Aku tahu. Tapi mamamu memintaku untuk menjagamu” jawabnya lagi. “From what?” kataku sinis. “I don’t know. Everything, maybe. You may not believe me, but the second I saw your pictures, I knew I have to protect you” jawabnya diiringi senyuman. Bagaimana bisa? Anak berumur 10 tahun mengerti apa tentang protection? My dad who is older than you still didn’t know about the meaning of protection, he left us. Aku mendengus dan membalikkan badanku dan kemudian berjalan menuju jalan pulang. “Believe me, Keisha. Prince charming does exist!” serunya sambil mengejarku. Aku menghentikan langkahku lagi. “Then, prove it. I would like to see it.” tantangku. Lagi-lagi dia tersenyum, dan kemudian menggenggam tanganku. Aku hanya memperhatikannya, terdiam. Dia melangkahkan kakinya, kami bergandengan menuju rumah, sunyi, tenggelam dalam pikiran masing-masing.

Aku berhenti di sebuah taman di dekat rumahku. We used to play here a lot. Aku menduduki kursi taman sambil melihat ke arah laut. We are bestfriend. And bestfriend never lied to each other. Yet, you lied to me. Aku mengambil lembaran-lembaran kertas dari dalam ranselku. Surat-surat dari Rama. Surat-surat yang ditujukan untukku, tapi tak pernah diberikannya. Surat-surat yang membuatku sesengukan setiap malam, tiga tahun yang lalu. Dan, sekarang, setelah aku kembali ke kota ini, aku membacanya lagi, di taman yang penuh dengan kenangan kita berdua.

Dearest KeishaApa kabar? Bagaimana London? Kau jangan lupa makan ya! Aku tidak mau saat menyambutmu pulang kesini atau aku yang datang kesana, ketika aku memelukmu, kau sama sekali tidak berisi. Tidak usah ragu untuk memakan apa saja, while you were there, okay? Disana sedang musim panas, if I’m not mistaken, right? Kau jangan kepanasan, aku tidak ingin melihatmu berubah warna. Kau juga tidak boleh memakai summer dress, karena aku tahu, semua orang pasti akan memperhatikanmu. Kau kan, paling cantik memakai summer dress. Pokoknya tidak boleh ya! Ah, aku lupa mengatakan kabarku. Aku baik-baik saja, aku sedang berada di rumah sakit dan dipasangi oleh selang-selang yang membuatku tidak bisa bergerak. Don’t worry, ini hanya sebentar kok. Oya, aku menemukan seorang perawat yangbaik, juga cantik, kalau kau kesini akan ku kenalkan padanya. Tenang saja, kau tidak perlu cemburu, bagiku kau lebih berharga dari dia. Be good there. Stay healthy. I love you always.

My Keisha… Aku rasa aku tidak akan kesana untuk merayakan ulang tahunmu yang ke 21. Maafkan aku ya, padahal aku sudah berjanji, dan kau akan menunjukkan apartemenmu kan? Maafkan aku. Aku akan mentraktirmu ice cream cake di restoran Jamie Oliver atau Gordon Ramsay kesukaanmu itu! Crossed my heart. Oh ya, kau tidak boleh berpesta lebih dari jam 11 ya! Pokoknya tidak boleh, really Kei, big no! Jangan terlalu sering pulang malam, apalagi hanya untuk bersama laki-laki. AH. Seandainya aku bisa mengikutimu kesana, aku pasti benar-benar akan menjagamu. You’re my treasure. Kei, you still believe in prince charming, right? Don’t stop believing, Kei.

Kei? Bisakah kau datang? Seluruh tubuhku rasanya sakit. Pain killer saja tidak bisa menghentikannya. Aku membutuhkanmu, Kei. Tapi, apa yang akan kau katakan setelah melihatku seperti ini? I am so miserable, Kei. Without you here, feels like the pain sucking my soul too fast. Aku menjanjikanmu berbagai hal kan?  Maaf, tampaknya janji-janji itu tidak bisa kutepati. Maafkan aku, Kei. Membiarkanmu sendirian di hari ulang tahunmu. Membiarkanmu tinggal di London, tanpaku. Membiarkanmu… ah, aku sungguh bodoh Kei. Mana mungkin aku hanya menganggapmu sebagai adikku? Mana mungkin aku tidak melihatmu sebagai seorang wanita? Mana mungkin aku bisa bersikap biasa saja ketika kau mengatakan ‘I love you’. Ah, sungguh, maafkan aku, Kei.

Hai Kei. Kudengar dari mamamu kalau kau sedang berbahagia saat ini. Wish that man could make you happy forever, okay? Itukah laki-laki yang selalu kau ceritakan saat kau meneleponku? Itukah laki-laki yang selalu kau sebutkan namanya di email-mu? Itukah laki-laki yang selalu menjaga dan menemanimu disana? Semoga dia tidak akan pernah mengecewakanmu ya Kei. Don’t stop smiling Kei. You’re the best when you’re smiling.

Airmataku mengalir tanpa henti. Si bodoh ini. Aku menyandarkan tubuhku. Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan. Aku telah menyelesaikan studiku, dan melanjutkannya hanya untuk si bodoh ini. Tapi, entah mengapa setiap tanggal 21 di bulan September aku tidak bisa fokus. Aku menghapus airmataku. Si bodoh ini tidak tahu betapa sakitnya aku disana tanpanya. Betapa aku ingin kembali ke kota ini, hanya untuk memeluknya selama mungkin. Betapa aku begitu mencintainya, melebihi rasa cintaku pada Billy. Ah,seandainya dia menyadarinya. Aku menyibakkan rambutku sedikit untuk menarik kalung yang berada di leherku. Hadiah ulang tahun ke 21 darinya, ya, kadonya sampai tetapi tidak dengan suratnya. Berbandul liontin berwarna biru, warna favoritku. Disamping liontin itu ada sebuah benda bulat. Cincin. Cincin yang diberikan di saat-saat terakhirnya. 21 September 2009. Dia memasangkan cincin infinity itu di jariku manis tangan kiriku. Senyumnya yang menyejukkan dan sangat kusuka menghiasi wajahnya yang pucat dan kurus. Tangan yang biasanya besar dan menopangku saat aku sedih menjadi sangat kecil dan rapuh, menyentuh wajahku. Airmata yang berusaha kutahan saat melihatnya terbarik lemah hari itu, jatuhlah sudah. “I have no idea that being prince charming would be this hard, Kei. Don’t cry, please.” ucapnya sambil menghapus airmataku. Aku sesengukan dihadapannya. “No one told you to be one” jawabku ketus. Aku menggenggam erat tangan kecilnya yang rapuh. Aku memeluk tubuhnya yang sudah tidak six-pack lagi dan dipasangi selang-selang. “Do you know how much I love you, Kei?” tanyanya perlahan. Aku menganggukkan kepalaku di pelukannya. “Infinity times infinity” jawabku berlinang airmata. Aku mendengar dia tertawa dan mengelus rambutku. “Kei, will you marry me? Aku tahu ini bukan saat-saat yang kau inginkan ketika seseorang melamarmu….” kata-katanya terhenti ketika aku menatap wajahnya dan berkata “I will. Just…. Promise me you’ll be with me forever, and live happily ever after, with me”. Senyuman mengembang dari wajahnya. “Thank you Keisha. But, that promise? We both know it’s impossible.” jawabnya. “No. Believe, dammit. Believe! You said that to me before!” seruku tak mau kalah. “Kei… Stop it. All I want is your happiness, your smile. Even if it means I’m not the one who makes you happy, aku ikhlas, Kei” senyumnya. Aku masih berlinang airmata, dan tiba-tiba saja mesin penanda jantungnya berbunyi. Aku panik, semua orang panik, perawat-perawat dan dokter memasuki kamar Rama. Aku dipaksa keluar. Menangis dipelukan mamaku dan mamanya Rama. Sampai akhirnya dokter menundukkan kepalanya saat keluar dari pintu kamar Rama. Lemas.

21 September 2012. Aku menghapus sisa-sisa airmataku. Infinity times infinity, Rama. Suara handphone mengagetkanku. Terpampang sebuah nama dan sebuah foto di layar handphoneku. Billy. “Dinner is ready, sweetheart. Do you need more time?” tanya laki-laki bernama Billy. “No. I think I’m ready, I’m in the park. I will come right away” jawabku sambil mengusap hidungku. “Sheila is ready too, today she asked why is mom so late?” jelas Billy. “Sorry. Tell her I’m going home in ten minutes.” ucapku sambil tersenyum. “Be careful, Keisha” sahut Billy sebelum aku mematikan sambungan teleponnya. Aku memasukkan surat-surat dari Rama ke dalam ranselku lagi. Sebelum berdiri aku menghela nafas panjang. You’re so precious to me. I will never ever forget you, gumamku sambil berjalan menuju rumahku.

*another short story in Indonesian language :p*

-A-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s