Memory

Krincing.

Bunyi halus suara bel terdengar saat aku memasuki ruangan itu. Bau manis dan pahit berlomba memasuki hidungku. Khas sekali, pikirku. Seorang pelayan yang ramah penuh senyum menyapaku. Aku melayangkan pandanganku ke sudut sebelah kanan. Ah. Belum datang rupanya. Aku melangkahkan kakiku menuju meja di pojokan. Sang pelayan memberiku buku menu dan meninggalkanku sendiri. Kuletakkan buku menu di atas meja. Aku melayangkan pandanganku lagi ke segala penjuru kafe. Sepi. Kulirik jam yang berada di tangan kiriku, jarum panjang berada di angka 3, sedangkan jarum pendeknya berada di angka 11. Pantas saja masih sepi. Aku membuka buku menu yang berada di hadapanku. Beverages. Ya, kafe ini lebih dulu menyajikan beverages, dan kemudian meals. Pernah suatu ketika aku menanyakan pada pemilik kafe ini dan dia berkata “It is said cafe for reason, dear. We are primarily serving coffees, teas, and some alcoholic beverages. Jadi, idealnya sebuah kafe adalah tempat untuk minum, not to eat. If you want to eat, go to a restaurant then.” dengan gaya bicaranya yang khas. Aku tersenyum mengingat pertemuanku dengan Jean-Paul tiga tahun yang lalu. Chef dari Perancis yang jatuh cinta pada seorang gadis Indonesia, yang kemudian menetap di Indonesia, dan membuka sebuah kafe. Mataku menelusuri deretan beverages yang ditawarkan kemudian terhenti di nomer 11, Espresso Romano. Espresso with a twist of lemon and a bit sugar. Aku tersenyum. My favorite coffee in here. Aku membalik halaman selanjutnya, Tea. Kemudian halaman berikutnya, Alcohol. Dan halaman berikutnya, Pastry. Aku membaca deretan makanan yang ditawarkan. Aku tahu dan hafal betul akan makanan-makanan disini, hanya saja aku berharap Jean-Paul memasukkan nama-nama baru. Tampaknya aku harus menghapus harapanku, tidak kutemukan nama-nama asing di dalam buku menu. Akhirnya pilihanku pun kembali jatuh ke nomer 9, Jesuite. Aku mengangkat tangan kananku dan tersenyum pada pelayan yang dari tadi menungguku dipinggir bar. Dia menghampiriku dengan senyumnya “Seperti biasa, mbak?” tanyanya sambil menuliskan pesananku. Aku mengangguk. Dia mengambil kembali buku menu dari hadapanku dan berkata “Please wait five minutes for the coffee and ten minutes for the pastry”. Aku mengangguk lagi dan tersenyum. Pelayan itu berjalan menuju jendela di sebelah bar. Aku memalingkan wajahku ke sebelah kiriku. Hujan masih membasahi kotaku tercinta. Sendu. Syahdu. Handphoneku bergetar, memunculkan sebuah nama yang tidak asing dilayar. Aku mengangkat telepon yang kuanggap penting tersebut. ” Tere?” ucap suara diseberang telepon. “Ya?” jawabku balik bertanya. “Maaf, aku akan terlambat. Kau sudah sampai?” tanyanya lagi. “Aku sudah datang sepuluh menit lewat dari waktu perjanjian kita” ucapku. “Maaf, maaf, aku akan mentraktirmu Pain Au Chocolat” suara itu memelas. “Be careful on your way” kataku mengakhiri percakapan singkat itu. Pelayan yang tadi sedang berjalan menuju ke arahku dan membawa secangkir Espresso Romano-ku. “Ah, I’d like a french fries extra large” ucapku. Dia segera menuliskan pesananku. “Terimakasih” ucapku setelah dia akan beranjak dari tempatku. Ah, wangi Romano-ku menyeruak masuk kedalam hidungku. Aku memejamkan mata, membawaku pada memori yang telah lama tersimpan rapat.

Ah, Mon amour! Good timing!” ucap seorang laki-laki dengan aksen Perancis yang khas, kepadaku yang baru saja memasuki kafe tersebut. Beberapa pasang mata mengawasiku dari jauh. Aku melangkahkan kaki menuju bar dimana lelaki berambut keemasan itu berada. “Here, taste this one…” ucapnya ketika aku sudah duduk di kursi bar sambil memberiku secangkir kopi dengan lemon dipinggirnya. Aku mengaduk kopi itu dan kemudian menyeruputnya sedikit. “Pahit. And…. weird. What’s this?” komentarku setelah meminum kopi itu. Jean-Paul tertawa. “Mon amour, tu me rends heureux.” ucapnya dalam bahasa Perancis. “Berhenti memakai bahasa Perancis, Jean-Paul. I don’t know every word..” gerutuku yang diiringi dengan senyumannya. “It means, you make me happy, my love” katanya menerjemahkan ucapannya. Aku tersenyum. “Ini Espresso Romano. Yang membuatnya khas adalah lemon dan sedikit sugar” sambungnya menjelaskan tentang kopi yang barusan aku minum. “Espresso Romano? From Italy?” tanyaku penasaran. “Oh, non, non non. It’s just the name” ucapnya mengklarifikasi pengetahuanku. “You should sip it a little more, belle. Dan rasanya akan lebih nikmat” jelasnya lagi. Aku mengikuti sarannya. Aku meneguknya lagi, kali ini lebih banyak. Kemudian aku tersenyum ke arahnya. “See? Itu adalah menu terbaru, dan kamu orang pertama yang merasakannya. Congratulation.” ucapnya senang. “Still, I want cappuccino with a cat on it” pintaku. Itu adalah pesanan dan kopi favoritku. “Il est en route.” katanya sambil mengambil sebuah cangkir di rak. Mataku mengamati gerak-gerik Jean-Paul tanpa bosan. Sesekali dia melirikku dan mengedipkan matanya. Senyumku makin lebar. “Taraaaa” ucapnya setelah secangkir cat-puccinoku jadi, dan memeragakan seperti seorang magician.Merci, monsieur” aku menganggukkan kepalaku. “It’s my pleasure, madame” balasnya sambil mengecup pergelangan tanganku.

Memori itu buyar ketika aku mendengar suara bel berbunyi dan suara langkah kaki mendekat. Ah. Pelayan itu. Dia tersenyum dan mengantarkan Jesuite-ku. Aku berterimakasih dan meminum Romano-ku.  Masih sama seperti dulu. Pahit dan aneh, tetapi ada rasa yang terselip disana, manis. Kafe sudah mulai ramai dan orang yang membuat janji denganku pun masih belum datang juga. Hujan masih mengalir deras tanpa henti. Kuedarkan pandanganku ke setiap sudut kafe. Ah. Hangatnya bila berdua, batinku. Ada pasangan yang sedang melihat menu, ada yang sedang melemparkan pandangan penuh cinta, ada yang sedang tenggelam dalam pembicaraan yang (menurutku) sangat dalam, ada yang sedang menyenderkan kepalanya di bahu pasangannya. Sebuah lagu mengalun pelan. Ah. Hujan dan romantisme memang sulit dipisahkan. Kedua hal itu akan menimbulkan sebuah rindu. Sesuatu yang bila dibiarkan terlalu lama akan membuat lubang di hati semakin membesar. Aku memotong Jesuite di atas mejaku dan menyuapkannya ke dalam mulutku. Garing. Dan lembut. Aku menatap handphone yang kutaruh di atas meja, kutekan tombol home di handphoneku, yang kemudian membuat sebuah foto terlihat. Aku tersenyum kecut. Tu me manques, gumamku sambil diiringi suara penyanyi solo tersebut, “you’re always there, you’re everywhere, but right now I wish you were here”. 

*I am sorry, I wrote this in Indonesian. It was a short story I wrote back then in my phone.*

-A-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s